Semua artikel oleh admin

Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2022, Berlaku Efektif 1 April

ALFIJAK – Buku Tarif Kepabeanan Indonesia yang diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan nomor 26/PMK.010/2022 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor dan akan mulai berlaku efektif pada 1 April 2022.

Buku Tarif Kepabeanan Indonesia atau biasa disingkat BTKI ini merupakan suatu dokumen yang berisi struktur klasifikasi barang lengkap dan tarif bea masuk pajak impor.

Seperti dituturkan oleh Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai Nirwala Dwi Heryanto, “Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) merupakan suatu dokumen yang berisi struktur klasifikasi barang lengkap dengan pembebanan tarif bea masuk dan pajak impor yang digunakan secara luas baik oleh pemerintah, swasta dan organisasi internasional.”

“BTKI memuat sistem klasifikasi barang yang berlaku di Indonesia,” kata Nirwala dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman resmi Kemenkeu pada Senin, 4 April 2022.

Klasifikasi tersebut meliputi ketentuan untuk Menginterpretasi Harmonized System (KUMHS), catatan, dan struktur Klasifikasi Barang yang disusun berdasarkan  Harmonized System (HS) dan ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN).

Dalam BTKI 2022 terdapat beberapa perubahan yang cukup mendasar dibandingkan pada BTKI 2017, yaitu pada bab 1 hingga 97 BTKI 2022 terdapat 11.414 pos tarif dari yang sebelumnya hanya 10.813 pos tarif.

“Sementara, pada bab 98 dan 99 bertambah menjadi 138 pos tarif dari yang sebelumnya 28 pos tarif,” ujar Nirwala.

Penambahan subpos-subpos dalam AHTN 2022 menampung kepentingan strategis industri dan perdagangan Indonesia, antara lain produk batik, tekstil, CPO, pertanian, serta ikan dan produk perikanan. Yang sebelumnya tidak ada di AHTN 2017.

Kemudian juga alat bantu pernapasan atau ventilator, hospital bed, dan beberapa alat kesehatan, produk terkait pengembangan industri kendaraan listrik yaitu motor listrik dan baterainya, serta kendaraan bermotor, sepeda listrik, dan produk sejenis.

Setiap lima tahun sekali, secara berkala, BTKI selalu diperbaharui untuk menyesuaikan dengan perubahan pola perdagangan dan situasi dunia terkini.

Selain itu, perubahan BTKI 2022 ini dirancang untuk mengakomodasi kelancaran arus barang sebagai bagian dari penataan ekosistem logistik nasional. Terkait kebijakan fiskalnya, diharapkan pengenaan tarif yang telah disusun dapat tepat sasaran.

Begitu juga dengan kebijakan non fiskal seperti lartas, untuk melindungi industri dalam negeri dan kepentingan nasional.

Dalam BTKI 2022, pemerintah juga memasukan skema khusus untuk memberikan insentif dalam rangka pengembangan industri galangan kapal, yakni bea masuk 0 persen untuk 111 pos tarif komponen industri galangan kapal yang sebelumnya dikenakan tarif antara 5 persen hingga 15 persen.

“Hal ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam paket kebijakan ekonomi untuk pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik nasional,” kata Nirwala.

Secara garis besar, implementasi BTKI merupakan wujud dari tugas dan fungsi Bea Cukai dalam aspek revenue collection yang digunakan untuk keperluan pemungutan bea masuk, bea keluar, maupun pajak dalam rangka impor.

Dari aspek industrial assistance, BTKI berfungsi untuk memudahkan dalam pemberian asistensi industri, misalnya penentuan komoditas yang dibebaskan bea masuknya dan bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP).

“Dengan diimplementasikannya BTKI 2022, diharapkan dapat memfasilitasi perdagangan internasional dengan mempermudah proses impor dan ekspor serta proses pertukaran data,” ujar Nirwala.(*)

Kelangkaan Solar Ganggu Aktivitas Logistik, Pebisnis Butuh Solusi Cepat

ALFIJAK – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar di wilayah Sulawesi dan Kalimantan serta di sejumlah wilayah Sumatera, perlu segera dicarikan solusinya.

Selain mengakibatkan terhambatnya kinerja layanan logistik dan transportasi, kondisi kelangkaan BBM jenis Solar itu berimbas pada terganggunya aktivitas perekonoman nasional.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, asosiasinya banyak menerima keluhan dari pelaku usaha logistik di daerah antara lain; Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera prihal kelangkaan BBM jenis Solar tersebut.

“Pemerintah maupun PT Pertamina dan pelaku usaha terkait perlu duduk bersama untuk mencarikan solusinya yang ter<span;>baik, jika perlu subsidi terhadap BBM jenis Solar tersebut dihapuskan saja supaya pelaku usaha bisa memperoleh kepastian dan bisa bekerja normal,” ucap Yukki melalui keterangan pers-nya, pada Selasa (29/3/2022).

Yukki mengungkapkan, berdasarkan yang dialami para pelaku usaha logiatik di wilayah itu saat ini sudah dalam kondisi kritis karena pasokan BBM jenis Solar sangat menipis, bahkan mereka tidak berani mengeluarkan armadanya lantaran harus antri bisa sampai berhari-hari untuk memperoleh BBM tersebut.

“Seharusnya ada penyaluran BBM Solar bersubsidi bisa dipastikan jaminan ketersediaanya. Jangan sampai BBM jenis itu digunakan tidak sesuai peruntukannya. Saat ini kebanyakan digunakan oleh kendaraan pengangkut sawit maupun pertambangan yang semesti tidak mendapatkan jatah subsidi,” ucap Yukki.

PT Pertamina mencatat angka konsumsi bahan bakar minyak jenis solar subsidi melonjak cukup signifikan seiring pulihnya aktivitas masyarakat dan industri di dalam negeri. Saat ini perseroan telah memastikan stok dan menjamin terjaganya proses distribusi solar subsidi di lapangan secara maksimal.

PT Pertamina juga akan berfokus kepada pelayanan logistik dan jalur-jalur distribusi konsumen untuk mengatasi kelangkaan solar subsidi yang kini melanda sejumlah wilayah.

“Stok Solar subsidi secara nasional di level 20 hari dan setiap hari stok ini sekaligus proses penyaluran ke SPBU terus dimonitor secara real time. Namun perlu diketahui secara nasional per Februari penyaluran solar subsidi telah melebihi kuota sekitar 10 persen,” ujar Pejabat Sementara Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, melalui keterangan pers-nya baru-baru ini.

Diapun meminta masyarakat untuk tidak panik berbelanja dan membeli bahan bakar sesuai kebutuhan.

Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, pengguna yang berhak atas solar subsidi untuk sektor transportasi adalah kendaraan bermotor plat hitam untuk pengangkut orang atau barang, kendaraan bermotor plat kuning kecuali mobil pengangkut hasil tambang dan perkebunan dengan roda lebih dari enam, kendaraan layanan umum (ambulans, pemadam kebakaran, pengangkut sampah), kapal angkutan umum berbendera Indonesia, kapal perintis, serta kereta api penumpang umum dan barang.

Untuk memastikan agar pengguna yang berhak atas solar subsidi bisa dipahami masyarakat, Pertamina bersama seluruh stakeholder dan pemerintah melalui BPH Migas akan terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi mengenai regulasi yang telah dibuat mengenai penyaluran solar subsidi.(*)

Industri Pengolahan Sawit Berorientasi Ekspor & Padat Karya

ALFIJAK – Industri pengolahan sawit sebagai salah satu sektor unggulan yang menopang perekonomian nasional. Kinerja ini dibuktikan antara lain melalui kontribusinya sebesar 17,6% terhadap total ekspor nonmigas pada tahun 2021.

“Pada tahun 2021, ekspor produk sawit sekitar 40,31 juta ton dengan nilai ekspor USD35,79 miliar, meningkat sebesar 56,63% dari nilai ekspor tahun 2020,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, baru-baru ini.

Selain itu, industri pengolahan sawit merupakan sektor padat karya, yang telah menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 4,20 juta orang dan pekerja tidak langsung hingga 12 juta orang.

“Peran penting lainnya, industri sawit juga turut menciptakan kemandirian energi melalui biodiesel sehingga menghemat devisa dan berdampak positif terhadap lingkungan,” imbuh Febri.

Program mandatory biodiesel ini juga konsisten dijalankan karena berdampak positif bagi perekonomian.

Sepanjang tahun 2021, program B30 bermanfaat pada pengurangan impor BBM Diesel sebesar 9,02 juta kiloliter. Ini artinya menghemat devisa sekitar USD4,54 miliar atau Rp.64,45 Trilliun. Program B30 juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sekitar 24,4 juta ton setara CO2.

Menurut Febri, hilirisasi industri berbasis kelapa sawit merupakan salah satu keberhasilan dari kebijakan pemerintah sejak tahun 2007 yang menetapkan sektor ini sebagai program prioritas secara konsisten sampai tahun 2022.

Di samping itu, dalam kurun 10 tahun, ekspor produk turunan kelapa sawit meningkat signifikan, dari 20% di tahun 2010 menjadi 80% pada 2020. Hal ini sesuai target peta jalan pengembangan industri hilir kelapa sawit yang diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian No 13 Tahun 2010.

Bahkan, saat ini terdapat 168 jenis produk hilir CPO yang telah mampu diproduksi oleh industri di dalam dalam negeri untuk keperluan pangan, fitofarmaka/nutrisi, bahan kimia/oleokimia, hingga bahan bakar terbarukan/biodiesel FAME. Sementara pada tahun 2011, hanya ada 54 jenis produk hilir CPO.

Realisasi produksi MGS tahun 2021 mencapai 20,22 juta ton digunakan untuk memenuhi dalam negeri sebesar 5,07 juta ton (25,07%) dan sisanya sebesar 15,55 juta ton (74,93%) untuk tujuan ekspor.

“Dengan angka produksi demikian, kemampuan pasok industri MGS jauh di atas kebutuhan dalam negeri dan menciptakan penerimaan devisa negara yang sangat besar,” ujar Febri.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan minyak goreng sawit (MGS) nasional tahun 2021 sebesar 5,07 juta ton, terdiri dari kebutuhan curah industri sebesar 1,62 juta ton (32%), curah rumah tangga 2,12 juta ton (42%), kemasan sederhana 0,21 juta ton (4%), dan kemasan premium 1,11 juta ton (22%).

Pemenuhan kebutuhan MGS curah sebesar 1,62 juta ton untuk industri makanan pengguna bahan baku dan/atau bahan penolong MGS kecil kemungkinan menggunakan MGS curah hasil Domestic Market Obligation (DMO) karena biasanya disuplai oleh pabrik MGS milik grupnya dengan harga pasar atau membeli dari pabrik MGS dengan mekanisme Business to Business (B2B).

“Kami meyakini industri makanan pengguna MGS tidak menggunakan MGS hasil DMO,” ujar Febri.

Selain itu, masalah kekosongan pasar MGS merupakan akumulasi dari permasalahan persediaan atau stok MGS sejak bulan Desember 2021, termasuk terjadinya rush buying pada pertengahan bulan Januari 2022.

Hal ini diperkirakan berkontribusi pada kelangkaan MGS di pasar, meskipun pada beberapa minggu terakhir dilakukan tambahan pasokan MGS ke masyarakat hasil perolehan DMO.

“Industri makanan dan minuman juga terus berkomitmen untuk menggunakan Minyak Goreng Sawit (MGS) yang sesuai dengan peruntukannya,” ujar Ketua Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman.

Lebih lanjut, Adhi menjelaskan, industri makanan yang membutuhkan MGS sebagai bahan baku atau bahan penolong, seperti industri mi instan, industri makanan ringan, dan industri ikan dalam kaleng, membeli MGS dengan mekanisme B2B dengan harga pasar.

“Khusus untuk industri makanan skala UMKM dan/atau IKM masih diperbolehkan membeli MGS dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai Pasal 4 ayat (2) Permendag No. 6 Tahun 2022 tentang Penetapan HET MGS,” ujarnya.(*)

Ekspor Impor Melejit, Ativitas Logistik Tumbuh

ALFIJAK – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) meyakini aktivitas logistik sepanjang 2022 akan terus tumbuh meskipun ditengah situasi Pandemi Covid-19 yang belum berakhir akibat varian baru Omicron.

Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi, mengungkapkan jika dibanding tahun lalu (2021) pada tahun ini, diprediksikan kegiatan logistik akan terus tumbuh.

“Kami pelaku usaha logistik optimistis dengan pertumbuhan itu. Apalagi neraca perdagangan kita juga masih surplus sepanjang Januari 2022 jika dibanding periode yang sama tahun lalu. Begitupun dengan ekspor impor di awal tahun 2022 juga masih beranjak naik ketimbang periode yang sama tahun lalu,” ujar Yukki pada Rabu (16/2/2022).

Namun, menurut Yukki, pelambatan arus logistik kemungkinan akan terjadi sesaat pada tiga pekan menjelang Lebaran Idul Fitri, dan kemudian akan naik lagi sampai dengan Januari 2023.

Yukki yang juga Chairman Asean Freight Forwarders Association (AFFA) itu mengatakan saat ini pola bisnis dan perdagangan juga telah berubah. Bahkan, kalangan industri telah melakukan berbagai perubahan dalam aktivitasnya lantaran mereka tidak hanya melihat dari sisi logistik tetapi juga rantai pasok.

“Oleh sebab itu transformasi digital yang dilakukan sektor logistik merupakan sebuah keharusan dan dinilai bisa menjadi katalis untuk bisa bertahan hingga melakukan berbagai ekspansi terutama selama pandemi Covid-19,” ujar Yukki Nugrahawan Hanafi.

Sebagai pelaku usaha logistik, Yukki mengapresiasi berbagai upaya dan langkah yang telah dilakukan Pemerintah RI guna mendongkrak kinerja perdagangan dan industri maupun investasi di tanah air sehingga hal itupun berimbas pada pertumbuhan aktivitas logistik ekspor impor nasional.

Berdasarkan data <span;>Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa nilai ekspor Indonesia pada Januari 2022 mencapai US$19,16 miliar atau tumbuh 25,31% jika dibandingkan dengan periode Januari 2021.

Adapun ekspor nonmigas pada Januari 2022 mencapai US$18,26 miliar, atau naik 26,74 persen dibanding ekspor nonmigas pada Januari 2021.

Ekspor nonmigas Januari 2022 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$3,51 miliar, disusul Amerika Serikat US$2,56 miliar dan Jepang US$1,51 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,57 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$3,34 miliar dan US$1,70 miliar.

Adapun menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2022 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$3,11 miliar (16,21 persen), diikuti Jawa Timur US$1,88 miliar (9,81 persen), dan Riau US$1,73 miliar (9,05 persen).

Sedangkan  nilai impor Indonesia pada Januari 2022 mencapai US$18,23 miliar, atau naik 36,77 persen jika dibandingkan pada Januari 2021.

Impor migas Januari 2022 senilai US$2,23 miliar, atau naik 43,66 persen dibandingkan Januari 2021. Impor nonmigas Januari 2022 senilai US$16,00 miliar, atau naik 35,86 persen dibandingkan Januari 2021.

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2022 adalah Tiongkok US$5,85 miliar (36,55 persen), Jepang US$1,39 miliar (8,67 persen), dan Thailand US$0,93 miliar (5,84 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$2,75 miliar (17,17 persen) dan Uni Eropa US$0,94 miliar (5,84 persen).(*)

ALFI Jakarta Serahkan Bantuan untuk Korban Erupsi Semeru

ALFIJAK – Sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban erupsi gunung Semeru, para pengusaha logistik dan forwarder yang tergabung dalam Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Provinsi DKI Jakarta melakukan penggalangan dana untuk meringankan dan membantu para korban.

Erupsi Gunung Semeru pada awal Desember 2021 lalu menyisakan dampak korban jiwa, termasuk kerusakan fisik infrastruktur dan rumah warga sekitar maupun pengungsian.

Ketua Umum DPW ALFI DKI Jakarta, Adil Karim, mengatakan, p<span;>enggalangan dana tersebut dilakukan selama sebulan yakni sejak Desember 2021 s/d 31 Desember 2021 yang dikordinasikan melalui WhatsApp Group anggota ALFI DKI Jakarta, dan terkumpul dari Pengurus serta Anggota sebesar Rp.105 juta.

Bantuan dari Pengurus dan Anggota DPW ALFI DKI Jakarta tersebut diterima oleh Bupati Lumajang, Thoriqul Haq S.Ag MML yang diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lumajang Drs Basuni dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Patria  Selain itu juga disaksikan Wakil Ketua II Baznas Kabupaten Lumajang, Puji Ardhi

“Kami mohon jangan dilihat nominalnya, semoga bantuan yang kami (ALFI DKI) serahkan ini bisa meringankan masayarakat yang terdampak dan menjadi korban erupsi Semeru,” ujar Adil Karim saat menyerahkan bantuan tersebut secara simbolis kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, di Ruang Rapat Terbatas Kantor Bupati Lumajang Provinsi Jawa Timur pada Jumat (4/2/2022).

Penyerahan secara simbolis itu juga dihadiri dan disaksikan langsung oleh Sekretaris Umum DPW ALFI DKI Jakarta Fauzan A Musa, Wakil Ketua Umum bidang Organisasi Rifan Zamroni, Ketua Komite Tetap (Komtap) bidang Logistik & Pergudangan Tommy Darmawan, dan Wakil Komtap bidang Logistik Eka Triyadi.

Pada kesempatan itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lumajang Drs Basuni menyampaikan apresiasi serta terimakasih kepada ALFI DKI Jakarta yang turut peduli dan menyampaikan empatinya untuk para korban erupsi gunung Semeru.

“Sampai hari ini ada 62 orang yang telah teridentifikasi meninggal dunia dampak erupsi Semeru tersebut. Bantuan dari ALFI DKI Jakarta ini akan kami salurkan langsung ke masyarakat yang menjadi korban erupsi tersebut, ” ujar Basuni.

Sebagai informasi, selama ini ALFI juga aktif berkordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam membantu pergerakan/distribusi barang bantuan saat Pandemi Covid-19 di Indonesia dengan melibatkan sejumlah perusahaan anggota ALFI.

Selain itu juga aktif dalam penyaluran donasi bantuan seperti ke Palu dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia.(*)

ALFI: Kebutuhan Peak Season Truk Logistik jadi Acuan

ALFIJAK –  Pengelola Terminal Peti Kemas di pelabuhan Tanjung Priok perlu menghitung jumlah kebutuhan ideal armada truk logistik pengangkut peti kemas yang mesti comply STID, termasuk kondisi kereta tempelannya yang  mengikuti aturan tersebut.

Single Truck Identity Document (STID) telah di implementasikan sejak 1 Januari 2022 di Pelabuhan Tanjung Priok.

Ketua DPW ALFI DKI Jakarta, Adil Karim mengungkapkan penghitungan ideal kebutuhan truk logistik itu mesti mengacu pada data pergerakan trucking khususnya pada saat peak season atau saat hari-hari sibuk pelayanan yakni pada Kamis, Jumat dan Sabtu.

“Saat peak season itu perlu ada report oleh pengelola terminal peti kemas, berapa kebutuhan rata-rata trucking yang keluar masuk Pelabuhan,” ujar Adil  pada Senin (31/1/2022).

Saat ini, di Pelabuhan Tanjung Priok terdapat lima fasiitas terminal peti kemas yakni Jakarta International Container Terminal (JICT),TPK Koja, New Priok Container Terminal-One (NPCT-1), Terminal Mustika Alam Lestari (MAL), dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut Adil, saat peak season menjadi indikator kepadatan pergerakan truk logistik lantaran mendekati clossing time ekspor dan pergerakan dellivery importasi juga meningkat.

“Jadi menghitung berapa kebutuhan trucking pendekatannya saat peak season, berapa kebutuhan angkutan truk untuk ekspor maupun impor disaat peak season itu. Sebab pada hari Senin s/d Rabu pada umumnya masih slow,” ucapnya.

Saat dimintai tanggapannya soal berapa kebutuhan ideal trucking pengangkut peti kemas yang comply dengan STID di Priok, Adil Karim menyebut minimal sebanyak 12 ribuan unit jika mengacu pada throughput peti kemas di pelabuhan Priok yang rata-rata 6,5 s/d 7 juta twenty foot equivalent units (TEUs) pertahun.

“Kalau melihat pergerakan througput pertahun, minimal 12 ribuan truk yang mesti comply STID di Priok,” ucap Adil Karim.

Berdasarkan Laporan Penerapan STID di Pelabuhan Tanjung Priok, hingga Minggu 30 Januari 2022, jumlah trucking di pelabuhan Tanjung Priok yang telah mengantongi Single Truck Identity Document (STID) sebanyak 11.087 Truk.

Namun dari jumlah itu, terdapat STID Sementara (STID-S) yang disetujui sebanyak 996 Truk.

Sebagaimana diketahui bahwa pemegang STID-S hanya bisa dipergunakan sampai dengan akhir Maret 2022. Setelah itu kalau tidak melakukan upgrade ke STID yang permanen, maka Trucking pemegang STID-S tidak bisa lagi terlayani oleh system di terminal pelabuhan.

Adapun jumlah perusahaan yang telah disetujui PMKU (Permohonan Melakukan Kegiatan Usaha) di Pelabuhan Tanjung Priok hingga 30 Januari 2022, sebanyak 700 Perusahaan.

Sedangkan Perusahaan yang mengajukan STID hingga 29 Januari 2022 tercatat 528 Perusahaan dan jumlah perusahaan yang telah disetujui STID-nya 513 Perusahaan.

Adapun jumlah kartu STID yang dicetak dan telah didistribusikan hingga Sabtu 29 Januari 2022 telah mencapai 10.880 kartu.(*)

Aktivitas Logistik Tumbuh Positif Menjelang IMLEK

ALFIJAK – Pelaku bisnis logistik mengungkapkan, geliat ekspor impor sudah mulai dirasakan sejak memasuki awal tahun 2022 ini dan diprediksi akan terus berlangsung hingga hari raya Imlek atau Chinese New Year.

Kendati begitu, biaya logistik ekspor masih dirasakan cukup tinggi seperti tujuan Amerika Serikat maupun Europe lantatan terkendala slot kapal kontainer yang terjadi sejak tahun lalu.

“Jika mengacu pada data BPS, nilai ekspor RI pada 2021 mengalami kenaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Harapannya masih optimistis tahun 2022 inipun bisa tetap tumbuh,” ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi, kepada wartawan, Senin (24/1/2022).

Indikator pertumbuhan ekspor, imbuhnya, juga terjadi sejak awal Januari 2022 dimana aktivitas pada sejumlah pelabuhan utama di tanah air cukup padat, bahkan di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta hampir setiap harinya jalur distribusi dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu tak luput dari kemacetan.

“Berdasarkan informasi yang diperoleh ALFI, pelabuhan lainnya seperti di Semarang Jawa Tengah, Surabaya Jawa Timur, Belawan Sumut dan Makassar juga cenderung mengalami peningkatan aktivitas ekspor maupun impor menjelang hari raya Imlek tersebut,” ucapnya.

Namun, kata Yukki, jika ongkos pengapalan atau freight kontainer ekspor ke beberapa negara tujuan seperti Amerika Serikat dan Europe terus mengalami kenaikan dan tidak bisa dikendalikan seperti saat ini, justru akan berdampak negatif bagi kelangsungan perdagangan secara global, bukan hanya di Indonesia.

“Memang ada peningkatan ekspor pada tahun 2021, yakni komoditi migas dan nonmigas dan terus kita lihat lagi bagaimana dengan komoditi batu bara dan CPO. Kemudian untuk yang ekspor menggunakan kontainer seperti  manufaktur electronik, automotive, furniture , textile, sepatu, serta komoditi makanan minuman. Ekspor untuk kendaraan juga mengalami peningkatan pada tahun lalu,” jelasnya.

Yukki mengatakan, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2021 mencapai US$231,54 miliar atau naik 41,88 persen dibanding periode yang sama tahun 2020. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$219,27 miliar atau naik 41,52 persen.

BPS merilis, berdasarkan sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2021 naik 35,11 persen dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 2,86 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 92,15 persen.

Adapun menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Desember 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$33,86 miliar (14,62 persen), diikuti Kalimantan Timur US$24,32 miliar (10,50 persen) dan Jawa Timur US$23,00 miliar (9,94 persen).

Sedangkan untuk impor pada tahun 2021, berdasarkan data BPS menyebutkan, menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Desember 2021 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi US$5.529,5 juta (37,73 persen), bahan baku/penolong US$44.174,2 juta (42,80 persen), dan barang modal US$4.924,1 juta (20,77 persen).

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Desember 2021 adalah Tiongkok US$55,74 miliar (32,66 persen), Jepang US$14,61 miliar (8,56 persen), dan Thailand US$9,08 miliar (5,32 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$29,31 miliar (17,17 persen) dan Uni Eropa US$10,97 miliar (6,43 persen).(*)

ALFI: Keterbatasan Slot Kapal jadi Kendala Ekspor

ALFIJAK – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai logistik ekspor masih terkendala dengan ketersediaan slot kapal (availability space) dan harga yang masih sangat tinggi dibandingkan sebelum pandemi pada 2022.

Wakil Ketua Umum ALFI Trismawan Sanjaya menjelaskan kendala logistik global perkiraan dari para pelaku usaha tidak akan selesai hingga akhir 2022 karena beberapa kondisi terakhir yang terjadi seperti mutasi Omicron yang daya penularannya sangat cepat. Kemudian, ekonomi global diperkirakan masih belum pulih ke situasi normal saat sebelum pandemi.

“Juga ditambah dengan dampak penguatan logistik regional dalam bentuk aliansi maupun afiliasi seperti yang dilakukan oleh pengusaha pelayaran dan logistik di eropa sehingga pengendalian akan lebih lagi dilakukan oleh mereka,” ujarnya, baru-baru ini.

Sementara itu terkait dengan permasalahan ketersediaan kontainer maupun ketersediaan ruang muat kapalnya baik untuk keperluan perdagangan global maupun nasional, ALFI lebih mendorong pemerintah dalam mendukung sebanyak-banyaknya pelayaran nasional dapat melakukan layanan pengapalan ke tingkat global (ocean going).

“Evaluasi ekspor 2022 tetap akan bertumbuh positif walau tidak mampu memanfaatkan secara maksimal kebutuhan pasar global yang ada akibat terbatasnya ruang muat kapal [shortage container],” ujarnya.

Trismawan menyebutkan antisipasi ALFI terhadap anggotanya terhadap sejumlah proyeksi pada 2022 adalah dengan memberikan sosialisasi dampak dari disrupsi industri yang terjadi, kemudian menjembatani dalam pemanfaatan teknologi digital yang efektif untuk menunjang kapasitas usahanya.

Pakar Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh November Saut Gurning menilai pelaku mengharapkan adanya potensi pemulihan pergerakan yang lebih baik pada 2022 walau masih ada ketidakpastian. Tetapi, isu Omicron menambah kondisi ketidakpastian tersebut.

“Virus Omicron kemungkinan mereduksi potensi <span;>bouncing-backnya<span;>. Untuk penutupan total saya kira mungkin tidak Mbak ya. Kemungkinan, cenderung ada pembatasan untuk pergerakan penumpang saja, karena sangat sensitif akibat pencegahan varian baru selain varian Delta,” terangnya.

Sementara untuk pergerakan kargo, Saut berpendapat kemungkinan juga akan terganggu karena adanya kemungkinan mobilitas ekonomi atau perdagangan lewat laut karena disrupsi varian baru bagi industri manufaktur di berbagai asal-tujuan barang global. Khususnya di negara-negara yang sedang menghadapi timbulnya omicron di negaranya.

Sementara itu, pada Kamis (13/1/2022) Pelabuhan Tanjung Priok kedatangan Kapal Terbesar MV MSC Tianshan yang sandar di Terminal 3, IPC Terminal Petikemas.

Kapal Terbesar, dengan LOA 334 Meter tersebut diageni oleh PT Perusahaan Pelabuhan Nusantara Panurjwan, dan membongkar 1702 boxes atau equivalent sekitar 3394 Teus dan akan memuat 103 Boxes atau sekitar 2442 Tonase.

Kapal MV MSC Tianshan bertolak dari Umm Qasr Port, Irak dengan tujuan Qingdao, China.

Menurut Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Capt Wisnu Handoko, ship call MV. Tianshan bisa menjawab kondisi kelangkaan kontainer yang terjadi akhir-akhir ini.

Wisnu berharap agar para eksportir dapat memanfaatkan ketersediaan kontainer ini dengan baik untuk melakukan pengiriman muatan.(***)

Industri Logistik 2022 Diyakini Tetap Tumbuh

ALFIJAK – Industri logistik diyakini tetap tumbuh sepanjang 2022 meski menghadapi banyak tantangan. Pertumbuhan sektor logistik bisa terjadi signifikan bila penguatan dan perluasan segmen pasar dilakukan para pelaku industri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan mengatakan, penguatan dan perluasan segmen pasar bisa dilaksanakan di beberapa sektor atau komoditas, dengan melihat volume dan tingkat pertumbuhan yang baik untuk 2022.

“Pertumbuhan 2022 nanti bisa dilihat pada dua sektor, pertama dari sisi market yang telah terintegrasi dengan digitalisasi, dan kedua adalah logistik yang sifatnya penting dan menjadi komoditas utama dalam mendongkrak penerimaan negara,” kata Akbar dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (4/1/2022).

Menurutnya, ada dua strategi yang harus dimiliki para pelaku usaha di sektor logistik sepanjang 2022. Pertama, pebisnis di sektor ini harus melakukan digitalisasi layanan. Berbagai perkembangan teknologi harus dipahami dan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku usaha.

Perkembangan teknologi yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha sektor logistik di antaranya<span;>big data analytics, artificial intelligence, internet of things, cloud logistics, serta robotics & automation.

“Kedua, strategi tata kelola manajemen perusahaan yang baik agar setiap penyedia jasa logistik meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam melakukan kegiatan usaha dengan peningkatan kapabilitas dan kompetensi SDM,” kata CEO Krakatau International Port ini.

Akbar juga memprediksi pada 2022 ini masih akan terjadi kenaikan harga angkutan logistik laut. Kondisi ini disebutnya akan bertahan hingga 2023. Menurutnya, kenaikan harga angkutan logistik terjadi akibat disrupsi perdagangan dan kegiatan ekonomi karena pandemi Covid-19..

“Jadi harga tarif untuk pengangkutan barang lintas negara secara global diperkirakan masih tetap tinggi, hal ini berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan juga sejalan dengan naik turunnya harga komoditas, sehingga penyedia jasa harus beradaptasi dengan perubahan pola bisnis dan perilaku pasar,” katanya.(*)