Arsip Tag: Layanan Logistik

Logistik & Industri Berkolaborasi, Pacu Ekspor dan Investasi

SOLO- Alfijak: Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, mendorong kolaborasi logistik dengan industri guna meningkatkan investasi dan ekspor serta mengurangi impor.

Hal itu disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimpas) DPP ALFI/ILFA di Solo,Jawa Tengah (22/11/2019).

Menhub mengatakan, ALFI sebagai mitra strategis pemerintah, telah berperan dalam pembangunan di sektor transportasi barang dan logistik secara nasional maupun internasional.

Rapimnas ALFI bertema “Langkah Strategis Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan SDM dalam rangka mendorong investasi dan ekspor” itu dihadiri Dewan Pengurus Wilayah (DPW) ALFI/ILFA seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua.

“Saya apresiasi tema Rampinas tersebut sangat tepat, karena sesuai dengan kondisi yang dihadapi bangsa saat ini,” ucap Budi Karya.

Untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan RI saat ini, kata Menhub adalah melalui peningkatan ekspor dan mengurangi impor.

“Dengan begitu kinerja logistik nasional akan semakin membaik sehingga bisa meningkatkan investasi,” tandasnya.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Kordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.

Menurut Bahlil, kontribusi ALFI sebagai organisasi yang mengkordinir para pengusaha logistik nasional sangat strategis dalam membangun perekonomian bangsa.

Diapun berharap ALFI dapat berperan mengurai problem yang dihadapi khususnya yang berkaitan dengan aktivitas di pelabuhan, angkutan darat dan logistik di Indonesia.

Ketua Umum DPP ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan kolaborasi pelaku usaha logistik dan industri serta perguruan tinggi akan meningkatkan kinerja logistik nasional sehingga dapat mendorong investasi dan menambah daya saing ekspor komoditas unggulan di pasar global.

Menurutnya, kolaborasi seperti itu dapat memungkinkan untuk membangun eksosistem logistik yang komprehansif dan efisien.

“Bila ekosistem logistik yang efisien terwujud, maka hal ini akan dapat mendorong investasi serta meningkatkan ekspor, sehingga defisit neraca perdagangan yang beberapa tahun terakhir dialami Indonesia dapat diatasi. Bahkan, neraca perdagangan internasional Indonesia akan lebih sehat atau positif,” ujar Yukki.

Global

Yukki mengatakan, perekonomian global saat ini melemah, penuh ketidakpastian, akibat perang dagang antara China dengan Amerika Serikat. Kondisi ini berdampak kepada perdagangan internasional Indonesia karena dua negara tersebut merupakan tujuan utama ekspor Indonesia.

Perang dagang China-AS, imbuhnya, berdampak kepada menurunnya kinerja beberapa industri nasional seperti industri otomotif, industri elektronik (komputer), industri pertanian, industri tekstil dan produk tekstil. Selanjutnya kinerja perdagangan internasional (ekspor dan impor) Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit—CAD) hingga kuartal II tahun 2019 mencapai US$ 8,4 miliar.

Maka dari itu Indonesia perlu meningkatkan ekspor secara signifikan karena dalam lima tahun terakhir hanya tumbuh rata-rata sekitar 7%. Untuk meningkatkan ekspor memang tidak mudah karena banyak permasalahan yang harus diperbaiki, terutama kebijakan instansi pemerintah terkait, kualitas, kualitas produk dan perlunya memperbaiki saya saing setiap komoditas ekspor.

Yukki mengatakan, salah satu faktor yang bisa menaikkan daya saing produk ekspor Indonesia adalah memperbaiki ekosistem logistik komoditas ekspor secara menyeluruh, dengan membangun ekosistem manajemen rantai pasok (supply chain).

Untuk mewujudkan ekosistem logistik yang efisien diperlukan kolaborasi seluruh kepentingan seperti pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah(UMKM).

Selain itu, lanjut Yukki, untuk menjalankan ekosistem logistik yang efisien disamping diperlukan sistem informasi dan komunikasi elektronik yang terintegrasi diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

“Disinilah pentingnya lembaga pendidikan kejuruan dan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM,” paparnya.

Namun, Yukki mengingatkan hal tersebut belumlah cukup, lantaran membangun ekosistem logistik yang efisien diperlukan badan adhoc di bawah presiden karena melibatkan 15 kementerian dan 3 lembaga negara. “Badan inilah yang berfungsi untuk mensinkronkan bebagai kebijakan dan menyederhanakan regulasi terkait dengan ekosistem logistik nasional.”ucapnya.

Menurut dia, permasalahan lain yang juga dibutuhkan untuk membangun ekosistem logistik nasional yang efisien adalah pengembangan infrastruktur (hard dan soft infrastructure).

Pengembangan hard infrastructure mencakup pembangunan pelabuhan, bandara, jalan dan pusat logistik dan terkoneksi dengan baik.

“Sedangkan soft infrastructure mencakup sistem informasi dan komunikasi elektronik yang terintergrasi dengan seluruh pemangku kepentingan (platform) untuk memperlancar dokumen dan sistem transaksi,” kata Yukki.(ri)

Pebisnis Inginkan DO Online, Segera Teritegrasi INSW

ALFIJAK : Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengharapkan Sistem Delivery Order (DO) Online sudah terintegrasi dengan Sistem Indonesia National Single Window (INSW) yang dikelola oleh Lembaga National Single Window ( LNSW ), paling lambat awal tahun 2020.

Sekum DPW ALFI DKI Adil Karim, mengatakan saat ini tengah disiapkan Gateway Sistem DO Online yang terintegrasi dalam INSW.

Pada tahap awal ini, sedang dilakukan integrasi kargo owner/ forwarding dengan pelayaran dalam INSW. Selanjutnya Terminal Operator/perbankan, kata Adil Karim yang juga anggota Pokja DO Online.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman meresmikan Soft Launching Gateway Sistem Delivery Order (DO) Online dalam Sistem Indonesia National Single Window (INSW), di Kementerian Keuangan, paa pekan lalu.

Adil mengatakan sejak diberlakukannya PM 120/2017 tentang Pelayanan Pengiriman Pesanan Secara Elektronik (Delivery Order Online) untuk barang impor di pelabuhan, pelaksanaan DO Online baru dari shipping Line ke Terminal Operator yang sudah berjalan.

“Sementara kargo owner / freight forwarding masih belum terintegrasi,”ujarnya.

Karena itu sebagian besar penebusan Delivery Order di pelayaran oleh Freight forwarder masih dilakukan secara manual ataupun melalui email.

ALFI berharap setelah stake holder terkait DO Online (pelayaran, kargo owner/ forwarding dan Terminal Operator / perbankan) sudah terintegrasi dalam INSW dapat memangkas waktu pengambilan DO.

“Syukur -syukur dapat menurunkan biaya logistik,” kata Adil Karim.(ri)

Biaya Logistik RI Belum Efisien, Ini Penyebabnya

ALFIJAK – Kamar dagang dan industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan, biaya logistik di Indonesia masih belum efisien lantaran masih salah satu yang tertinggi di negara-negara di Asean.

Oleh karena itu, melalui adanya kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk salah satunya mendorong keuangan untuk infrastruktur diharapkan biaya logistik yang tinggi ini akan menjadi lebih baik.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roeslani, saat pembukaan ajang Indonesia Transport, Supply Chain and Logistic (ITSCL) 2019, di JIExpo Kemayoran pada Rabu (16/10/2019).

ITSCL merupakan sebuah event penting bagi semua pemangku kepentingan, terutama di bidang pemasokan dan logistik.

Dia mengatakan, dengan melihat perubahan teknologi yang begitu cepat, diharapkan sektor logistik bisa memanfaatkannya menjadi hal yang positif. Apalagi, negara-negara lain terus meningkatkan efisiensinya dalam banyak hal, baik dari segi industri maupun sumber daya manusianya.

Menurutnya, program prioritas dari pemerintahan Presiden Joko Widodo ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia atau pembangunan human capital yang dibarengi dengan pembangunan infrastruktur yang terus berkelanjutan ke depannya.

Di acara ini, imbuhnya diharapkan semua pelaku usaha bidang ini benar-benar bertukar pikiran, informasi maupun memberikan masukan untuk pemerintah sehingga banyak juga kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru yang perlu disosialisasikan kepada pelaku usaha.

“Jadi event ini diadakan dengan harapan mampu menciptakan kesempatan-kesempatan baru pada para pelaku usaha terutama di bidang perhubungan, supply chain dan logistic,” ucap Rosan.

ITSCL 2019 resmi dibuka pada Rabu, 16 Oktober 2019 oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Transportasi Carmelita Hartoto, mengatakan, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan Nasional masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 7,01 persen pada tahun lalu.

Menurutnya, capaian ini lebih tinggi dibanding laju pertumbuhan ekonomi Nasional yang hanya mencapai 5,17 persen pada 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat kontribusi lapangan usaha transportasi dan pergudangan terhadap PDB pada 2018 mencapai Rp797,3 triliun atau 5,37 persen dari PDB yang bernilai Rp14.837,36 triliun.

“Pertumbuhan sektor logistik diprediksi akan terus melaju kencang pada tahun ini. Pertumbuhan sektor ini tidak lepas dari masih berlanjutnya pertumbuhan aktivitas belanja online atau e-commerce,”ucap Carmelita.

Namun, imbuhnya, efisiensi logistik masih menjadi tantangan besar. Beban biaya logistik Indonesia masih terlalu tinggi, sekitar 24 persen dari PDB.(ri)

Pelaku Logistik Dukung Penertiban Hand Carry

Ketua Umum DPP ALFI Yukki N.Hanafi

JAKARTA- Alfijak: Pelaku bisnis logistik menyatakan, mendukung langkah Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan untuk memperbaiki tata kelola kebijakan hand carry terutama untuk menghilangkan modus splitting.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, praktik splitting, under invoice dan penyalahgunaan lainnya dalam modus hand carry banyak terjadi sejalan berkembangnya transaksi on line atau e-commerce.

“Kalau tidak segera dilakukan perbaikan dan kebijakan yang tepat maka kondisi ini akan semakin memperbesar kerugian negara serta juga menurunkan daya saing produk nasional,”ujar Yukki, pada Rabu (2/10/2019)

ALFI juga menyoroti modus hand carry untuk barang produk jadi yang langsung di konsumsi pasar akan lebih berdampak besar kerugiannya bagi negara yaitu selain kehilangan pemasukan dari bea masuk dan pajak dalam rangka impor serta melemahkan bahkan mematikan produk/ produsen dalam negeri.

“Praktik seperti ini juga menjadikan satu di antara beberapa faktor yang menyebabkan defisit neraca perdagangan,”ucap Yukki.

Trismawan Sanjaya, Wakil Ketua Umum DPP ALFI bidang Supply Chain, e-commerce dan multimodal, menambahkan perlu dikaji kembali untuk penerapan dan pengawasan kebijakan nilai deminimus sebaiknya hanya berlaku untuk barang hand carry saja.

“Hal itu supaya fokus pengawasan Bea Cukai pada barang yang menjadi bawaan penumpang saja dan ini akan memperkecil resiko kerugian negara,”ujarnya.(ri)

SPIL Gandeng GO-PAY Luncurkan mySPIL Points


JAKARTA- Sejalan dengan komitmennya, PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) kembali memberikan kemudahan dalam bertransaksi melalui platform e-commerce, dengan meluncurkan mySPIL Points.

Terobosan perusahaan pelayaran nasional ini sebagai bagian dari rewarding program yang diberikan kepada para relasi yang dengan setia dan konsisten menggunakan mySPIL dalam melakukan semua transaksinya bersama SPIL.

Tidak hanya menambahkan fitur mySPIL Points dalam rewarding program ini, SPIL juga menggandeng GO-PAY dalam proses penukaran poin yang diperoleh oleh relasi menjadi saldo GO-PAY.

GM Commercial PT SPIL Jimmy Liesensia, mengatakan pihaknya melihat perkembangan saat ini bahwa masyarakat tidak dapat lepas dari penggunaan smartphone dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan semua aktivitasnya. Kehadiran GO-PAY dan aplikasi online lain saat ini begitu lekat dan menarik untuk diikuti, oleh karenanya SPIL bekerja sama dengan GO-PAY sebagai media penukaran poin.

“Harapannya, relasi SPIL dapat semakin memanfaatkan keuntungan dan kemudahan dalam menggunakan poin yang telah mereka peroleh. mySPIL Points yang telah dikumpulkan dapat ditukarkan menjadi saldo GO-PAY yang dapat digunakan untuk membayar makanan, membeli voucher PLN, membeli pulsa, dan berbagai macam kebutuhan lainnya,” ujar Jimmy, melalui siaran pers-nya Senin (29/4/2019).

Proses mendapatkan poin didapat dari setiap tahapan yang dilakukan mulai dari membuat booking, membuat e-SI, e-BL, dan melakukan pembayaran melalui Virtual Account.

Keuntungan lain yang diberikan adalah admin dari pemilik account mySPIL akan menerima poin sebesar 50% dari setiap transaksi yang dilakukan di setiap tahapan sehingga semakin tinggi tingkat penggunaannya akan semakin banyak pula poin yang dikumpulkan untuk bisa ditukarkan menjadi saldo GO-PAY.

Chandra Satar, Head of Payment Solutions Ecosystem GO-PAY menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. GO-PAY meyakini bahwa kolaborasi dan kemitraan merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pembayaran digital yang kuat.

“Kolaborasi telah menjadi salah satu strategi utama kami dalam mendorong pertumbuhan GO-PAY sebagai alat pembayaran nontunai terdepan di Indonesia. Kami pun berharap bahwa dengan kolaborasi ini, manfaat pembayaran digital dapat dirasakan oleh lebih banyak orang,”ucapnya.

mySPIL Points ini sudah dapat digunakan mulai 23 April 2019 dengan memperbaharui aplikasi mySPIL pada smartphone yang dapat di unduh melalui Google Playstore maupun App store untuk pengguna iPhone. Pengguna juga dapat melakukan transaksi melalui mySPIL web yang dapat di akses melalui www.myspil.com.(ri)