Aju Dokumen Ekspor Impor Via PDE Internet Berjalan Mulus

JAKARTA (Alfijak) : Asosiasi logistik dan forwarder Indonesia (ALFI) menyatakan selama dua pekan implementasi pertukaran data elektronik (PDE) internet untuk kegiatan impor dan ekspor berjalan lancar.

Sekretaris Umum DPW ALFI DKI Jakarta, Adil Karim, mengatakan hingga saat ini belum ada keluhan terhadap PDE internet yang mulai diterapkan sejak 1 Januari 2019 itu.

“Alhamdulillah kami (ALFI) DKI belum mendengar adanya keluhan. Ini artinya PDE internet berjalan lancar,” ujarnya kepada Tabloid Maritim, Jumat (18/1/2019).

PDE internet bukan hal baru sebab sudah dijalankan sejak 2016 bersamaan dengan PDE EDI. Sehingga sebelum 1 Januari 2019, ada dua opsi memasukan data ekspor-impor ke Bea Cukai.

Namun mulai 1 Januari 2019, Bea Cukai hanya menerima submit data ekspor-impor melalui PDE internet. Dengan kebijakan itu maka importir dan eksportir bisa submit data dimana pun dan kapan pun selama ada akses internet.

Menurut Adil, transformasi dari PDE  Electronic Data Interchange (EDI) ke PDE internet pada kegiatan ekspor impor telah disosialisasikan Ditjen Bea dan Cukai, sehingga para pelaku usaha logistik telah mempersiapkannya.

Adil mengungkapkan bahwa jauh hari sebelum hal itu diimplementasikan, ALFI sudah mensosialisasikan kepada perusahaan forwarder maupun PPJK anggota asosiasi itu di seluruh Indonesia, bekerjasama dengan Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu di sejumlah pelabuhan.

“Makanya saat implementasi PDE internet per 1 Januari 2019 tidak ada masalah dan berjalan lancar,” ucapnya.

Pegiat logistik ekspor impor dari PT. Tender Marine Indonesia (TMI)  mengatakan implementasi PDE internet tidak ada hambatan sampai saat ini.

“Gak ada masalah, pengajuan dokumen lewat PDE internet berjalan lancar,” ujar Dirut TMI, Tjejep Zahrudin, dikonfirmasi Tabloid Maritim.

Dia mengatakan, PDE via internet memudahkan pelaku usaha dalam memasukan atau submit dokumen ekspor-impor melalui modul Bea Cukai secara online. Selain itu tidak berbayar alias gratis.

GENERASI 3

Sebelumnya, Heru Pambudi, Direktur Jenderal Bea Cukai Kemenkeu mengatakan bahwa telah diimplementasikan menifest generasi 3 dalam kegiatan ekspor impor yang merupakan versi paling mutakhir yang mengedepankan prinsip otomasi dan simplifikasi sejalan dengan program reformasi Bea dan Cukai.

Adapun beberapa prinsip yang diusung dalam sistem ini di antaranya advance manifest system 24 jam sebelum kedatangan untuk sarana pengangkut laut sehingga customs clearance bisa dilalukan lebih cepat.

Selain itu, melalui sistem ini otoritas juga menambah non-vessel operating common carrier (NVOCC) dan penyelenggara pos agar pengajuan manifest dapat lebih cepat oleh masing-masing penerbit dokumen.

“Bea cukai juga menerapkan prinsip manajemen risiko perubahan manifest di mana perubahan dapat dilakukan secara online dan tidak semua perubahan wajib persetujuan kepala kantor, pencantuman NPWP, dan penutupan pos manifest,” ujarnya.

Penerapan Manifest Generasi 3 telah dilakukan secara bertahap yang dimulai pada tanggal 28 Desember 2017 di Kantor Pabean di Jakarta.

Menurutnya, hingga Agustus 2018, sistem ini telah diterapkan secara bertahap pada 12 Kantor Pabean utama di seluruh Indonesia yang meliputi enam (6) pelabuhan dan tujuh (7) bandara utama di mana secara statistik mewakili lebih dari 80% volume impor dan ekspor nasional.

Pada 26 September 2018, sistem Manifest Generasi 3 diberlakukan di seluruh pelabuhan dan bandara internasional yang diawasi oleh 104 Kantor Pabean di seluruh Indonesia.

Pengimplementasian Manifest Generasi 3 telah memberikan dampak positif dan menciptakan berbagai kemudahan di antaranya penurunan dwelling time khususnya pre-clearance di mana berdasarkan data di pelabuhan Tanjung Priok, terjadi penurunan pre-clearance sebesar 0,81 hari atau 19,69% setelah mandatori sistem Manifest Generasi 3. (ri)