MV Pacific Monaco Perkuat Layanan Rute Intra Asia di JICT

JAKARTA- Kapal kontainer Pacific Monaco yang sandar di dermaga PT Jakarta International Container Terminal (JICT), pada akhir pekan lalu menambah layanan intra Asia dari dan ke terminal peti kemas tersibuk di Indonesia itu.

Kapal dengan berat bobot mati 8,772 ton dan panjang 130 meter ini merupakan salah satu dari rangkaian Butterly Service atau TF1, sekaligus memperkuat layanan rute itu melalui dermaga JICT.

Berdasarkan jadwal yang disepakati, service ini akan sandar di terminal JICT satu kali setiap minggunya (Weekly Service).

Dengan demikian jumlah layanan kapal di JICT menjadi 17 service dengan total sandar dan bongkar muat sebanyak 150 kapal setiap bulannya.

Servis baru TF1 ini siap melayani rute Jakarta – Pelabuhan Tanjung Pelepas-Singapura- Laem Chabang International Terminal dan Sahatai Terminal (BKK). Sebagai awal Kapal ini akan melakukan kegiatan bongkar muat sebesar 700 TEUs di terminal 1 JICT.

Wakil Presiden Direktur JICT Riza Erivan menyatakan, dibukanya layanan baru ini, menunjukkan bukti bahwa JICT masih merupakan Terminal pilihan Pelanggan di Indonesia.

Riza menambahkan, ditahun 2014, JICT pernah memecah rekor nasional dengan pelayanan tercepat dan terbaik saat dengan total bongkar muat 192 gerakan perjam (mph) saat melayani kapal MV Northern Genius di Terminal 1 JICT.

“Tekad kami saat ini bukan hanya meraih kepercayaan pelanggan, tapi juga memenuhi bahkan melampau ekspektasi mereka,”ucapnya.

Riza menambahkan, seiring dengan tekad baru sebagai terminal dengan pelayanan terbaik, maka JICT berkomitmen terus mengembangkan fasilitas yang dimiliki.

JICT telah memperbaiki terminal dan investasi dalam infrastruktur, peralatan, dan teknologi terkini. Saat ini, sisi dermaga JICT telah memiliki kedalaman 12 hingga 16 meter.

Menurutnya, hampir seluruh Crane telah menggunakan teknologi elektricity yang ramah lingkungan, aplikasi mobile untuk Kemudahan pembayaran kegiatan terminal Petikemas dan rencana rencana e-commerce yang akan menjadi startup di rantai logistik Indonesia.

Dengan pengembangan yang dilakukan, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan mengukuhkan JICT sebagai terminal dengan kualitas pelayanan Internasional, kebanggaan Indonesia.(ri)

Kemendag Otomasi Perdagangan Untuk Pacu Daya Saing

JAKARTA (Alfijak): Guna macu daya saing global, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong penyederhanaan dan otomatisasi perdagangan internasional. Hal tersebut penting dilakukan negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Kemendag Dody Edward menyatakan, pemerintah harus turut berperan aktif di era ekonomi digital yang berkembang pesat untuk membuat perdagangan menjadi lebih inklusif. Pemerintah juga memastikan partisipasi Indonesia dalam rantai nilai global.

“Teknologi informasi dan komunikasi modern yang terjangkau dan berkelanjutan harus bisa diandalkan,” ujar Dody dalam keterangan tertulis, Rabu (27/2/2019).

Hal tersebut Dody sampaikan saat membuka National Consultative Workshop on Cross-Border Paperless Trade Facilitation yang digelar Kemendag dengan PBB dan ESCAP di Yogyakarta. Dalam forum tersebut juga disosialisasikan mengenai perjanjian PBB terkait fasilitasi perdagangan lintas batas nirkertas “Framework Agreement on Facilitation of Cross-border Paperless Trade in Asia and the Pacific”.

Perjanjian PBB baru tersebut diharapkan dapat memberikan alat baru bagi negara-negara Asia Pasifik yang sifatnya digital dalam mengimplementasikan perjanjian fasilitasi perdagangan (TFA) WTO serta meningkatkan pengembangan perdagangan lintas batas.

Asean sudah berkomitmen meningkatkan fasilitasi perdagangan dan melakukan digitalisasi prosedur perdagangan. Anggota Asean yang juga merupakan anggota ESCAP dapat berpartisipasi dalam kerangka perjanjian PBB terkait fasilitasi perdagangan lintas batas nirkertas tersebut untuk meningkatkan perdagangan lintas batas nirkertas regional.

Hal ini mengingat kerangka perjanjian tersebut menyediakan referensi praktik terbaik model-model pelaksanaan berbagai proyek percontohan, penyebaran informasi, dan standar internasional.

Penggunaan teknologi elektronik pengganti kertas telah memberikan peluang bagi negara-negara dalam menyederhanakan proses perdagangan, meminimalisasi persyaratan dokumen, mengedepankan transparansi, dan meningkatkan keamanan kegiatan perdagangan.

“Implementasi secara penuh perdagangan lintas batas nirkertas juga akan secara signifikan  meningkatkan pendapatan dari perdagangan internasional atau regional,” tutur Dody.

Dody menyambut baik dilaksanakannya kegiatan yang bertujuan mempercepat pembangunan ekonomi ini.

Menurut dia, langkah-langkah pertukaran data elektronik atau biasa perdagangan nirkertas banyak dijumpai dalam perjanjian perdagangan regional, termasuk Perjanjian Trans-Pasifik dan ASEAN. Khususnya dalam bab RTA tentang perdagangan elektronik yang didedikasikan untuk bea cukai dan fasilitasi perdagangan.

Dody mencontohkan implementasi ASEAN Single Window yang diharapkan dapat dilaksanakan sesuai periode waktu yang disepakati. Jika National Single Window dari sepuluh negara anggota ASEAN telah ditetapkan, maka kelancaran arus barang di ASEAN akan terwujud dan efisiensi akan tercapai.(ri)