ALFI Desak Integrasikan Dokumen DO Online

Adil Karim, Sekum DPW ALFI DKI JAKARTA

JAKARTA (ALFIJAK): Dokumen Delivery Order (DO) online, selama ini masih mengambil ke pelayaran atau belum online secara terintegrasi. Dampaknya, kurang efektif dalam upaya strategi penurunan dwelling time dan biaya logistik pelabuhan.

Demikian disampaikan oleh Adil Karim, Sekretaris ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia) DKI Jakarta, melalui keterangan persnya.

Dia berharap, agar DO online segera terintegrasi dalam satu sistem. Mengingat selama ini masih mengambil ke pelayaran atau belum online secara terintegrasi.

Adil Karim, menambahkan bahwa dari hasil hitungan dan survei internal ALFI, jika menggunakan platform yang dibuat ALFI sistem terintegradi bisa menurunkan biaya pengambilan DO untuk impor sebesar 75%. Untuk antrian di loket pelabuhan bisa 50% dan post clearance bisa mencapai 75%.

Dengan demikian, DO online yang terintegrasi dalam satu sistem benar-benar bisa memangkas dwelling time.

Adil karim menbahkan bahwa “platform yang sudah kami kembangkan untuk ekspor sudah terhubung lebih dari 120 ribu pelabuhan, di lebih dari 150 negara”.

Sudah masuk pada kegiatan pelayaran ocean going serta koneksi manifest langsung ke 4 negara yakni USA, Canada, Jepang dan china.

Saat ini ALFI sedang mengembangkan PDE mandiri yang nantinya dimasukkan dalam platform tersebut. “Saat ini kami lagi mengembangkan yang namanya PDE mandiri yang akan kami masukkan dalam platform tersebut”.

Hal ini memudahkan sistem dimana nantinya dokumen ekspor dari negara asal yang sudah selesai customs menjadikan dokumen impor dan tidak perlu mengetik lagi karena ada engine data dalam sistem.

Sistem tersebut akan memangkas waktu bagi PPJK maupun importir dalam pengeluaran barang impor. Pun sebaliknya dokumen ekspor yang sudah melalui proses bea cukai menjadikan dokumen impor negara tujuan.

ALFI untuk sementara mengambil sample negara tetangga Malaysia. Yang paling penting di dalam sistem PDE mandiri tersebut ada juga pengawasannya atau intelijennya.

Nantinya pelaku usaha tidak bisa lagi merubah dokumen atau nilai transaksi atau juga mengubah post tarif. ALFI mendukung pemerintah dalam hal pendapatan negara melalui bea masuk, PPN PPH ataupun bea keluar.

Ini yang dinamakan competitive dynamic inovative, Adil karim SE, CPSCM menyebutnya.(sumber: kliksaja.co)

Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Bawang Merah Ilegal

ACEH (Alfijak): Petugas Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Aceh, BC Langsa, dan BC Tanjung Balai Karimun, Senin (11/3/2019) malam menggagalkan penyelundupan bawang merah ilegal dari luar negeri.

Kali ini petugas gabungan Bea Cukai Aceh dan Sumatera Utara berhasil menyita sekitar 30 ton lebih bawang merah ilegal yang diangkut menggunakan KM Anak Kembar.

Selain itu 5 anak buah kapal (ABK) dan tekong kapal ikut diamankan, dan Senin (11/3/2019) malam langsung diamankan ke Kantor Pengawasan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C Kuala Langsa, untuk proses lebih lanjut.

Sedangkan sekitar 30 ton lebih bawang merah ilegal yang dibawa dari Penang, Malaysia tujuan Pantai Seping, Kecamatan Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang, malam itu juga langsung dibawa ke Banda Aceh menggunakan truk tronton.

Sebelumnya KM Anak Kembar bermuatan bawang merah ilegal ini ditangkap di posisi 20 mil laut dari Pelabuhan Kuala Langsa memasuki waktu malam hari, dan selanjutnya langsung ditarik ke Pelabuhan Kuala Langsa.

‎Kasie Penindakan dan Penyelidikan KPBC Tipe B Kuala Langsa, Zaky, kepada Serambinews.com, Selasa (12/3/2019), membenarkan penangkapan KM Anak Kembar berbuatan 30 ton lebih bawang merah ilegal asal Penang, Malaysia yang hendak diselendupkan ke Pantai Seping, Kecamatan Banda Mulia, Aceh Tamiang.

Menurut Zaky, barang bukti (BB) bawang merah ilegal tersebut malam itu juga telah dibawa ke Banda Aceh, sedangkan 5 tersangka telah diamankan di KPBC Tipe B Kuala Langsa, dan untuk kapal KM Anak Kembar diamankan di Pelabuhan Kuala Langsa.(serambinews/ri)