Arsip Tag: kuncoro wibowo

BPK soroti minimnya peran KA barang

Moda transportasi kereta api untuk angkutan barang dan jasa masih dianggap belum optimal penggunaannya. Akibatnya, ada ketidakpastian penyaluran barang dan jasa di wilayah timur dan barat Indonesia.

Anggota VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia Bahrullah Akbar mengatakan, pemerintah seharusnya lebih berfokus lagi dengan nasib perkeretaapian barang dan jasa yang masih kurang diminati perusahaan.

“Keberadaan perkeretaapian ini merupakan sektor yang penting. Untuk itu kita perlu lakukan beberapa kajian, apa saja yang menjadi penyebab belum maksimalnya penyaluran barang dan jasa menggunakan transportasi tersebut. Ini untuk mendorong pembangunan yang merata,” ungkapnya di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (28/2/2017).

Menurutnya, sampai saat ini penyaluran barang dan jasa masih berfokus di wilayah berpenduduk ramai seperti di pulau Jawa. Sehingga terjadi ketimpangan dalam penyebaran barang dan jasa tersebut. “Hampir semua terserap di wilayah barat dan hampir semua ada di pulau Jawa. Jadi saya ingin tekankan bagaimana kita dapat menyeimbangkan penyaluran barang dan jasa di wilayah barat dan timur,” ungkapnya.

Dia berharap adanya solusi yang tepat dalam menyalurkan barang dan jasa. Sehingga, tidak ada lagi anggapan bahwa pemerintah hanya fokus membangun wilayah barat terutama di pulau Jawa.

Sebelumnya, Direktur Komersial Kuncoro Wibowo mengatakan, saat ini hampir 90 persen pelaku usaha masih menggunakan truk untuk mengangkut barangnya, sedangkan pengguna jasa angkutan barang lewat kereta api hanya 1 persen.

“Kondisi ini cukup miris kalau kami lihat,” ujar Kuncoro dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (28/2/2017).

Menurut kuncoro, hal tersebut dikarenakan penanganan angkutan lewat kereta api memakan proses yang terlalu panjang. Dirinya menjelaskan, pengangkutan lewat truk menggunakan sistem door to door.

Artinya, barang dari gudang diangkut dengan truk dan langsung bisa dikirimkan ke tempat yang dituju. Sementara, jika dengan kereta api barang di gudang terlebih dahulu diangkut truk ke stasiun dan tidak langsung bisa dikirimkan ke tempat tujuan, tetapi diantarkan ke stasiun terdekat. Kemudian, baru diangkut kembali ke tempat yang dituju.

“Ini yang dikeluhkan teman-teman usaha. Kami akui betul, kami tidak bisa hindari dan ini yang membuat biaya semakin mahal,” katanya. Meski demikian, ucap Kuncoro, angkutan barang dengan kereta api mempunyai kelebihan lain yakni, waktu.

Menurut dia, kalau dengan kereta api, waktu kedatangan angkutan barang bisa diprediksikan berapa lama. Namun, jika memakai truk tidak bisa diperkirakan lama waktu kedatangan barang.

“Misalnya dari Gedebage-Tanjung Priok itu kurang lebih 4 jam sampe, tetapi kalau truk nggak bisa diprediksikan kan bisa terkena macet,” tandasnya.

Saat ini KAI telah menyediakan jasa pengangkutan barang lewat kereta dengan rute Gedebage-Pelabuhan Tanjung Priok. Kereta barang tersebut beroperasi dua hari sekali.

sumber krjogja.com/kompas.com

 

KA logistik tak laku karena mahal

Dewan Pakar Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska), Achmad Kemal Hidayat menyebut, transportasi kereta barang masih kurang diminati oleh pengusaha dalam pengiriman.

Di antara empat transportasi, kereta api menunjukkan peran yang masih minim dalam mendukung pengangkutan logistik.

“Empat (angkutan) itu adalah pesawat udara, kapal laut, kontainer, dan kereta api hanya beberapa. Itu menunjukkan bahwa peran kereta api mendukung sistem logistik belum menonjol, perannya sangat kecil,” ungkapnya di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (28/2).

Menurut Achmad, peran moda transportasi kereta api sangat dibutuhkan dalam penyaluran logistik di Indonesia.

Kereta api barang seharusnya dapat menjangkau daerah lokal dan terintegrasi dengan transportasi lainnya.

“Intinya sistem logistik itu terintegrasi secara lokal yaitu bagaimana peran antar moda sangat menentukan kita sebagai negara kepulauan,” jelasnya.

Dengan penggunaan angkutan kereta barang, maka akan memberikan keuntungan yang lebih baik kepada produsen maupun konsumen.

Salah satu keuntungannya adalah biaya logistik dapat ditekan sehingga harga penjualan akan lebih murah.

“Ada beberapa tujuan yang akan dicapai, yaitu, menurunkan biaya dan memperlancar arus barang. Serta meningkatkan pelayanan logistik sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan pasar domestik,” tuturnya.

Kereta api masih dianggap kurang diminati oleh para pengguna jasa angkutan barang atau logistik. Sedangkan, Truk dinilai masih jadi pilihan karena lebih murah biayanya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Direktur Komersial dan IT PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Kuncoro Wibowo, mengakui bahwa penggunaan kereta api sebagai opsi pengangkutan logistik hanya berkisar di angka satu persen, dari jumlah keseluruhan yang ada.

“Hampir 90 persen angkutan barang masih memakai trucking (angkutan darat). Sementara kereta api hanya satu persen. Ini miris sekali kalau kita lihat. Padahal kereta api ini kan untuk lebih mendorong go green eficiency,” kata Kuncoro dalam sebuah diskusi di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa 28 Februari 2017.

Namun, Kuncoro juga mengakui jika hal ini disebabkan faktor biaya yang lebih besar, apabila pengangkutan logistik dilakukan dengan menggunakan moda kereta api dibanding dengan angkutan darat seperti truk.

“Detilnya, kalau tarif trucking itu bisa Rp4,2 juta, maka di kami tarif luar biasa saja masih banyak yang Rp6,36 juta. Makanya mereka lebih suka naik trucking,” ujarnya.

Ketika ditanya faktor apa yang membuat tarif angkutan logistik dengan kereta api kalah saing dengan angkutan trucking, Kuncoro menjelaskan bahwa dengan adanya pengenaan tarif pajak dari pemerintah, membuat tarif pengangkutan menggunakan kereta api menjadi lebih tinggi.

“Biaya terbesar itu di TAC (tax access charge), hampir 32 persen. PPn itu diambil dari sini, karena tracking diurus oleh PUPR,” kata Kuncoro.

Selain masalah tarif, Kuncoro juga menjelaskan sejumlah hal lain yang menjadikan para pelaku jasa angkutan logistik, lebih memilih menggunakan moda angkutan darat lainnya dibandingkan kereta api.

Dia menyebut, aspek keterjangkauan serta bentuk pelayanan lain yang dimiliki moda angkutan darat seperti jasa trucking itu, dianggap masih lebih unggul daripada pelayanan yang mampu diberikan moda kereta api untuk mengangkut logistik.

“Kalau trucking kan bisa langsung ke tempat tujuan, tapi kalau pakai kereta api memang harus ada beberapa proses penanganan. Ini salah satu hal yang menjadi kendala, dan kerap dikeluhkan oleh para pengusaha,” kata Kuncoro.

“Seperti misalnya di Sei Mangkei itu, kalau dengan trucking mereka bisa langsung masukkan (logistik) ke industri tekstil. Sementara dengan kereta api, ini adalah suatu hal yang terbebenani lagi. Bahkan, kalau dikomparasi, biayanya bisa tiga kali lipat jika menggunakan kereta api,” ujarnya.

Sumber: merdeka.com/viva.co.id