Harga komoditas global bakal bergejolak

Harga komoditas global bakal bergejolak

Amerika Serikat (AS) telah memungut bea masuk senilai 34 miliar dolar AS atas produk China pada Jumat (6/7/2018) lalu. Hal itu pun langsung dibalas China dengan tarif impor 25 persen pada barang-barang AS.

TOKYO (alfijak): Mengutip Asia Nikkei Review, Minggu (8/7/2018), target pertama China adalah kedelai dan produk pertanian AS. Namun Beijing juga berencana memberlakukan tarif 25 persen pada minyak mentah dan komoditas energi lainnya ketika Washington memberlakukan retribusi 25 persen pada impor China senilai 16 miliar dolar AS.

China adalah konsumen kedelai terbesar di dunia, bergantung pada impor sekitar 90 persen dari kebutuhannya. AS sendiri menyumbang lebih dari 30 persen total konsumsi kedelai di Tiongkok. Sekarang, China sedang mencari pemasok alternatif.

Brasil saat ini adalah sumber utama China untuk kedelai, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk menutupi hilangnya impor dari AS. Itu akan menempatkan Rusia dan Asia Tengah pada daftar teratas. Keduanya merupakan alternatif yang menarik, karena Belt dan Road Initiative China mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengangkut komoditas melalui Eurasia.

Ekspor kedelai Rusia ke China telah mencapai 850.000 ton sejak Juli 2017, meningkat 2,5 kali lipat dari tahun sebelumnya. China juga bergantung pada Kazakhstan untuk kedelai, serta gandum. Kementerian Pertanian Kazakhstan ingin meningkatkan ekspor gandum ke China, dan menargetkan 1 juta ton pada 2020, hampir tiga kali lebih banyak dari tahun 2016.

Pada bulan Juni, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev mengadakan pembicaraan di Beijing dengan Presiden China Xi Jinping, di mana keduanya setuju untuk memperluas hubungan di sektor transportasi, pertanian dan lainnya.

Untuk putaran kedua tarif impor Washington yang sebesar 16 miliar dolar AS, Beijing belum memutuskan bagaimana membalas, tetapi sedang mempertimbangkan minyak mentah dan produk energi lainnya. China adalah pasar terbesar kedua untuk minyak mentah AS, di belakang Kanada.

Dalam tiga bulan pertama tahun 2018, impor minyak mentah China dari AS meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi 350.000 barel per hari. Tarif Beijing dapat menghentikan ekspor minyak AS pada saat AS berusaha memperluasnya.

“Sementara China dapat mengamankan minyak mentah dari sumber alternatif. AS akan merasa sulit untuk menemukan pasar alternatif yang sebesar China,” menurut perusahaan riset AS Wood Mackenzie.

Banyak ahli memprediksi China akan beralih ke Angola dan negara-negara Timur Tengah untuk minyak mentah medium dan Nigeria untuk minyak mentah light. Rusia juga dapat memompa ekspor minyak ke China.

Pada bulan November 2017, saluran pipa East Siberia-Pacific Ocean yang kedua selesai, yang mengangkut minyak mentah langsung dari Siberia bagian timur ke China timur laut.

Ekspansi itu telah melipatgandakan jumlah minyak yang dapat diekspor Rusia ke China melalui pipa menjadi sekitar 30 juta ton per tahun.

Dampak perang dagang terhadap impor minyak mentah China netral bagi pasar global karena Tiongkok dapat dengan mudah mengimpor minyak mentah dari negara lain, kata Tsuyoshi Ueno, ekonom senior di NLI Research Institute.

Tapi itu akan mendorong minyak mentah West Texas Intermediate, patokan utama minyak, dengan menciptakan kekenyangan di pasar AS, Ueno memprediksi.

Pertengkaran itu juga dapat memengaruhi pasar untuk gas minyak cair, seperti propana, produksi yang telah tumbuh di AS karena revolusi shale gas. AS memasok seperempat propana impor China, sebuah angka yang kemungkinan akan berkurang jika Beijing menargetkan gas dengan tarif.

Bisnis China sudah bereaksi. Menurut sumber industri, satu importir Cina mencari untuk beralih dari LPG AS ke impor dari Timur Tengah. China tampaknya bertekad untuk tidak bergolak menghadapi AS, tetapi daftar barang yang dikenakan tarif pembalasan menunjukkan bahwa Beijing secara hati-hati mempertimbangkan opsinya.

Sementara minyak mentah dan gas alam masuk dalam daftar, gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) tidak. Itu menjadi penting karena negara itu menjauh dari batubara karena ingin melawan polusi udara. Jika memberlakukan tarif tinggi pada LNG dari AS bisa memicu inflasi.

Pada akhirnya, perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini kemungkinan akan memberi tekanan pada berbagai komoditas AS. Namun, karena Beijing masih harus berpikir karena gagal mendapatkan pasokan gas musim dingin lalu, LNG dari AS mungkin aman dari pungutan, setidaknya untuk saat ini.

Dari daging hingga nuklir

Hubungan antara Amerika Serikat dan China terus memanas. Kedua negara ini mendeklarasikan untuk melakukan perang dagang. Akibatnya 1.300 produk akan semakin mahal.

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif baru untuk impor dari China dengan nilai tahunan US$ 34 miliar (Rp 489,6 triliun).

Tindakan itu pun memicu Beijing untuk memberi respons serupa dengan memberlakukan tarif ke 545 produk impor AS dengan nilai yang sama, yaitu US$ 34 miliar.

Para perusahaan importir di kedua negara tersebut tentu dihadapi sebuah dilema, apakah menaikkan harga jual atau menipiskan margin keuntungan. Meski begitu dapat dipastikan akan berpengaruh pada nilai jual produk di kedua negara tersebut.

Mengutip CNN Money, Minggu (8/7/2018), setidaknya akan ada 1.300 produk yang harganya akan meningkat di AS. Hal itu berdasarkan produk-produk China yang masuk ke AS. Berikut di antaranya:

Barang AS di China

Daging

– Daging unggas
– Daging beku
– Daging babi
– Ayam beku
– Bebek beku

Buah dan sayuran

– Kentang
– Jamur
– Apel
– Ceri
– Alpukat

Produk turunan susu

– Butter
– Cream
– Yogurt

Ikan

– Salmon merah beku
– Makarel beku
– Tuna beku

Seafood

– Cumi beku
– Lobster
– Gurita
– Sirip ikan hiu
– Bulu babi

Tembakau

– Rokok tembakau
– Cerutu tembakau

Makanan hewan peliharaan

– Makanan kucing kalengan
– Makanan anjing kalengan

Minuman

– Whiskey
– Etanol yang dimodifikasi
– Jus jeruk dengan gula di bawah 20%

Kendaraan

– Kendaraan berpenumpang kecil dan besar
– Kendaraan off-road

Nasib BM di akhir tahun

Kebijakan pemotongan bea masuk impor oleh Amerika Serikat untuk Indonesia sedang ditinjau yang hasilnya baru diketahui akhir 2018.

Jika dari review Indonesia direkomendasikan tidak menerima manfaat kebijakan tersebut, maka produk ekspor Tanah Air ke AS akan dikenakan bea masuk normal yang memengaruhi posisi neraca perdagangan.

Kebijakan pemotongan bea masuk impor tertuang dalam kebijakan perdagangan yang dinamakan Generalized System of Preference (GSP).

GSP merupakan kebijakan sepihak (unilateral) yang umumnya dimiliki negara maju untuk membantu perekonomian negara berkembang, dalam bentuk manfaat pemotongan bea masuk impor.

“Apabila proses review kelayakan ini memberikan rekomendasi bahwa Indonesia tidak lagi layak menerima GSP AS, Indonesia akan kehilangan manfaat setelah rekomendasi tersebut ditetapkan Presiden AS,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani melalui keterangan tertulis kepada Kompas.com, Minggu (8/7/2018).

Shinta menjelaskan, saat ini Indonesia sedang menjalani 2 proses review yang dikoordinasikan oleh United States Trade Representative (USTR).

Proses review yang dimaksud adalah kelayakan Indonesia sebagai penerima manfaat GSP dan review tahunan tentang produk-produk yang akan diberi pemotongan bea masuk jika Indonesia ekspor ke AS.

Meski begitu, sebagian besar produk ekspor Indonesia ke AS tidak masuk dalam daftar penerima manfaat GSP.

Berdasarkan laporan GSP AS tahun 2016, Indonesia hanya memeroleh manfaat dari GSP sebesar 1,8 miliar dollar AS dari total nilai ekspor Indonesia ke AS 20 miliar dollar AS.

“Sebagian besar produk ekspor unggulan Indonesia tidak memeroleh manfaat GSP. Sebaliknya, tidak semua produk yang diberikan manfaat GSP oleh AS diekspor Indonesia ke sana,” tutur Shinta.

Secara prinsip, kebijakan GSP diberikan hingga Indonesia sudah melampaui ambang batas Competitive Need Limitaion (CNL). Periode program GSP AS untuk Indonesia akan berakhir pada 31 Desember 2020 mendatang.

Meski kebijakan pemotongan bea masuk impor terancam dicabut melalui proses review ini, Shinta memandang hal itu sebagai langkah untuk tetap menjaga hubungan perdagangan yang strategis antara Indonesia dengan AS.

Terlebih, AS merupakan satu dari tiga pangsa ekspor non-migas Indonesia terbesar, selain Tiongkok dan Jepang.

“Kami juga meyakini GSP AS untuk Indonesia juga mengurangi ketergantungan AS terhadap impor dari negara lain melalui diversifikasi impor dan turut menjaga persaingan dagang yang sehat di AS,” ujar Shinta. (kompas.com/detik.com/inews.id/ac)