Arsip Kategori: Kisah Sukses

lika-liku & kisah sukses berbisnis logistik

Tata kelola Priok di bawah Teluk Lamong, properti masuk

Menanggapi sentilan dari pemerintah yang menyatakan Pelabuhan Priok masih tertinggal dari Teluk Lamong di Jawa Timur, manejemen PT.Pelindo II/IPC menyatakan tidak ingin berpolemik.

Direktur Pengembangan Usaha PT.Pelindo II/IPC, Saptono RI menyatakan, Priok juga akan memiliki pelabuhan modern seiring dengan program pengerukan kedalaman kolam yang dilaksanakan di New Priok Container Terminal (NPCT-1) atau pelabuhan Kalibaru.

Tata kelola Priok di bawah Teluk Lamong, properti Belanda masuk
Tata kelola Priok di bawah Teluk Lamong, properti Belanda masuk

Saat ini,kata dia, terminal peti kemas ekspor impor di Priok termasuk di NPCT-1 maupun JICT dan TPK Koja baru bisa disandari kapal ukuran maksimal 5000 TEUs.

Pada Juni 2017 baru bisa disandari kapal di atas 8000 twenty foot equivalents units (TEUs) setelah kedalaman kolamnya menjadi -18 mLWs dari saat ini -14 mLWs.

“Sudah dilakukan pengerukan di NPCT-1 sejak Agustus tahun ini dan diharapkan pada semester ke dua tahun depan sudah rampung,” ujarnya saat berbicara di hadapan peserta RUA Dewan Pelabuhan Tanjung Priok, di Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Pada kesempatan itu juga, Kemenko Kemaritiman menyentil masih belum baiknya tata kelola pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang sampai saat ini masih tertinggal dengan pelabuhan Teluk Lamong di Jawa Timur.

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Menko Kemaritiman, Agung Kuswandono, mengatakan konektivitas angkutan laut di Indonesia untuk mendukung poros maritim dunia sulit dicapai karena terlalu banyaknya pelabuhan yang mau dideklair sebagai Hub.

Misalnya, kata dia, di Pulau Jawa saja sudah ada New Priok Container Terminal (NPCT-1) dan Terminal Teluk Lamong, belum lagi akan ada Pelabuhan Patimban yang saat ini sudah pada feasibility study.

“Kalau mau jujur model bisnis dan IT di Pelabuhan Priok ini jauh tertinggal ketimbang di Teluk Lamong,”ujarnya saat membuka dan berbicara pada Rapat Umum Anggota (RUA) ke 3 & Seminar Nasional Kepelabuhanan-Dewan Pelabuhan Tanjung Priok, di Jakarta.

Hadir pada kesempatan itu, manajemen Pelindo II, dan seluruh manajemen terminal peti kemas di pelabuhan Priok, serta asosiasi pengguna jasa di Pelabuhan Priok.

Dikatakan, layanan kepelabuhan di Teluk Lamong sudah menggunakan tehnologi tercanggih sehingga tidak memerlukan banyak orang/SDM yang terlibat.

“Ini sejalan dengan ISPS code dimana layanan kepelabuhanan harus steril dari orang yang tidak berkepentingan,”ujarnya.

Agung mengatakan, konektivitas logistik nasional perlu didukung semuan pemangku kepentingan dan pelaku usaha terkait mengingat luas laut keseluruhan NKRI mencapai 6,3 juta KM2 dengan luas perairan wilayah pedalaman dan kepulauan mencapai 3,08 juta KM2.

Pada kesempatan itu, Agung juga mengatakan, akan mempertemukan pengurus dan anggota Dewan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan.

“Kita akan jadwalkan Dewan Pelabuhan Priok ini ketemu pak Menko Kemaritiman. Silakan sampaikan ada masalah apa di sektor maritim ini dan apa maunya,” paparnya.

Teken kesepakatan

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang kerja sama dalam pembangunan kawasan industri Pelabuhan Jakarta termasuk Pembangunan Pulau O, P, dan Q dengan PT Jakarta Propertindo (JAKPRO) dan Havenbedrijf Rotterdam N. V. (Port of Rotterdam).

Kesepakatan ini ditandatangani oleh Direktur Utama PT Pelindo II, Elvyn G Masassya, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Satya Heragandhi, dan CEO Port of Rotterdam (POR) Allard S Castelein, di Jakarta, Rabu (23/11).

Elvyn mengatakan, kesepakatan ini dilaksanakan dalam rangka pengembangan kawasan industri Pelabuhan Jakarta yang diusulkan meliputi pengembangan dan pembangunan Pulau O, P, dan Q dan daerah terkait. Kerja sama ini, kata dia, merupakan tindak lanjut dari kerja sama government to government (G to G) antara Pemerintah Belanda dengan Pemerintah Indonesia berupa hibah oleh Pemerintah Belanda dengan skema kerja sama bilateral dalam bentuk program Develop2Build.

“Ke depan, output dari kesepakatan ini diharapkan mampu mendorong dan mengembangkan konsep integrated port dalam pengembangan pelabuhan di Indonesia sekaligus membangun kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor pelabuhan dan sektor usaha terkait untuk memperkuat jati diri Indonesia sebagai negara maritim,” ungkap Elvyn dalam siaran persnya, Rabu (23/11).

Kesepakatan ini, lanjut Elvyn, merupakan hasil dari penjajakan peluang kerja sama antara Pelindo II dengan Pemda DKI Jakarta melalui Jakpro dan Port of Rotterdam dalam rencana pembangunan proyek Port of Jakarta. Nantinya, Port of Jakarta akan digunakan sebagai lokasi industri pendukung Pelabuhan Tanjung Priok.

“MoU akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim bersama dalam penyusunan pre-feasibility study oleh konsultan di mana ketiga perusahaan dimaksud berperan sebagai counterpart,” tambah Elvyn.

sumber: bisnis.com/beritasatu.com

 

 

ALFI: pungli di Priok dibiarkan tambah parah

widijanto
widijanto

Pungutan liar di pelabuhan Tanjung Priok yang berasal dari penanganan kargo impor berstatus di bawah satu kontainer alias less than container load (LCL) terindikasi semakin parah bahkan terus terjadi dan hingga kini lantaran belum ada satu instansi terkait pun di pelabuhan tersebut mengatasinya.

Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Widijanto mengatakan asosiasinya sangat prihatin dengan pembiaran atas kondisi pungli yang berasal dari layanan kargo impor LCL di pelabuhan Priok itu.

“Sudah sering kali kami utarakan dan sampaikan soal pungli kargo impor LCL itu tetapi tidak ada respons dari instansi terkait. Seharusnya Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok lebih peka atas kondisi ini,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (21/11/2016).

Akibat tidak adanya respons serius dari instansi terkait dan manajemen Pelindo II Priok terhadap masalah ini, katanya, sampai sekarang ini ALFI DKI banyak menerima keluhan dan protes dari pemilik barang impor LCL yang merasa dikemplang oleh forwarder konsolidator di pelabuhan itu yang memungut tarif layanan kargo impor LCL di luar batas kewajaran.

“ALFI setuju ditertibkan saja, bila perlu jika ada anggota kami yang memungut tarif layanan kargo impor LCL di Priok yang tidak wajar silakan diberikan sanksi tegas oleh instansi berwenang,” tuturnya.

Widijanto menyampaikan hal tersebut sekaligus menegaskan komitmen ALFI dalam mendukung program pemerintah menekan biaya logistik serta memberantas pungutan liar di sektor jasa kepelabuhanan dan angkutan laut.

Dia mengatakan pemilik barang impor di Priok sering kali dikutip biaya-biaya tambahan seperti devaning atau pecah pos yang mencapai Rp2,13 juta/cbm, biaya lain-lain Rp2,8 juta per dokumen, serta administrasi delivery order (DO) Rp1,45 juta.

Selain itu, juga ada kutipan biaya overbrengen charges yang mencapai Rp300.000/m3, bahkan ada istilah biaya tuslah (toeslagh) yang mencapai Rp375.000 per dokumen, stiker Rp50.000, dan biaya surveyor berkisar Rp50.000/m3.

Padahal, komponen biaya LCL cargo impor yang sudah disepakati asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuba Priok pada 2010 untuk forwarder charges a.l. CFS charges, DO Charges, agency charges, dan administrasi.

Adapun biaya local charges untuk layanan LCL cargo impor hanya diberlakukan komponen tarif a.l: delivery, mekanis, cargo shifting, surveyor, penumpukan, administrasi, behandle dan surcharges.

“Ini [pungli] kan sudah enggak benar. Kalau mau usaha ya jangan begitu caranya. Ini namanya bikin biaya logistik tinggi dan masuk kategori pungli,” tandas Widijanto sambil menunjukkan bukti-bukti dokumen invoice layanan kargo impor LCL di Priok yang diadukan ke ALFI DKI Jakarta.

Dia mengatakan bahkan persoalan layanan kargo impor LCL tersebut sudah banyak yang dilaporkan langsung oleh pemilik barangnya ke Kementerian Perdagangan.

sumber: bisnis.com

 

Elvyn: dwelling time itu sewajarnya 2 hari

Elvyn: dwelling time itu sewajarnya 2 hari
Elvyn: dwelling time itu sewajarnya 2 hari

Waktu bongkar barang hingga keluar pelabuhan (dwell time) yang memakan waktu berhari-hari, merupakan masalah klasik pelabuhan di Indonesia. Direktur Utama PT Pelindo II (Persero), Elvyn G Masassya, mengatakan ada banyak faktor yang menentukan dwell time bisa menjadi lebih efektif.

Selain itu, berkurangnya dwell time menjadi salah satu faktor turunnya biaya logistik yang akan berdampak pada harga barang. Dengan semakin bertambahnya kapasitas Tanjung Priok, bagaimana strategi Pelindo mengatasi masalah dwell time?

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Elvyn di kantornya, Jalan Pasoso nomor I, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/8/2016).

Dwell time di Priok saat ini berapa lama?
Total sekarang, rata-rata di Priok dwell time mencapai 3,1-3,2 hari.

Berapa angka dwell time yang wajar untuk pelabuhan besar seperti Tanjung Priok?
Saya kira yang wajar itu memang 2-2,5 hari. Dan seperti yang saya utarakan, dwell time hanya salah satu elemen dalam penurunan biaya logistik. Kalaupun dwell time sudah diperbaiki, maka aspek interland-nya juga harus diperbaiki. Transportasi harus diperbaiki. Dia terintegrasi. Karena bisnis di pelabuhan, karakteristiknya atau konsepnya adalah value chain atau supply chain. Ada rantai yang berisi titik-titik tertentu dalam proses distribusi barang tadi. Dan semua titik ini harus diperbaiki.

Apa strategi yang dilakukan Pelindo untuk memangkas dwell time?
Tentu kita berupaya agar dwell time ini bisa lebih cepat. Ada tanggung jawab masing-masing, baik dari pengelola arus barang dan arus dokumen. Pelabuhan bertanggung jawab dengan pengelolaan arus barang. Bagaimana pengelolaan arus barang bisa cepat, tentu kapal-kapal bisa cepat merapat, cepat bongkar muatnya, sehingga lebih cepat keluar.

Dalam konteks itu kami sudah membangun yang namanya Inaportnet. Ini suatu sistem informasi, sehingga ketika kapal mau masuk, kita sudah tahu kapal itu kapan akan masuk, bawa barang apa saja, berapa jumlahnya, dan nanti akan merapat di terminal yang mana. Ini adalah salah satu pembenahan yang kita lakukan, membangun sistem informasi untuk keluar masuk kapal secara lebih mudah sehingga dia lebih cepat merapat.

Kemudian setelah kapal merapat, dia harus ada proses bongkar muat. Proses bongkar muat ini harus dilakukan dengan peralatan-peralatan yang sesuai. Kalau kapalnya besar, peralatannya harus besar. Sehingga kemudian dalam konsep kita, perhitungan kecepatan bongkar muat ini sudah kita buat standar. Misalnya satu jam bongkar muat, harus mampu menurunkan atau menaikkan 30 kontainer. Setelah itu kemudian dibawa ke penumpukan, lalu diperiksa. Pemeriksaan ini oleh instansi terkait. Setelah diperiksa dibawa keluar.

Bagaimana proses percepatan ini, kami juga segera melakukan review untuk percepatannya. Kami mengusulkan untuk membuat satu tempat yang kita sebut dengan pelayanan terpadu. Jadi 18 kementerian terkait akan ada dalam satu tempat dan secara bersama-sama melakukan pemeriksaan, sehingga proses pemeriksaan lebih cepat. Tentu arus barangnya juga bisa lebih cepat.

Di luar pemeriksaan terpadu ini, kita juga sedang berencana dan sekarang sedang pada tahap koordinasi, percepatan dalam menyiapkan National Single Window (NSW). NSW ini artinya secara sistem. Sehingga dokumen-dokumen itu dari satu pelaku bisa langsung diterima oleh seluruh pihak terkait dan pemeriksaannya tidak lagi secara sequencial tetapi sekaligus. Dengan proses pelayanan satu atap dengan NSW, maka diharapkan nanti paling tidak semuanya selesai satu hari. Maka harapannya kemudian, proses dwell time bisa mencapai at least 2-2,5 hari.

Apakah bisa terjadi penghematan biaya logistik?
Saat ini berdasarkan studi, dari total biaya logistik, 45% nya ada di darat. Ketika barang itu masuk ke pelabuhan dan sampai kepada tujuan, 45%-nya didarat.

Nah bagaimana kita sama-sama menurunkan, tentu di area pelabuhan pun harus dilakukan upaya penurunan biaya logistik. Kemudian di darat pun harus dilakukan upaya penurunan biaya logistik. Langkah-langkah yang kita lakukan tentu tidak boleh sporadis, atau parsial. Dia harus komprehensif dan sistematis.

Dalam konteks pelabuhan sendiri, kami berencana untuk membangun Central Freight Station (CFS). Jadi barang-barang itu akan dikumpulkan dalam satu tempat, nanti kemudian diperiksa di situ. Kemudian proses zonasinya sendiri, sehingga kemudian tahu kapalnya merapat di mana, bawa barang apa. Kemudian peningkatan produktivitas bongkar muatnya sendiri. Yang tadi saya sebut satu jam bisa 30 kontainer.

Di luar itu juga bagaimana kapal itu supaya jangan merapat terlalu lama. Proses bongkar muatnya cepat, dia bawa barang lalu bisa keluar. Nah ini kan menurunkan biaya logistik juga, ongkosnya menjadi lebih murah. Tentu di luar itu ada proses yang harus kita perbaiki, yang selama ini mungkin masih menimbulkan high cost economy. Itu kita turunkan. Seperti berapa lama barang dibawa dari pelabuhan ke kawasannya, berapa biayanya. Jadi semua ini adalah suatu sistem yang saling terkait yang konsepnya adalah port integrated.

Kapan hasilnya bisa dirasakan?
Saya nggak bisa memberikan jaminan, tapi kita mengupayakan ini. Karena proses ini kan melibatkan banyak sekali pihak. Tetapi sekarang kita sedang berkoordinasi secara intensif, membuat action plan, menyiapkan langkah-langkah yang kita sepakati bersama. Saya pribadi tentu berharap, 2017 (dwell time) sudah lebih baik dari sekarang.

Seperti apa roadmap yang disiapkan Pelindo II?

Kami sekarang ini memiliki corporate roadmap baru, ini dimulai tahun 2016 sampai 2020 nanti. Di 2016 ini, secara korporasi Pelindo II masuk pada fase yang saya sebut quick win infrastructure. Itu kita harus menyiapkan secara komprehensif aspek korporasinya. Misalnya bagaimana sistem, prosedur, governance, kita siapkan semua di 2016.

Di 2017, Pelindo II akan masuk pada fase enhancement. Enhancement itu mulai membangun proyek-proyek strategis, mulai melakukan peremajaan untuk alat-alat yang ada sekarang supaya lebih sesuai dengan standar internasional. Kemudian, kami mulai mengembangkan bisnis-bisnis baru, termasuk di bidang perkapalan, di bidang supporting interland, dan terkait properti.

Kemudian di 2018, kami sudah masuk pada fase establishment. Jadi perusahaan sudah bertumbuh secara sustain. Dan di 2019, akan berada pada fase sustainable superior performance. Jadi performance sudah baik dan sudah bisa disetarakan dengan beberapa pelabuhan yang satu kategori. Dan di 2020, mudah-mudahan jika semuanya lancar, Pelindo II sudah masuk pada fase world class. Itu artinya kaidah-kaidah dan standar internasional sudah diterapkan secara utuh dan penuh.

Apa saja proyek strategis yang disiapkan Pelindo II?

Kita sudah siapkan dana. Untuk Kalibaru sekitar Rp 12 triliun. Di luar itu juga kita menyiapkan dana untuk proyek strategis. Salah satunya yang tadi disebutkan adalah kanal atau waterways. Itu kita siapkan dana sekitar Rp 4 triliun. Di luar ini kita juga memiliki pipeline untuk membangun pelabuhan di Kalimantan Barat, namanya Pelabuhan Kijing.

Ini adalah salah satu komplek pelabuhan modern yang kita bangun bertujuan sebagai pelabuhan internasional, di mana di situ akan ada terminal peti kemas, terminal curah liquid dan kering, dan lokasinya agak ke tengah laut yang akan mempermudah akses dari kapal-kapal untuk datang ke Indonesia bagian tengah dan timur.

Kita menyiapkan di situ untuk tahap pertama, pada kapasitas 1 juta TEUs. Dan berikutnya akan kembangkan sampai 2,5 juta TEUs. Ini salah satu proyek strategis yang sudah ada di pipeline-nya Pelindo II. Total dana investasinya sekitar Rp 5 triliun. Di luar itu juga, kita membangun pelabuhan di Papua, New Sorong. Ini juga suatu proyek nasional.

Bagaimana progres New Sorong saat ini?

Tentu untuk membangun suatu pelabuhan banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi. Yang pertama adalah rencana induk pelabuhan. Rencana induk pelabuhan itu semacam gambaran, pelabuhan ini nanti mau seperti apa, areanya di mana. Itu harus mendapatkan izin dari Kementerian Perhubungan.

Di luar itu tentu kita harus melakukan berbagai studi. Feasibility study, Amdal, kemudian berbagai persyaratan-persyaratan administrasi.

Selain itu, kita juga harus membebaskan lahan. Lahan itu sekarang dimiliki oleh pihak lain, tentu kita harus bebaskan. Ini semua ada fase-fasenya. Saat ini sedang dalam tahap penyelesaian kelengkapan administrasi.

Kapan berbagai proyek strategis mulai digarap?

Kita berharap, proyek Sorong ini bisa kita mulai pembangunannya di 2017. Sama seperti Kijing, kita rencanakan akan dimulai 2017. Sama seperti kanal tadi juga, kita akan mulai 2017. Untuk proyek strategis ini kita berharap mendapatkan penugasan dari pemerintah, agar prosesnya menjadi lebih mudah.

sumber: detik.com

Mantan pedagang HP yang sukses berbisnis logistik

Mantan Pedagang Handphone Ini Sukses Berbisnis Logistik
Mantan Pedagang Handphone Ini Sukses Berbisnis Logistik

Reni Sitawati Siregar merintis usahanya sebagai pedagang telepon seluler ketika mengawali bisnis PT Nusantara Card Semesta (NCS). Dia pada 1995 dipercaya sebagai agen resmi penjualan (authorized sales agent) telepon seluler Motorola dan pager Indolink. Reni mampu menjaring keuntungan Rp 500 ribu per unit dari hasil penjualan handphone Motorola dan pager Indolink tersebut. Dompet Reni semakin tebal dari keuntungan yang diperolehnya itu.

Panji bisnis NCS semakin berkibar di tahun-tahun berikutnya. Pada masa itu, masyarakat sangat menggemari handphone dan pager. Kedua gawai (gadget) tersebut merupakan salah satu simbol status sosial. “Jadi, starting awal bisnis NCS itu bukan langsung fokus ke bisnis logistik,” kata Reni. Ia memutar keuntungan dari bisnis itu untuk memodali bisnis jasa pengiriman dokumen dan logistik.

NCS saat itu didesain Reni untuk menggarap bisnis logistik. Salah satu kliennya saat itu adalah Bank Maybank Indonesia (dulu BII). “Salah satu bank yang menjadi klien NCS adalah BII sekarang Bank Maybank Indonesia,” jelas Reni. Ketika itu, NCS hanya memiliki lima orang kurir. Tugas NCS adalah menyortir dan mengirim dokumen pengajuan kartu kredit nasabah bank tersebut.Perlahan-lahan bisnis NCS melejit. ”Saya kemudian mulai melihat di antara unit bisnis-bisnis itu mana yang kuat pertumbuhannya,” tandas pengusaha yang sehari-hari mengenakan hijab ini.

Kembali ke bisnis handphone, bisnis NCS sempat mengalami turbulensi yang mengkhawatirkan masa depan perusahaan. Menurut Reni, harga jual telepon genggam menukik tajam di tahun 1997. Itu terjadi karena produk selundupan membanjiri sentra-sentara penjualan telepon seluler. Untung saja strategi bisnis NCS yang didesain Reni bisa menyelamatkan NCS dari jurang kebangkrutan. Reni menerapkan strtaegi dua kaki alias melakoni lebih dari satu unit bisnis, yaitu bisnis logitik dan gadget. Tampaknya bisnis logistik memberikan masa depan yang cerah bagi laju bisnis NCS.

Maka, alumnus S-1 Manajemen dari STIE Widya Persada, Jakarta ini memfokuskan diri untuk memantapkan posisinya di bisnis tersebut. Titik balik NCS, menurut Reni, dialami pada awal tahun 2000-an ketika memenangi tender dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengelola dokumen. Ia menjaga amanah yang diberikan oleh lembaga anti rasuah ini. Reputasi NCS semakin kinclong sejak menangani KPK semakin melejit. NCS pun dilirik lembaga pemerintah. “Kami adalah perusahaan yang mematuhi prinsip GCG dan sampai saat ini masih dipercaya KPK. Sejak saat itu, klien dari pemerintah semakin bertambah seperti Kementerian Agama untuk warehousing Al-Qur’an, BPJS dan baru-baru ini memenangkan tender di Dirjen Pajak,” tutur CEO NCS yang gemar membaca buku ini.

Kini, bisnis jasa kurir NCS semakin menonjol dari periode sebelumnya itu. NCS boleh dikatakan sebagai salah satu perusahaan yang mumpuni di sektornya. Reni mengklaim sekitar 90% bank dan perusahaan asuransi yang beroperasi di Jakarta berhasil digaetnya sebagai pelanggan loyal NCS. Perusahaan itu diantaranya BCA, BNI, Bank Mandiri, Maybank Indonesia, Citibank, Bank Permata, BRI, serta Bank Bukopin. BCA merupakan klien terbesar NCS.

Jasa yang diberikan NCS adalah logistik, pergudangan, distribusi, pengiriman kargo, kurir, dan mailroom management. “Rata-rata omzet kami dalam setahun sekitar 15% hingga 20%. Ke depannya kami ingin omzet bisa naik 20% per tahunnya,” ucap Reni dengan nada optimistis. Pembangunan infrastruktur nantinya akan mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan jasa kurir dan logistik. Pertumbuhan bisnis perusahaan yang bermarkas di kawasan Slipi, Jakarta Barat ini ditunjang pula oleh jumlah pegawainya sebanyak 2.400 orang. Dari jumlah total itu, sekitar 1.800 diantaranya adalah tenaga kurir yang tersebar di 465 kantor cabang NCS. Perusahaan ini juga mempekerjakan kurir dari berbagai perusahaan yang diperbantukan ke NCS.

Sebelum bisnisnya menggelindung mulus, Reni menghadapi dinamika bisnis yang berliku. Tak mau menyerah hanya karena bermodal cekak, dia menggunakan berbagai jurus dalam menaklukan tantangan bisnis. “Modal kecil sekali, sekitar Rp 11 juta. Jadi, modal saya waktu itu adalah kepercayaan, skill sales, dan menjual konsep,” ia mengenang masa-masa awal mendirikan NCS.

Salah satu triknya adalah melakukan pendekatan feminim dalam melayani kliennya agar menumbuhkan kepercayaan sekaligus reputasi perusahaanya. “Ini ‘kan bisnis jasa layanan yang paling cocok dikelola dengan pendekatan feminim,” urai pengusaha yang rajin mengaji Al-Qur’an ini. Nah, pendekatan ini juga diterapkannya saat dipercaya menjadi agen resmi penjualan produk elektronik. Di tahun pertama NCS beroperasi, Reni menuturkan menggarap bisnis lainnya guna menghimpun modal serta memumpuk kepercayaan para pelaku usaha.

Kendati bisnis NCS menggelinding mulus, Reni terus berinovasi agar NCS tidak terlindas roda zaman. “Karena gelombang bisnis tidak pernah reda dan kami harus berinovasi,” tukas ibu dari satu anak ini. Contohnya NCS di tahun 2005 meluncurkan layanan mailroom management guna mengantisipasi penurunan bisnis yang diakibatkan perubahan tren perbankan menggunakan dokumen elektronik (e-statement).

Ia mengatakan layanan itu menyediakan jasa menajamen dokumen bagi perusahaan di sektor telekomunikasi, minyak dan gas, perbankan, asuransi, dan telekomunikasi. Klien terbesar mailroom management NCS adalah perusahaan perbankan dan asuransi. “Kami juga menggarap layanan kurir dan logistik untuk perusahaan e-commerce sejak September 2015,” ucap wanita yang hobi jalan-jalan ini. Blibli.com, Lazada, Berrybenka, dan Bilna tercatat sebagai pelanggan tetap NCS.

Inovasi Digital

Inovasi layanan dan cepat beradaptasi membuat NCS dipercaya oleh perusahaan kakap dalam 20 tahun terakhir ini. Klien-klien NCS, Reni menuturkan, rutin mengaudit perusahaanya setiap tiga bulan sekali. Hasil audit selalu memuaskan kliennya dan NCS semakin menancapkan kepercayaan dan reputasinya. “Kuncinya how to knowing the customers,” tandasnya. Untuk itu, NCS di tahun 2013 mengubah proses kerja kurir dari manual ke layanan digital yang bisa diakses lewat aplikasi berbasis androin di telepon cerdas.

Digitalisasi NCS yang telah diimplementasikan, misalnya pelanggan sudah bisa menandatangani berita acara pengiriman di smartphone kurir NCS apabila kiriman paket sudah diterima konsumen. “Sekitar 1.600 kurir sudah mengaplikasikan sistem android dan sisanya sekitar 200 kurir sedang dilatih untuk menggunakannya. Kami berharap ke depannya aplikasi ini digunakan agen-agen di tingkat kecamatan di seluruh Indonesia,” harapnya. Digitalisasi adalah upaya Reni mendongkrak merek perusahaanya di mata konsumen. Proses digitalisasi akan rampung pada 2016-2017. Pusat data sudah tersedia di kantor NCS. Pengembangan ini adalah bagian dari ekspansi bisnis untuk menggarap sektor ritel.

Selama ini, NCS lebih banyak menggarap klien korporat. Sebagai nakhoda perusahaan, Reni intensif menjalin komunikasi dengan setiap pegawainya dari lintas jabatan. Ia bergabung di grup whatsapp yang anggotanya terdiri dari kurir hingga manajer. Media komunikasi ini menjadi sarana untuk menggali ide bahkan menerima kritikan yang konstruktif. “Saya menerima kritikan dan ide yang baru. Saya fast learning dan mau belajar ke karyawan dan teman-teman,” tegasnya.

sumber: swa.co.id