Arsip Kategori: Rilis Media

Rilis dari DPW ALFI DKI Jakarta untuk konsumsi media massa.

Peran ALFI di Era Industri 4.0

Ketua Umum DPP ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi

JAKARTA (Alfijak): Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai digitalisasi dan logistik menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan yang kinipun telah merambah ke semua lini dan salah satunya adalah di sektor logistik.

Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP ALFI mengatakan, industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber dan merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data, termasuk cyber-fisik, Internet of Things (IoT), komputasi awan (cloud-based) dan komputasi kognitif (cognitive computing, self-learning system).

Saat ini, kata dia, kesiapan pengusaha logistik anggota ALFI untuk menyongsong era industry 4.0, melalui dua hal hal yakni; pertama, dengan menyiapkan sumber daya manusianya dengan berbagai pelatihan melalui ALFI institute.

Kedua, ALFI telah melakukan pengembangan digitalisasi Smart Logistics yang dibangun dalam Website ALFI (ilfa.or.id) dan pengembangan tersebut telah dilakukan secara bertahap, saat ini modul yang siap adalah modul impor, ekspor, track and trace, yang telah mencakup lebih dari 150 negara, selanjutnya pengembangan rantai pasok sampai dengan ke last mile delivery.

“Tahap awal Track and Trace yang saat ini dikembangkan tentunya meliputi transport laut, darat dan udara, karena pergerakan arus barang tidak hanya melalui jalur laut saja,” ujar Yukki, di Jakarta (25/2/2019).

Dia mengungkapkan, ALFI juga berkomitmen melakukan pengembangan di IoT, pergudangan, depo dan data exchange (pertukaran data), serta pelibatan sektor perbankan untuk menunjang trade financing.

Pada saat ini, ujar dia, RI menuju pada Industri 4.0 dimana pertumbuhan berada pada kecepatan atau dari economy of scale ke economy of speed dan mempengaruhi hampir di semua Industri termasuk di bidang mata rantai pasok (supplychain) dan logistik (elogistics).

Transformasi digital dari revolusi industri ketiga, Industri 4.0 adalah gabungan Operasional dengan Industri Digital.

Yukki yang juga menjabat Chairman Asean Freight Forwarder Association (AFFA) mengatakan, penggabungan akselerator dalam inovasinya salah satunya dengan implementasi IOT (internet of things), dimana ALFI telah memfasilitasi anggotanya untuk menggunakan platform tersebut melalui website ALFI (ilfa.or.id).

“ALFI akan melakukan sosialisasi secara intensif agar platform tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh anggota-anggotanya,” ucapnya.

Dalam konteks platfrom digital ini, bisnis yang tumbuh harus mencari sesuatu yang berbeda bukan sekedar menjadi lebih baik dan bicara digitalisasi.

Justru, kata Yukki, yang perlu di antisipiasi baik dalam dunia pelayaran dan logistik adalah kecepatan untuk beradaptasi dan agilitas serta transparansi dalam proses internal dan eksternal.

ALFI yang saat ini mengembangkan rantai pasok berbasis digital guna meningkatkan daya saing agar dapat menuju Indonesia yang kompetitif, dinamis dan inovatif, tentunya ALFI tidak bisa bergerak sendiri.

Dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, baik pelayaran dan trucking selaku moda transportasi dan tentunya Pemerintah dari sisi regulasi.

Pemerintah Indonesia saat ini telah meyiapkan program making Indonesia 4.0 sebagai salah satu program dalam menghadapi dunia digital, agar Indonesia bisa dengan cepat berkompetisi ditingkat regional.(ri)

Digitalisasi Logistik, CKB Gandeng Ramco 

JAKARTA (Alfijak): Ramco Systems-penyedia perangkat lunak global berbasis cloud menggandeng PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) mengimplementasikan sistem Ramco ERP Logistics untuk fase pertama.

Implementasi ini untuk digitalisasi supply chain, finansial, dan operasional gudang guna mencapai tujuan strategis dalam transformasi digital.

Implementasi tersebut terjadi, setelah kesepakatan kerja sama antara Ramco Systems dan CKB Logistics pada pekan lalu. Ini menandai tonggak penting dalam perjalanan Ramco di kawasan ini, setelah memasuki pasar Indonesia pada 2017.

Imam Sjafei, Presiden Direktur CKB Logistics,mengemukakan, perusahaan-perusahaan logistik harus melakukan digitalisasi operasional untuk mengotomasi proses yang melibatkan banyak data, agar tetap fleksibel dan dapat memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat.

“Dengan solusi dari Ramco, kami memiliki sistem terpadu yang dapat memusatkan operasional di seluruh organisasi kami, memastikan aliran informasi yang efisien dan otomatis, kata Imam.

CKB Logistics adalah anak usaha PT ABM Investama Tbk, merupakan perusahaan penyedia layanan logistik terpadu dan melayani sejumlah perusahaan-perusahaan terkemuka di sektor energi dan nonenergi dengan jangkauan lebih dari 50 lokasi jaringan operasional di seluruh Indonesia.

Bersama Ramco, lanjut dia, pihaknya berencana meningkatkan proses bisnis lebih efisiensi sesuai dengan visi strategis perusahaan.

“Saat ini kami menyelesaikan fase pertama dari program ini. Fase-fase berikutnya ditargetkan diimplementasikan pada tahun ini,”ucapnya.

Menurutnya, langkah ini sekaligus menyasar perusahaan jasa logistik, freight forwarder, dan penyedia layanan logistik pihak ketiga (3PL providers), Logistics Suite multi-fungsi Ramco mencakup modul untuk mengelola finansial, rating and billing, aset, serta manajemen transportasi dan pergudangan di CKB Logistics.

Solusi yang juga ditawarkan adalah penggunaan perangkat mobile yang memiliki kemampuan, seperti konfigurasi penyimpanan otomatis dan pengambilan otomatis, serta manajemen sumber daya dari hulu hingga ke hilir.

Perangkat mobile ini juga memungkinkan CKB Logistics melacak pengiriman, menjalankan operasional pergudangan, serta memantau biaya secara efisien.

Chairman Ramco Systems PR Venketrama Raja mengatakan ERP yang dibangun untuk penyedia layanan logistik adalah peluang pasar yang belum dipetakan.

Ramco memulai membangun rangkaian komprehensif ini untuk menggandeng penyedia logistik dan menemukan daya tarik yang sangat baik secara global.

Ramco Systems merupakan perusahaan penyedia perangkat lunak generasi masa depan yang mengubah pasar dengan multi-tenant cloud dan perangkat lunak perusahaan berbasis mobile pada HR dan Global Payroll, ERP dan M&E MRO untuk Penerbangan.

“Keberhasilan go-live di CKB Logistics akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan ERP Logistik kami. Indonesia adalah rumah bagi sekitar 265 juta orang, menjadikannya salah satu negara terpadat di dunia, dan merupakan ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara. Ketika sektor e-commerce lokal terus berkembang, permintaan untuk infrastruktur logistik yang lebih baik di negara kepulauan ini akan terus meningkat,” ujar Raja.

Mengomentari implementasi fase pertama, Virender Aggarwal, CEO Ramco Systems, menambahkan industri logistik dan kargo di Indonesia telah berkembang pesat.

“Kami sangat senang mendapatkan kepercayaan dari CKB Logistics untuk solusi logistik lengkap dari Ramco,”tuturnya.(ri)

ALFI Optimistis Daya Saing Logistik RI Akan Masuk 30 Besar

JAKARTA (Alfijak): Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyatakan optimistis daya saing logistik Indonesia akan masuk 30 besar dalam Logistik Performance Index (LPI).

Pasalnya saat ini posisi LPI Indonesia, naik peringkat dari 63 naik  46.  Namun begitu, semua pihak harus kerja keras, sebab untuk tingkat   Asean justru turun dari posisi  4 ke posisi 5.

“Artinya apa, negara tetangga kita terus berlari mengejar ketertinggalan. Karena itu,  Indonesia harus bisa masuk 30 besar di IPL. Dan kalau kita masuk 30 besar, kita bisa 3 besar di Asean. Caranya bagaimana, ekosistem harus berjalan, ini yang harus dibangun bersama ,” ujar Yukki Nugrahawan Hanafi usai meresmikan  Gedung DPW ALFI DKI Jakarta, Kamis (21/2/2019).

LPI merupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia, yang dirilis bank dunia per dua tahun sekali. LPI didasarkan pada enam aspek, yakni efisiensi customs dan border management clearance (bea cukai), kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional, kompetensi dan kualitas jasa logistik, kemampuan melakukan tracking dan  tracing, dan frekuensi pengiriman tepat waktu.

Menurut Yukki, memperbaiki daya saing logistik harus dilakukan semua pihak. Disinggung soal  biaya logistik, menurut Yukki juga semakin  membaik.

“Pada 2017 lalu, berdasarkan riset kita  23,6 persen. Pada 2018 turun 22,3 persen.  Biaya logistik kita turun tapi kurang cepat. Biaya logistik kita harus 18 persen,” pungkasnya.

BUKAN ANCAMAN

Sementara itu, Direktur Utama Dinamika, Makmur Sentosa, Daniel Utomo mengungkapkan digital disruption (disrupsi digital) dalam bisnis logistik belum menjadi ancaman saat ini. Meski ke depan, digital disruption disadari akan menjadi tantangan besar bagi industri ini.

“Para pengusaha logistik dan kargo sempat ketar ketir ketika awal munculnya jasa logistik dan pengiriman yang disediakan oleh perusahaan aplikasi. Bisa habis kita, ” kata Direktur Utama Dinamika, Makmur Sentosa, Daniel Utomo, dikutip wartaekonomi,Kamis (21/2/2019).

Namun ternyata, Ia melanjutkan, jasa tersebut yang melayani B2C (business to customer) cukup berat untuk merambah bisnis logistik B2B (business to business). Pasalnya, masing-masing perusahaan yang memesan jasa logistik memiliki kriteria yang berbeda-beda.  Belum lagi saat adanya risiko kerusakan dan kehilangan barang-barang yang diangkut, kondisi ini belum bisa dijawab oleh perusahaan aplikasi yang melayani jasa logistik.

“Apakah mereka mau menanggung risiko saat ratusan minuman kemasan botol mengalami kerusakan atau hilang di tengah jalan,” kata Daniel.

Digital disruption cukup menarik perhatiannya. Ia menaksir mungkin sekitar tiga tahun lagi mulai kelihatan disrupsi digital di jasa logistik.

Bisa saja saat ini,  perusahaan aplikasi yang memberikan jasa logistik terus melakukan perbaikan dan improvement untuk menyempurnakan layanannya.

Oleh karena itu, ia juga merencanakan membuat aplikasi berbasis mobile yang mengintegrasikan jasa logistik, pergudangan dan lainnya.(ri)

Kontribusi Sektor Logistik Tumbuh 11%

BANDUNG (Alfijak): Kontribusi sektor logistik diprediksi bakal menyumbang nilai ekonomi sekitar Rp889,4 triliun atau mengalami pertumbuhan sekitar 11,56% pada tahun 2019.

Ditambah pertumbuhannya diyakini mencapai sebesar 11,56% dengan rincian pada 2018 lalu Rp797,3 triliun dan bakal menjadi Rp889,4 triliun pada tahun ini.

“Sektor logistik yang dikatagorikan BPS transportasi dan pergudangan akan memberi andil sebesar 5,37% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) yang bernilai Rp14.837,36 triliun,” ujar Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi di Bandung, kemarin.

Berdasarkan analisis SCI terhadap data BPS, sektor logistik tahun 2018 tumbuh sebesar 8,44% dari tahun 2017 yang sebesar 735,2 triliun. Namun, kontribusi terhadap PDB mengalami penurunan, yaitu pada tahun 2018 sebesar 5,37%, sedangkan pada tahun 2017 sebesar 5,41%.

Menurut dia, pertumbuhan sektor logistik pada tahun ini didorong oleh pertumbuhan Industri Pengolahan Nonmigas terutama industri makanan dan Perdagangan. Karena adanya peningkatan produksi barang-barang domestik dan impor. “Selain itu, sektor Pertanian juga mengalami pertumbuhan, sektor konstruksi tumbuh dengan peningkatan pembangunan infrastruktur,” jelas dia.

Diterangkan olehnya sektor logistik faktor sangat penting pendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, sektor ini menjadi unsur pembentuk konektivitas untuk daya saing nasional, walaupun perbaikan dan pengembangan sektor logistik sulit karena bersifat multisektoral.(ri)

ASTRA PASOK TRUK KE PUNINAR LOGISTICS

JAKARTA (Alfijak): Astra UD Trucks, distributor resmi terpercaya produk UD Trucks, memasok 22 unit Quester CQE280 kepada Puninar Logistics di kantornya yang berada di kawasan Cakung Cilincing.

Puninar Logistics merupakan salah satu mitra bisnis Astra UD Trucks sejak tahun 2008, diawali dengan pembelian Nissan Diesel. Sudah 77 unit Quester yang telah dibeli dari Astra UD Trucks, meliputi tipe GKE 280, CDE 250, serta yang terbaru adalah CQE 280 (8×2).

Produk CQE 280 diciptakan sebagai dukungan UD Trucks terhadap peraturan pemerintah tentang Over Dimension Over Load (ODOL), dimana produk Quester ini memiliki tambahan Axle, sehingga dapat mengangkut lebih banyak, namun tetap aman dan mengikuti aturan yang berlaku.

Unit Quester diserahterimakan kepada Roby Kurniawan selaku CEO Puninar Logistics. Ia mengungkapkan dalam menjalankan aktivitas perusahaan, perlu dukungan armada yang tangguh dan handal. Ia menyebut Quester menjadi pilihan karena kenyamanan interior yang ditawarkan Quester bagi pengemudi melalui kabin luas yang dilengkapi air conditioner (AC) juga membantu meningkatkan kinerja prima para pengemudi kami. “Selain itu faktor penting lainnya kesiapan Astra UD Trucks dalam memberikan layanan dan servis, ketersediaan suku cadang, serta kemudahan menghubungi personel Astra UD Truck saat mengalami masalah,” ujar Roby.

Perayaan serah terima 22 unit Quester CQE 280 (8×2) ini juga menandai hari jadi Puninar Logistics yang ke-50 tahun. Berkembangnya sektor logistik meningkatkan optimisme Puninar Logistic dalam perluasan bisnisnya. Pada kesempatan ini Astra UD Trucks juga memberikan pelayanan istimewa yaitu dengan penyediaan fast response bagi armada pelanggan yang berada di seluruh cabang Astra UD Trucks di Indonesia.

“Astra UD Trucks akan terus berkomitmen untuk menyediakan total solusi transportasi terdepan kepada mitra bisnisnya berupa kemudahan, kecepatan, ketepatan dan kenyamanan, melalui serangkaian program dan layanan purna jual yang berkesinambungan untuk menunjang kebutuhan operational mitra bisnis kami,” ujar Winarto Martono, Chief Operating Officer Astra UD Trucks.

Sejak tahun 2015, Quester sudah terjual 8000 unit di seluruh Indonesia.(ri)

Industri Sektor Riil Dipacu

JAKARTA (Alfijak) : Pemerintah sedang melakukan identifikasi terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang akan meningkatkan kapasitas produksinya baik untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sebagai substitusi impor maupun keperluan mengisi kancah ekspor.

Kepada perusahaan-perusahaan tersebut, pemerintah siap memberikan beberapa kemudahan fasilitas.

“Fasilitas itu antara lain, kemudahan untuk mendapatkan mesin dan barang modal yang lebih cepat, kemudian jaminan akses terhadap ketersediaan bahan baku,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada kunjungan kerjanya di PT. Sukorejo Indah Textile (Sukorintex), Batang, Jawa Tengah, disalin dari siaran resmi, baru-baru ini.

Menperin menambahkan, seiring menggenjot produktivitas industri TPT, Kementerian Perindustrian juga melakukan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) melalui program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Upaya strategis itu sebagai salah satu wujud nyata dari komitmen pemerintah dalam membangun SDM yang kompeten, sesuai kebutuhan dunia industrinya saat ini dan sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0,” paparnya.

Bahkan, Kemenperin telah mengusulkan mengenai penerapan skema insentif fiskal berupa super deductible tax atau pengurangan pajak di atas 100 persen.

Fasilitas ini akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan inovasi.

“Skema yang diusulkan adalah pengurangan pajak bagi industri yang terlibat dalam pelatihan dan pendidikan vokasi sebesar 200 persen. Sedangkan, bagi industri yang melakukan kegiatan litbang atau inovasi sebesar 300 persen,” ungkap Airlangga

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan terjadi peningkatan kapasitas dan daya saing industri secara nasional, termasuk perusahaan-perusahaan TPT. “Kami optimis akan terjadi peningkatan ekspor TPT sampai dengan USD15 miliar pada tahun 2019,” tandasnya.

Kemenperin mencatat, ekspor TPT nasional pada tahun 2018 diproyeksi mencapai USD13,28 miliar, naik 5,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Industri TPT nasional mampu memberikan share ekspor dunia sebesar 1,6 persen.

Bahkan, industri TPT menunjukkan kinerja gemilang sepanjang tahun 2018, dengan pertumbuhan sebesar 8,73 persen. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,17 persen.

“Hingga saat ini, industri TPT di dalam negeri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,58 juta orang atau 21,2 persen dari total tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Ini menunjukkan industri TPT merupakan sektor padat karya,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. Sukorintex atas upayanya untuk terus mengembangkan industri TPT di dalam negeri serta menjaga brand image untuk produknya.

“Kami berharap agar perusahaan dapat melakukan investasi tambahan dan menciptakan inovasi dalam meningkatkan kualitas produk yang dapat menjadi andalan nasional,” tegasnya.

PT. Sukorintex adalah perusahaan tekstil yang fokus dalam memproduksi sarung tenun dengan brand image yang kuat yaitu “Wadimor”. PT. Sukorintex mampu memproduksi sarung tenun sebanyak 25,2 juta lembar per tahun.

Saat ini, pabrik telah menyerap tenaga kerja lebih dari 3.000 orang, yang 85 persen berasal dari masyarakat sekitar perusahaan di Kabupaten Batang.

Direktur Sukorintex Taher Ba’agil mengatakan, perusahaan mencatatkan pertumbuhan penjualan mencapai 30 persen sepanjang 2018 dan diperkirakan meningkat pada tahun ini seiring dengan pengembangan inovasi produk.

“Melalui warna yang beragam dan corak baru, memengaruhi permintaan produk Wadimor yang cukup signifikan,” ujarnya. Saat ini, hampir 75 persen produk Wadimor diserap di dalam negeri sedangkan sisanya diekspor, antara lain ke Malaysia, Dubai, Yaman, Afghanistan. dan Myanmar.

PT. Sukorintex berkomitmen kuat melalui visinya untuk menjadikan Wadimor sebagai sarung nomor satu di Indonesia. Filosofi perusahaan untuk terus melakukan inovasi dan desain yang beraneka ragam sejalan dengan peta jalan pengembangan produk TPT di era industri 4.0.

Berdasarkan Making Indonesia 4.0, industri TPT merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat.

Aspirasi besar yang akan diwujudkan adalah menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi nasional masuk jajaran lima besar dunia pada tahun 2030.(ri)

MSA KARGO TAMBAH FASILITAS GUDANG DI SEMARANG

SEMARANG (Alfijak): Kota Semarang, akan menjadi salah satu  primadona bagi para penggiat bisnis  logistik dan forwarder.

Geliatnya sudah bisa  dirasakan dengan gencarnya pemerintah membangun infrastuktur, khususnya  jalan tol yang menghubungkan berbagai kota di pulau Jawa.

Dengan tersambungnya Pulau Jawa ini, maka akan memudahkan dan mempercepat kegiatan jasa pengiriman barang. Namun, semua itu akan menjadi sia-sia jika tidak diimbangi dengan ketersediaan industri logistik yang memadai.

Peluang itu dilihat MSA Kargo yang telah berkiprah di bidang logistik sejak tahun 1981. Mereka kemudian membangung gudang logistik di sekitar Tanjung Emas yang diresmikan pada 15 Februari lalu.

“Kedepan bisnis jasa pengurusan transportasi tidak hanya terbatas  pada kegiatan Freight Forwarding saja, tetapi sudah merambah kepada sektor  industri logistic. Oleh karena itu pada tahun 2000 dan 2005, saya berketetapan hati untuk membeli lahan di Jalan Tanjung Mas Semarang seluas 16 ribu meter persegi untuk membangun sebuah gudang logistik, atau dengan istilah saya hotel barang,” ungkap pemilik PT Monang Sianipar Abadi (MSA Kargo), Monang Sianipar dalam keterangan pers yang dikirim Sabtu (16/2/2019).

Monang menambahkan, pembangunan gudang ini bukan tanpa risiko,  mengingat pada waktu itu, kondisi perekonomian masih labil dan kurang  berkembang. “Insting bisnis saya mengatakan bahwa kedepan Jawa Tengah akan menjadi daerah dengan induatri logistik terkemuka di Indonesia,” imbuhnya.

MSA Kargo menyelesiakan pembangunan gudang logistic secara bertahap. Pada September 2016 lalu, perusahan ini telah berhasil membangun gudang barang seluas 6 ribu meter persegi. Dan di bulan ini, tepatnya pada 15 Februari 2019 akan meresmikan gudang baru, yang dibangun di atas tanah seluas 2,3 ribu meter persegi.

“Saya berharap dengan beroperasinya gudang baru ini, akan membantu ketersediaan gudang barang di Semarang yang terbilang masih sedikit, begitu juga di daerah Jawa Tengah,” jelasnya.

Kini MSA Kargo telah menyebar di berbagai kota di Indonesia, antara lain, Jakarta (5 kantor), Bandung (2 kantor), Medan (2 kantor), Batam (1 kantor), Balikpapan (1 kantor), Ujung Pandang (2 kantor), Surabaya (2 kantor), Denpasar (4 kantor), Semarang (2 kantor), Solo (2 kantor), Yogyakarta (2 kantor) dan Jepara (1 kantor).

“Semarang menjadi pilot project MSA Kargo pertama, dari 12 kota cabang MSA Kargo yang akan dikembangkan di masa depan. Kami ingin membuat hotel barang dan berusaha membuat quality system sebagai garansi atas produk utama kami,” ujar Monang. (ri)

Pelindo III Siapkan Rp.6,4 Triliun Untuk Investasi 2019

SURAKARTA (Alfijak): PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menyiapkan investasi Rp6,44 triliun untuk membiayai sejumlah proyek strategis di seluruh wilayah kerjanya di tujuh provinsi sepanjang tahun 2019.

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung mengungkapkan 84% atau sekitar Rp5,4 triliun dari rencana investasi itu akan dialokasikan untuk proyek multi years dan sisanya 16% atau sekitar Rp1,04 triliun untuk membiayai proyek baru.

BUMN itu juga menargetkan arus peti kemas pada tahun 2019 tumbuh 7% menjadi 5,7 juta TEUs dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu sebesar 5,3 juta TEUs.

Perseroan juga mengestimasi kenaikan arus peti kemas itu salah satunya didorong oleh peningkatan produktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, seiring dengan selesainya pekerjaan pendalaman kolam pelabuhan dari -8 meter LWS menjadi -12 meter LWS.

Pendorong lainnya, yakni peningkatan arus peti kemas transhipment domestik menyusul pemberlakuan tarif khusus 65% dari tarif normal, serta peningkatan arus peti kemas di Pelabuhan Banjarmasin, Pelabuhan Bagendang Sampit, dan Pelabuhan Bumiharjo.

“Investasi kami tahun ini masih fokus pada penyelesaian pembangunan infrastruktur pelabuhan dan pendukungnya, seperti akses jalan layang (flyover) yang menghubungan Terminal Teluk Lamong dengan jalan tol dan pembangunan Terminal Gilimas di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat,” katanya dalam Rapat Kerja Pelindo III di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (13/2).

Menurut dia, investasi tersebut akan berdampak positif bagi operasional pelabuhan. Sebagai contoh, jalan layang Terminal Teluk Lamong akan mengurai kemacetan di jalan akses menuju terminal itu. Nantinya, jalan akses Terminal Teluk Lamong akan langsung terhubung dengan jalan tol Surabaya-Gresik.

Contoh lain, lanjut Doso, di Terminal Gilimas Lombok Barat, dulu kapal pesiar tidak bisa bersandar di Pelabuhan Lembar (pelabuhan eksisting) karena kendala kedalaman alur dan kolam pelabuhan. Wisatawan kapal pesiar terpaksa menaiki kapal-kapal kecil untuk mencapai dermaga.

“Setelah ada Terminal Gilimas, kapal pesiar dapat langsung bersandar dan menurunkan wisatawan di terminal pelabuhan. Selain itu mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Flyover Terminal Teluk Lamong dan Terminal Gilimas ini akan siap tahun ini,” jelasnya.

Pelindo III juga menyiapkan beberapa pekerjaan baru pada 2019, seperti pembangunan terminal LNG di Pelabuhan Tanjung Perak, pemasangan sejumlah shore power connection di sejumlah pelabuhan, dan modernisasi peralatan bongkar muat di sejumlah pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo III.

Sumber pendanaan masih menggunakan kas internal perusahaan serta hasil dari pinjaman global (global bond) pada 2018 sebesar US$500 juta. “Kami juga akan melakukan kerja sama, baik sinergi BUMN maupun dengan pihak swasta, serta mendorong optimalisasi sumber daya Pelindo III Group,” ungkap Doso.(ri)

Rakernas Aptrindo: Optimistis Bisnis Angkutan Tetap Tumbuh

JAKARTA: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO), yang digelar di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Rakernas Aptrindo itu juga berbarengan dengan HUT ke 4 asosiasi itu dengan mengambik tema ‘Meningkatkan Peran Aptrindo Sebagai Salah Satu Urat Nadi Kelancaran Logistik Nasional’.

Rapat kerja nasional Aptrindo itu dilaksanakan selama dua hari yakni pada 14-15 Februari 2019 dan dihadiri sekitar 500 anggota yang berasal dari 18 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 12 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Aptrindo di seluruh Indonesia.

Juga dihadiri asosiasi penyedia dan pengguna jasa antara lain; Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Indonesia National Shipowners Association (INSA), Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI), Organda, Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki), Apindo.

Selain itu, Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia, Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI), dewan transportasi kota Jakarta, manajemen IPC/Pelindo II dan manajemen terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok.

Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi mengatakan, mengapresiasi kegiatan Rakernas Aptrindo tersebut.

Rakernas Aptrindo juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah nara sumber, antara lain; Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Kakorlantas Polri, Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Gemilang Tarigan, Ketua Umum DPP Aptrindo mengatakan, Rakernas 2019 merupakan amanat AD/ART serta program organisasi.

“Kita tetap optimistis kendati tahun ini merupakan tahun politik, namun bisnis angkutan logistik dan transportasi diharapkan tetap tumbuh,”ujarnya.

Gemilang mengungkapkan, sejumlah persoalan yang masih menghantui bisnis angkutan logistik antara lain; premanisme di jalan raya dan belum adanya stimulus bagi usaha angkutan barang.(ri)