Arsip Tag: DIGITALISASI LOGISTIK

Platform Logistik ‘My Cargo’, Akomodir Pebisnis & Stakeholders

Adil Karim, Sekum DPW ALFI DKI JAKARTA

JAKARTA-Platform digital logistik bernama Smart Port atau sering disebut My Cargo, yang merupakan karya anak bangsa kini mencuri perhatian para pelaku bisnis di tanah air.

Berdasarkan kalkulasi dan survey Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), penggunaan platform itu dalam kegiatan logistik nasional saat ini dapat menurunkan biaya pengambilan dokumen delivery order (DO) untuk impor sebesar 75%, antrian diloket pelabuhan 50% dan post clearance 75%.

“Sehingga kita benar-benar dapat memangkas dwelling time. Artinya DO online harus terintegrasi dalam satu sistem karena selama ini masih mengambil ke pelayaran lantaran belum online secara terintegrasi,”ujar Adil Karim, Sekretaris Umum DPW ALFI DKI Jakarta,seperti dikutip dari betitakapal.com, Kamis (7/3)

Dengan menggunakan platform my cargo, sekaligus memfasilitasi pengguna jasa melakukan permohonan dokumen delivery order DO secara online tanpa harus datang ke perusahaan pelayaran (shipping line).

Olehkarenanya, ALFI mencatat penurunan biaya logistik setelah digitalisasi secara integrasi itu diterapkan.

Pasalnya, pola manual/konvensional untuk pengurusan delivery order (DO) payment di lingkup Pelabuhan Tanjung Priok saja harus merogoh kocek pebisnis hingga Rp187 miliar per tahun. Pengeluaran itu hanya untuk kurir, belum termasuk uang bensin dan uang makan.

“Kami prihatin, makanya butuh sistem digital logistik yang terintegrasi semua pihak bisa. Ekosistem logistik di Malaysia saja berencana akan implementasikan platform my cargo yg notabene karya anak bangsa kita itu, sementar kita masih berpolemik pada ego sektoral di dalam negeri kita sendiri,”ucapnya.

Adil mengungkapkan, pada platform itu juga sudah dikembangkan untuk kegiatan ekspor yang terhubung lebih dari 120 ribu pelabuhan, lebih dari 150 negara dan pelayaran ocean going serta koneksi manifest langsung ke 4 negara yakni USA, Canada, Jepang dan China.

“Saat ini kami sedang mengembangkan yang namanya pertukaran data elektronik (PDE) mandiri yang akan kami masukkan dalam platform tersebut,” tandasnya.

Dengan memasukkan PDE Mandiri dalam platform my cargo, imbuh Adil, nantinya dokumen ekspor dari negara asal yang sudah selesai customs menjadikan dokumen impor dan tidak perlu mengetik lagi karena ada engine data dalam sistem.

Dengan begitu, akan memangkas waktu bagi perusahaan pengurusan jasa kepabeanan (PPJK) maupun importir dalam hal pengeluaran barang impor.Begitupun sebaliknya terhadap dokumen ekspor yang sudah melalui proses bea cukai menjadikan dokumen impor negara tujuan.

“Untuk sementara kita ambil sample malaysia dan yang paling penting di dalam sistem PDE mandiri tersebut ada juga pengawasannya atau intelijennya sehingga pelaku usaha tidak bisa lagi merubah dokumen atau nilai transaksi atau juga merubah post tarif. Artinya kita mendukung pemerintah dalam hal pendapatan negara melalui bea masuk, ppn pph ataupun bea keluar,”paparnya.

Konkretnya, kata Adil, dalam platform my cargo itu juga telah mengakomodir kepentingan proses bisnis yang berkaitan dengan flow of dokumen, flow of barang dan flow of financing didalam nya, sehingga memudahkan untuk pengguna platform itu men-tracking and tracing.(ri)

Digitalisasi Cross Border Logistik Indonesia

DIGITALISASI logistik Indonesia merupakan kata-kata kekinian yang hadir dalam setiap diskusi logistik di Indonesia. Semua pemangku kepentingan dalam logistik menyatakan inilah kunci masa depan logistik Indonesia.

Digitalisasi logistik selalu diawali dengan transformasi digital. Hal yang perlu digarisbawahi dalam transformasi digital adalah adanya perubahan business process yang memajukan nilai faster, better dan cheaper.

Ketiga nilai tersebut akan menciptakan operational excellence, dimana terjadi peningkatan kecepatan, kualitas dan efisiensi yang diiringi dengan penurunan biaya.

Transformasi digital bukan hanya semata-mata memindahkan proses bisnis manual menjadi digital melalui penerapan system tertentu, melainkan harus disertai dengan perubahan business process yang mengedepankan tiga nilai tersebut.

Perubahan bisnis proses inilah yang seringkali menimbulkan gesekan diatara pemangku kepentingan, sebab terkadang perubahan ini terhalang ego sektoral dimana tidak diinginkan adanya perubahan peran dari pihak terkait.

Optimalisasi ketiga nilai digitalisasi memerlukan keterlibatan banyak pihak atau pemangku kepentingan. Keterlibatan para pemangku kepentingan tersebut tidak terbatas pada keterikatan terhadap suatu platform tertentu saja, melainkan diperlukan adanya integrasi dalam suatu ecosystem yang memberikan nilai tambah kepada seluruh pemangku kepentingan.

Integrasi menjadi kata kunci dalam Industry 4.0. Semakin banyak integrasi yang dilakukan, semakin tinggi nilai tambah yang diberikan dan nilai baru yang dihasilkan.

Dalam mendukung program Pemerintah terkait peningkatan volume ekspor Indonesia, terutama ekspor usaha kecil dan menengah, serta penurunan biaya logistik Indonesia diperlukan suatu konektivitas dan integrasi logistik yang baik dengan pihak luar negeri.

Hal ini sejalan dengan ASEAN Connectivity 2025, dimana nilai utama yang dimajukan adalah seamless logistic guna menurukan biaya logistik setiap anggota ASEAN. Ecosystem logistik yang saat ini dikembangkan oleh ALFI yang mengedepankan nilai trusted dan secure telah terintegrasi dengan ecosystem logistik di negara-negara anggota ASEAN.

Integrasi di kawasan regional merupakan value proposition yang ditawarkan ALFI kepada dunia usaha di Indonesia. Pertukaran data dalam ecosystem regional yang terintegrasi menciptakan efisiensi yang berdampak langsung kepada dunia usaha Indonesia.

Implementasi ecosystem ini dapat mempersingkat waktu pembuatan dan pengurusan dokumen dari hitungan hari menjadi hitungan jam. Otomatisasi yang menjadi warna dalam industry 4.0 juga hadir dalam ecosystem ALFI.

Pertumbuhan perdangangan digital antar negara saat ini harus didukung konektivitas dan integrasi logistik antar negara. Indonesia sebagai pemain penting dalam perekonomian regional maupun global harus aktif berinteraksi dengan dunia luar.

Interaksi digital melalui konektivitas dan integrasi ecosystem logistik Indonesia harus menjadi garda depan perdangangan luar negeri. Hal inilah yang selalu mendorong ALFI untuk aktif mengembangkan ecosystem yang dimiliki.

ALFI tidak hanya mengintegrasikan kegiatan logistic di Indonesia, tetapi juga membawa logistik Indonesia aktif berinteraksi di dunia regional maupun internasional.

(Penulis : Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia)

Digitalisasi Logistik, CKB Gandeng Ramco 

JAKARTA (Alfijak): Ramco Systems-penyedia perangkat lunak global berbasis cloud menggandeng PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) mengimplementasikan sistem Ramco ERP Logistics untuk fase pertama.

Implementasi ini untuk digitalisasi supply chain, finansial, dan operasional gudang guna mencapai tujuan strategis dalam transformasi digital.

Implementasi tersebut terjadi, setelah kesepakatan kerja sama antara Ramco Systems dan CKB Logistics pada pekan lalu. Ini menandai tonggak penting dalam perjalanan Ramco di kawasan ini, setelah memasuki pasar Indonesia pada 2017.

Imam Sjafei, Presiden Direktur CKB Logistics,mengemukakan, perusahaan-perusahaan logistik harus melakukan digitalisasi operasional untuk mengotomasi proses yang melibatkan banyak data, agar tetap fleksibel dan dapat memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat.

“Dengan solusi dari Ramco, kami memiliki sistem terpadu yang dapat memusatkan operasional di seluruh organisasi kami, memastikan aliran informasi yang efisien dan otomatis, kata Imam.

CKB Logistics adalah anak usaha PT ABM Investama Tbk, merupakan perusahaan penyedia layanan logistik terpadu dan melayani sejumlah perusahaan-perusahaan terkemuka di sektor energi dan nonenergi dengan jangkauan lebih dari 50 lokasi jaringan operasional di seluruh Indonesia.

Bersama Ramco, lanjut dia, pihaknya berencana meningkatkan proses bisnis lebih efisiensi sesuai dengan visi strategis perusahaan.

“Saat ini kami menyelesaikan fase pertama dari program ini. Fase-fase berikutnya ditargetkan diimplementasikan pada tahun ini,”ucapnya.

Menurutnya, langkah ini sekaligus menyasar perusahaan jasa logistik, freight forwarder, dan penyedia layanan logistik pihak ketiga (3PL providers), Logistics Suite multi-fungsi Ramco mencakup modul untuk mengelola finansial, rating and billing, aset, serta manajemen transportasi dan pergudangan di CKB Logistics.

Solusi yang juga ditawarkan adalah penggunaan perangkat mobile yang memiliki kemampuan, seperti konfigurasi penyimpanan otomatis dan pengambilan otomatis, serta manajemen sumber daya dari hulu hingga ke hilir.

Perangkat mobile ini juga memungkinkan CKB Logistics melacak pengiriman, menjalankan operasional pergudangan, serta memantau biaya secara efisien.

Chairman Ramco Systems PR Venketrama Raja mengatakan ERP yang dibangun untuk penyedia layanan logistik adalah peluang pasar yang belum dipetakan.

Ramco memulai membangun rangkaian komprehensif ini untuk menggandeng penyedia logistik dan menemukan daya tarik yang sangat baik secara global.

Ramco Systems merupakan perusahaan penyedia perangkat lunak generasi masa depan yang mengubah pasar dengan multi-tenant cloud dan perangkat lunak perusahaan berbasis mobile pada HR dan Global Payroll, ERP dan M&E MRO untuk Penerbangan.

“Keberhasilan go-live di CKB Logistics akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan ERP Logistik kami. Indonesia adalah rumah bagi sekitar 265 juta orang, menjadikannya salah satu negara terpadat di dunia, dan merupakan ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara. Ketika sektor e-commerce lokal terus berkembang, permintaan untuk infrastruktur logistik yang lebih baik di negara kepulauan ini akan terus meningkat,” ujar Raja.

Mengomentari implementasi fase pertama, Virender Aggarwal, CEO Ramco Systems, menambahkan industri logistik dan kargo di Indonesia telah berkembang pesat.

“Kami sangat senang mendapatkan kepercayaan dari CKB Logistics untuk solusi logistik lengkap dari Ramco,”tuturnya.(ri)