Arsip Kategori: Rilis Media

Rilis dari DPW ALFI DKI Jakarta untuk konsumsi media massa.

Biaya logistik melonjak, akses waterway ke & dari Priok perlu

Biaya logistik melonjak, akses waterway ke & dari Priok perlu
Biaya logistik melonjak, akses waterway ke & dari Priok perlu

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara tetap melayani aktivitas bongkar muat peti kemas selama musim Lebaran. Artinya, pelabuhan internasional ini tetap beroperasi nonstop selama 24 jam. Jelang Lebaran, pelabuhan pelat merah ini mengklaim ada peningkatan bongkar muat kargo sekitar 10 persen jika dibanding bulan-bulan biasanya.

Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Pelindo II Saptono Irianto mengatakan, saat ini memang peningkatannya belum terlalu signifikan. Menjelang Lebaran, terutama satu minggu sebelumnya, kata Saptono, peningkatannya banyak karena ada ketentuan lima hari sebelum hari H.

“Untuk kargo peningkatannya belum banyaklah, tapi sudah mulai meningkat bicara kargo ya bicara jutaan ton bicara kontainer juga bicara jutaan TEUs. Kita siap, dari dulu tidak Lebaran juga 24 jam karena international ports itu harus open 24 hours 24/7,” ungkap Saptono di kantor JIEP, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (27/6).

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan lamanya waktu bongkar muat untuk barang atau peti kemas (dwell time) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dapat dipangkas menjadi 2 hari.

“Praktik di lapangan tak mudah untuk mengurangi dwell time. Meski begitu, dwell time di Pelabuhan Tanjung Priok sudah membaik menjadi 3,4 hari. Membaik lah mendekati 3 hari sudah di bawah 4 hari ini, fluktuatif jadi kalau bulan kemarin ya kira-kira 3,4 hari.

Berbagai cara ditempuh untuk menekan dwell time di Pelabuhan Tanjung Priok, seperti menghidupkan kembali jalur kereta ke Pelabuhan Tanjung Priok. Ada juga pengenaan tarif progresif untuk peti kemas yang telah lolos tahapan customs clearance.

Intinya gini distribusi barang keluar masuk pelabuhan itu bisa dicapai melalui moda transportasi, moda transportasi apa saja? Yaitu highway jalan raya, railway kereta api, maupun water way melalui sungai itu harusnya ada semuanya nanti tinggal tingkat efisiensi efektivitasnya mana yang paling unggul,” tepisnya.

Kembangkan Pulogadung

Di bagian lain, lima BUMN; PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), PT PP, PT Telkom, Pelindo II, dan PT Nindya Karya bersinergi menandatangani kerja sama pengembangan kawasan industri di Pulogadung, Jakarta Timur.

“Sinergi ini akan membantu upaya kami untuk mewujudkan target transformasi kawasan industri di Pulogadung yang bernilai tambah tinggi, mandiri, berstandar internasional, dan berwawasan lingkungan,” ujar Direktur Utama PT JIEP Rahmadi Nugroho.

‪Kerja sama JIEP dengan Telkom, rinci Rahmadi, meliputi pengelolaan pusat kesehatan dan penggunaan kartu pintar (smart card), pengelolaan media luar ruangan, serta cross selling product dan joint marketing.

Sementara dengan BUMN konstruksi, lanjut dia, PP dan Nindya Karya, kerja sama pengembangan dan optimalisasi lahan di kawasan JIEP, khususnya di Blok I.

Sedangkan dengan Pelindo II, kerja sama ini akan menjadi awal transformasi kawasan JIEP untuk mendukung sistem logistik nasional menjadi lebih baik.

“Saat ini Pelindo II dan JIEP juga tengah merintis adanya Internasional Halal Hub serta The International Logistics and Supply Chain Management Centre. JIEP masih memiliki lahan dengan luas sekitar 500 hektare yang akan dikembangkan.

Dalam rencana jangka panjang karena lokasi kita di tengah Jakarta kita tingkatkan daya gunanya salah satunya space sempit dengan basic IT kawasan ini 500 hektare kenapa nggak dikembangkan jadi kawasan kreatif based IT maupun budaya ada di sini salah satunya kuliner contohnya masih ada lagi lainnya,” ucap Rahmadi.

Namun Rahmadi enggan membeberkan nilai investasi pengembangan dan sistem pembiayaan pengembangan kawasan industri Pulogadung. “Saat ini masih dikaji pendanaan juga masih dikaji,” pungkasnya.

Biaya meroket

Sekretaris Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan, sejak terminal operator (TO) 3 pelabuhan Priok melayani kegiatan peti kemas internasional seringkali menimbulkan kemacetan dan kepadatan di pelabuhan Priok.

“Mesti diatur kembali tata ruang pelabuhan Priok oleh Pelindo II agar arus barang bisa lebih lancar,”ujarnya kepada Bisnis, Rabu (29/6/2016).

Adil mengatakan, Alfi mendukung rencana Manajemen Pelindo II untuk menata ulang terminal Priok menjadi dedicated area.

“Pak Elvyn Dirut Pelindo II pernah menyampaikan akan tata kembali fungsi terminal di Priok menjadi dedicated area.Makanya kami dukung hal tersebut,”tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mengatakan, bahwa pengoperasian terminal operator (TO) 3 di Tanjung Priok sebagai terminal petikemas internasional sangat membebani pengusaha.

Selain biayanya mahal,kata dia, terbatasnya lahan di area terminal membuat pemilik barang harus mencari lahan lain untuk penempatan kontainer.

“Area yang terbatas membuat terminal 3 belum layak untuk melayani petikemas internasional. Karena secara biaya juga semakin memberatkan pemilik barang,” kata ketua Depalindo Toto Dirgantoro.

sumber: bisnis.com/indopos.co.id

Operator perlu perhatikan kontener domestik

adil karim
adil karim

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mendesak optimalisasi fasilitas eks terminal 2 Jakarta International Container Terminal (JICT) guna mendukung kelancaran arus barang dan waktu tunggu kapal atau waiting time di Pelabuhan Tanjung Priok.

JAKARTA (alfi): Sekretaris DPW ALFI DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan, saat ini fasilitas eks terminal 2 JICT di pelabuhan Priok tersebut tidak termanfaatkan secara komersial atau idle.

Dia memperoleh informasi bahwa saat ini fasiltas dermaga dan lapangan container (CY) terminal 2 tersebut sudah diserahterimakan pengelolaan operasinya kepada Pelindo II Tanjung Priok.

Sebelumnya,fasilitas yang memiliki draft sekitar – 9 meter low water spring (LWS) itu dikelola operasikan Hutchison Port Indonesia (HPI) dan Pelindo II melalui PT.Jakarta International Container Terminal (JICT).

Namun saat ini JICT hanya mengelola terminal 1 pasca adanya perubahan kontrak pengelolaan terminal peti kemas di pelabuhan Priok, pada akhir tahun lalu.

Pantauan Bisnis, fasilitas dermaga yang mampu melayani sekurangnya tiga kapal sekaligus tersebut saat ini hanya sesekali disinggahi untuk kepentingan sandar kapal-kapal tamu negara maupun kapal militer.

“Waktu dikelola bersama masih ada kapal kontener feeder internasional yang singgah di terminal tersebut dengan ukuran dibawah 1.000 TEUs. Tetapi saat ini fasilitas tersebut idle seharusnya kondisi ini tidak boleh dibiarkan.Sebab fasilitas itu kini merupakan milik Pelindo selaku BUMN kepelabuhanan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/5).

Adil mengatajan, sangat memungkinkan jika fasilitas eks terminal 2 JICT itu dioptimalkan guna melayani kegiatan pengapalan dan bongkar muat kontener domestik/antar pulau yang saat ini belum memdapat perhatian serius dari operator pelabuhan.

“Selama ini operator di pelabuhan Priok terlalu hanya fokus pada layanan kapal dan bongkar muat kontener internasional. Sedangkan layanan kontener domestik kurang mendapat prioritas,sehingga sering terjadi antrean kapal domestik di pelabuhan itu,”paparnya.

Adil menyebutkan,waiting time kapal kontener domestik juga memengaruhi kelancaran arus barang sebab banyak barang impor yang juga harus diangkut lanjut pengapalan tujuan antar pulau, begitupun kargo ekspor yang berasal dari daerah lain yang dikapalkan terlebih dahulu ke Priok sebelum proses pengapalan tujuan ekspor.

ALFI, kata dia, berharap Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelindo II sebagai operator pelabuhan Priok dapat mencarikan jalan keluar dengan melibatkan seluruh asosiasi pelaku usaha di Priok untuk mengoptimalkan fasilitas eks terminal 2 JICT itu.

Dikonfirmasi Bisnis, Dirut PT.Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), Arif Suhartono mengatakan, terkait pengelolaan dan operasional eks terminal 2 JICT oleh PTP masih menunggu selesainya proses legal.

Sementara itu, Kepala Kantor OP Tanjung Priok Jakarta, Bay M.Hasani mengatakan, instansinya akan mendorong pengoptimalan fasilitas eks terminal 2 JICT di pelabuhan Priok.

“OP Priok segera layangkan surat ke Pelindo II untuk mempertanyakan hal tersebut.Juga akan melibatkan pengguna jasa terkait dalam rangka bagaimana mengoptimalisasi fasilitas itu,” ujarnya.

Bay menegaskan, seluruh fasilitas dan pelayanan di pelabuhan harus bisa dioptimalkan dalam mendorong kelancaran arus barang dan menekan biaya logistik.”Jangan sampai ada fasilitas yang idle,” tuturnya.

Sementara Dirut Pelindo II/IPC, Elvyn G.Masassya belum mau berkomentar banyak mengenai optimalisasi fasilitas eks terminal 2 JICT di Pelabuhan Priok.

“Saya sedang orientasi/konsolidasi untuk memetakan seluruh masalah. Baru dua pekan saya joint di Pelindo II. Nanti setelah terpetakan akan saya infokan semua,”ujar Elvyn kepada Bisnis (16/5)

 sumber: bisnis.com