ALFI Optimistis Daya Saing Logistik RI Akan Masuk 30 Besar

JAKARTA (Alfijak): Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyatakan optimistis daya saing logistik Indonesia akan masuk 30 besar dalam Logistik Performance Index (LPI).

Pasalnya saat ini posisi LPI Indonesia, naik peringkat dari 63 naik  46.  Namun begitu, semua pihak harus kerja keras, sebab untuk tingkat   Asean justru turun dari posisi  4 ke posisi 5.

“Artinya apa, negara tetangga kita terus berlari mengejar ketertinggalan. Karena itu,  Indonesia harus bisa masuk 30 besar di IPL. Dan kalau kita masuk 30 besar, kita bisa 3 besar di Asean. Caranya bagaimana, ekosistem harus berjalan, ini yang harus dibangun bersama ,” ujar Yukki Nugrahawan Hanafi usai meresmikan  Gedung DPW ALFI DKI Jakarta, Kamis (21/2/2019).

LPI merupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia, yang dirilis bank dunia per dua tahun sekali. LPI didasarkan pada enam aspek, yakni efisiensi customs dan border management clearance (bea cukai), kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional, kompetensi dan kualitas jasa logistik, kemampuan melakukan tracking dan  tracing, dan frekuensi pengiriman tepat waktu.

Menurut Yukki, memperbaiki daya saing logistik harus dilakukan semua pihak. Disinggung soal  biaya logistik, menurut Yukki juga semakin  membaik.

“Pada 2017 lalu, berdasarkan riset kita  23,6 persen. Pada 2018 turun 22,3 persen.  Biaya logistik kita turun tapi kurang cepat. Biaya logistik kita harus 18 persen,” pungkasnya.

BUKAN ANCAMAN

Sementara itu, Direktur Utama Dinamika, Makmur Sentosa, Daniel Utomo mengungkapkan digital disruption (disrupsi digital) dalam bisnis logistik belum menjadi ancaman saat ini. Meski ke depan, digital disruption disadari akan menjadi tantangan besar bagi industri ini.

“Para pengusaha logistik dan kargo sempat ketar ketir ketika awal munculnya jasa logistik dan pengiriman yang disediakan oleh perusahaan aplikasi. Bisa habis kita, ” kata Direktur Utama Dinamika, Makmur Sentosa, Daniel Utomo, dikutip wartaekonomi,Kamis (21/2/2019).

Namun ternyata, Ia melanjutkan, jasa tersebut yang melayani B2C (business to customer) cukup berat untuk merambah bisnis logistik B2B (business to business). Pasalnya, masing-masing perusahaan yang memesan jasa logistik memiliki kriteria yang berbeda-beda.  Belum lagi saat adanya risiko kerusakan dan kehilangan barang-barang yang diangkut, kondisi ini belum bisa dijawab oleh perusahaan aplikasi yang melayani jasa logistik.

“Apakah mereka mau menanggung risiko saat ratusan minuman kemasan botol mengalami kerusakan atau hilang di tengah jalan,” kata Daniel.

Digital disruption cukup menarik perhatiannya. Ia menaksir mungkin sekitar tiga tahun lagi mulai kelihatan disrupsi digital di jasa logistik.

Bisa saja saat ini,  perusahaan aplikasi yang memberikan jasa logistik terus melakukan perbaikan dan improvement untuk menyempurnakan layanannya.

Oleh karena itu, ia juga merencanakan membuat aplikasi berbasis mobile yang mengintegrasikan jasa logistik, pergudangan dan lainnya.(ri)