Inflasi impor terjadi pada Mei-Juni lemahkan rupiah

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi bulan Mei-Juni 2018 Indonesia akan menghadapi inflasi impor.

JAKARTA (alfijak): Hal ini disebabkan oleh melemahnya rupiah yang berakibat pada naiknya biaya logistik impor sehingga menyebabkan berbagai komoditas mengalami kenaikan harga.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, meski Bank Indonesia (BI) memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuannya di bulan ini, namun hanya berdampak untuk jangka pendek.

Kenaikan suku bunga acuan yang hanya 25-50 basis poin hanya mampu membuat rupiah menguat sekitar 150-200 saja.

“Jadi dari level 14.100 bisa ditekan ke 13.900,” kata Bhima saat dihubungi iNews.id, Kamis (10/5/2018).

Bukan berarti kenaikan suku bunga acuan tidak berpengaruh apa pun, melainkan hanya dirasakan pada beberapa instrumen investasi seperti kupon Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi swasta. Bagusnya, hal ini dapat menahan keluarnya dana asing dari Indonesia.

“Bunga acuan juga mengangkat confidence level meskipun langkah BI naikkan 7 days repo rate bisa dikatakan terlambat,” ujarnya.

Menurut dia, jika BI cepat merespons pada kenaikan Fed Fund Rate pada Maret kemarin dengan menaikkan suku bunga acuannya seperti Singapura dan Malaysia, kemungkinan capital outflow dapat berkurang.

Dengan demikian, cadangan devisa sebanyak 2-3 miliar dolar AS tidak perlu tergerus sia-sia.

“Kesimpulannya bisa tetap terjadi imported inflation ke bahan kebutuhan pokok. Semoga setelah Lebaran permintaan kembali normal dan tekanan rupiah mereda. Kuncinya ada di pemerintah untuk kendalikan pasokan pangan,” tutur Bhima.

Indonesia sebagai net importir minyak juga akan berimbas ke harga pangan secara tak langsung.

Pasalnya, pelemahan rupiah akan menaikkan biaya impor minyak dan langsung memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk kebutuhan angkutan komoditas pokok.

“Tahun 2017 lalu neraca migas (minyak dan gas) kita defisit 8,5 miliar dolar karena impor minyak bengkak hingga 24,3 miliar dolar. Ini tidak sehat,” katanya.

Selain itu, harga jual barang kebutuhan pokok otomatis juga akan naik seiring melemahnya rupiah terhadap mata uang asing.

Apalagi mendekati bulan Ramadan dan Lebaran di mana permintaan akan kebutuhan masyarakat akan tinggi.

Oleh karenanya, bukan tidak mungkin tingkat inflasi nasional akan melambung tinggi.

“Saya ambil contoh bawang putih yang 85 persen lebih pasokannya impor. Selain itu beras, garam, gula, daging sapi dan kebutuhan pokok lainnya komponen ketergantungan impornya cukup tinggi,” ucap dia. (inews.id/ac)