Arsip Tag: Sugi Purnoto

Operasional truk sumbang biaya logistik tinggi

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai biaya logistik di Indonesia bisa turun secara berkala jika pemerintah memberikan strategi pemangkasan biaya pada setiap rantai bisnis tersebut.

JAKARTA (alfijakarta); Sugi Purnoto, Wakil Ketua Bidang Sarana dan Prasarana Aptrindo, mengatakan pelaku usaha truk mengenal physical system distribution yakni menurunnya biaya logistik karena menurunnya biaya distribusi.

“Ini soal biaya dari aspek maintenance yang dipengaruhi infrastruktur. Makin baik jalan, makin rendah biaya maintenance truk. Makin baik jalan, maka main turun biaya operasional,” ujar Sugi kepada Bisnis Selasa (15/7/2018).

Menurutnya, peningkatan utilisasi dari pengusaha truk akan berdampak pada penurunan biaya logistik. Merujuk prediksi dari Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) bahwa pada 2019, biaya logistik di Indonesia bisa mencapai 19% dari produk domestik bruto (PDB).

Dia menyebut biaya logistik memang bisa terpangkas dengan perbaikan infrastruktur di Indonesia. Hal ini memang sesuai dengan tolak ukur dari Bank Dunia melalui Logistic Performance Index (LPI) yang dirilis tahun lalu.

Namun lebih dari itu, pemerintah juga perlu melihat supply-chain yang dilakukan para pebisnis logistik.

“Perlu dipikirkan proses-proses yang mendukung utilisasi bukan hanya ekspor dan impor di depo, tetapi seluruh rangkaian sampai akhir, misal jangan ada waiting time di distribusi dan pabrikan,” tuturnya.

Dia menilai prediksi ALFI sesungguhnya baru membaca gambar besar dari proses logistik, namun belum secara terperinci membahas pemangkasan setiap komponennya.

Sebelumnya Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP ALFI, mengatakan perbandingan biaya logistik terhadap PDB sejak 2013 hingga 2017 turun 2,2 poin dari 25,7% menjadi 23,5%. Langkah deregulasi pemerintah dan pembangunan infrastruktur menjadi pendorong utama.

“Jadi, kalau tidak ada perbaikan dari segi layanan kepabeanan berbasis digital, posisi Indonesia bisa stagnan, karena perbaikannya hanya didukung dari infrastruktur saja, jadi belum tentu 2019 bisa 19%,” tutur Yukki.

Logistic Performance Index (LPI) tahun lalu memang menunjukkan posisi Indonesia melorot dari posisi 53 dengan skor 3,08 menjadi peringkat 63 dengan skor 2,98.

Penilaian LPI didasarkan pada enam aspek yaitu, efisiensi customs & border management clearance, kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional, kompetensi dan kualitas jasa logistik, kemampuan melakukan tracking & tracing, dan frekuensi pengiriman tepat waktu.

Di antara negara-negara Asean, Indonesia berada pada posisi keempat. Peringkat tertinggi adalah Singapura (5), lalu Malaysia (32) dan Thailand (45).

Penurunan skor LPI Indonesia terjadi pada hampir semua aspek kecuali international shipment dan tracking & tracing.

Salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian adalah infrastruktur yang mempunyai skor terendah yaitu 2,65.

sumber: bisnis.com

Bisnis angkutan tumbuh pesat, terminal buka layanan non-stop

 

Bisnis angkutan tumbuh pesat, terminal buka layanan non-stop
Bisnis angkutan tumbuh pesat, terminal buka layanan non-stop

Bisnis angkutan barang jalur darat atau truk diperkirakan mengalami pertumbuhan volume muatan sebesar 10% hingga 15% pada tahun depan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan maraknya pengembangan infrastruktur dalam negeri.

Sugi Purnoto, Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) bidang Sarana dan Prasarana, mengungkapkan pertumbuhan tidak berdampak pada peningkatan pendapatan pengusaha truk.

“Yang pertama, posisi supply saat ini itu masih lebih tinggi dari demand,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (8/12).

Hal ini disebabkan karena pengusaha banyak melakukan investasi kendaraan beberapa tahun lalu hingga 2014. Sementara itu, pertumbuhan permintaan angkutan barang tidak sesuai harapan pada 2014-2015.

Artinya, lanjut Sugi, pertumbuhan ekonomi dan logistik ini masih lebih rendah dari populasi angkutan barang pada tahun depan. Namun demikian, angkutan barang jalur darat masih mendominasi transportasi barang di Indonesia, terutama untuk pulau Sumatra, Jawa dan Bali.

“Sumatra, Jawa dan Bali memegang lebih dari 70% share distribusi barang,” katanya. Adapun, pertumbuhan pada tahun depan diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan kondisi saat ini, kendati permintaan armada angkutan truk belum terlalu signifikan.

Banyaknya armada truk saat ini, kata Sugi, masih mampu menutup pertumbuhan volume muatan hingga 20% untuk masa yang akan datang. Dengan demikian, overcapacity atau kelebihan armada masih ada tahun depan.

Kyatmaja Lookman, CEO PT Lookman Djaja yang juga menjabat sebagai Wakil Letua Umum DPP Aptrindo bidang Distribusi dan Logistik, memprediksikan angkutan truk di sektor infrastruktur akan lebih berkembang tahun depan.

Alasannya, pemerintah masih terus mengenjot pembangunan jalan tol, pelabuhan dan infrastruktur penting lainnya. “Kendaraan sektor infrastruktur masih menjanjikan,” katanya.

Untuk angkutan truk bagi barang konsumen, dia memperkirakan pertumbuhannya tidak akan signifikan. Bahkan, dia mengatakan bisnis angkutan untuk jenis barang tersebut cenderung stagnan.

Hal ini disebabkan oleh dampak perubahan customer behaviour (kebiasaan konsumen) dari dua tahun lalu. Menurutnya, konsumen tidak lagi melakukan kegiatan stocking barang sehingga semua kegiatan distribusi barang dilakukan dengan sistem just in time.

Umumnya, pabrik barang konsumsi, elektronik dan otomotif terutama pabrik Jepang kini mengunakan sistem itu. Tidak hanya pabrik, segmen minimarket yang pertumbuhannya melampaui segmen supermarket besar juga menerapkan sistem yang sama.

“Mereka tidak mau ada uang nyangkut di stocking, sehingga sekarang lebih efisien,” katanya. Dari sistem just in time tersebut, beberapa manufaktur sudah mengurangi pengunaan pusat distribusi atau distribution center di kota besar.

Sekarang ini, lanjut Kyatmaja, industri lebih memilih mengunakan fasilitas stock point. “Stock point ini beda. Jika distribution untuk menyimpang barang, stock point hanya sebagai tempat menampung sementara,” paparnya.

Imbasnya, dia mengatakan perusahaan menerima penawaran dari konsumen untuk menyediakan fasilitas gudang untuk melayani cross docking.

Cross docking yakni transporter mengangkut barang dengan truk besar hingga ke satu gudang sementara, kemudian barang tersebut disebar ke beberapa wilayah dengan mengunakan truk yang lebih kecil.

Sistem ini, menurutnya, akan sangat mengurangi biaya gudang. Alhasil, dia melihat properti segmen pergudangan akan terkena dampak dari berubahnya sistem distribusi logistik tersebut.

Terkait dengan overcapacity, dia mengatakan fenomena ini telah menyebabkan harga jual kembali kendaraan truk semakin jatuh. “Akhirnya harga mobil itu tidak beda dengan harga besi tua. Contohnya, truk tahun 1997 dulu bisa dijual Rp200 juta. Sekarang bisa Rp20-30 juta,” ungkapnya.

Dulu pengusaha bisa mengandalkan keuntungan dari harga jual kembali kendaraan. Kini, dia menuturkan hal tersebut tidak bisa diandalkan karena banjir kendaraan. Banyaknya jumlah kendaraan angkutan barang itu juga menimbulkan dampak lain, yakni penurunan tarif sewa. Sepanjang tahun ini, dia menghitung penurunan tarif trucking sudah mencapai 10%.

“Kalau bicara ongkos logistik mahal. Pasti bukan karena truk. Kita dua tahun belum naikin tarif. Tarif tidak naik, solar turun,” ungkapnya. Dia menambahkan kondisi ini masih terasa hingga akhir tahun ini. Namun, dia berharap kondisi bisnis trucking akan jauh lebih baik pada 2017.

Buka 24 jam

Sementara itu, dari Surabaya dilaporkan, sejak tanggal 1 Desember 2016, PT TPS memberikan layanan pengurusan dokumen dan customer service buka serta siap melayani pengguna jasa selama 24 jam selama 7 hari dalam seminggu.

Di mana sebelumnya loket TPS hanya buka pukul 08.00 hingga 20.00 wib setiap hari. Terobosan layanan tersebut merupakan komitmen nyata dari PT TPS dalam meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna jasa.

“Layanan 24/7 ini adalah komitmen kami untuk memberikan layanan terbaik, turut mempermudah sekaligus memperlancar kegiatan logistik dengan pelayanan non stop tersebut,” ujar M Solech, Public Relations PT TPS.

Para pengguna jasa tidak perlu menunggu besok hari untuk pengurusan dokumen ekspor-impor atau yang biasa disebut dengan job order. “Kapan saja kami terima dan langsung proses. Selama ini dalam kondisi normal sebelum 24/7 sehari kami melayani sedikitnya 700 job order, dan bulan Desember 2016 ini rata-rata sedikitnya 1.000 pengurusan job order,” tambahnya.

Sebelum pelayanan dokumen 24/7 diberlakukan, sebenarnya arus penerimaan dan pengiriman petikemas yang melalui TPS sudah berjalan dengan baik sesuai standar pengurusan dokumen adalah satu menit untuk satu unit kontainer dengan syarat dokumen-dokumen pendukung ekspor-impor telah lengkap.

“Begitu pula untuk para eksportir kapan pun barang yang akan diekspor siap tidak perlu menunggu lagi di gudang/lapangan penumpukan. Truk yang membawa barang dalam petikemas dapat langsung meluncur ke TPS sambil dokumen job order diurus, dan setelah mendapatkan dokumen job order, truk petikemas yang telah sampai TPS dapat langsung kami layani,” kata Solech.

Menurut Solech, saat ini TPS sedang menyiapkan beberapa program lain sebagai langkah penyempurnaan atas pelayanan kepada konsumen yang ujung-ujungnya adalah demi kepuasan pelanggan, karena throughput di TPS semakin tahun juga semakin meningkat.

Berdasarkan data realisasi petikemas yang melalui TPS ekspor dan impor secara total dalam TEUs sebanyak 1,162,502 atau naik 2,5% dibanding tahun 2015 pada periode yang sama hingga bulan Oktober 2016.

sumber: bisnis.com/beritajatim.com