BC Priok gagalkan sabu via kontainer LCL

Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Tipe A Tanjung Priok bersama Polres Pelabuhan Tanjung Priok berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan kapal barang.

Sabu tersebut berada di dalam kontainer yang tercampur di dalam barang lain atau less container load (LCL).

Kepala KPU Bea Cukai Tanjung Priok Fadjar Donny mengatakan barang haram tersebut masuk setelah diimpor oleh dua orang berinisial H dan LJ.

“Barang ini diimpor dari negara Tiongkok dan Hongkong. Para pelaku memasukkan sabu ke pompa dan dinding tas wanita,” kata Fadjar di KPU Bea Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sabu tersebut berada dalam 10 karton pompa air Nebula dan tiga karton tas wanita.Total sabu yang berhasil didapatkan seberat 3.868 gram.

“Dari jumlah total 10 karton water pump, terdapat lima karton yang berisi 19 bungkus berwarna biru. Untuk segmen kedua, dari tiga karton yang total berisi 96 tas, 18 tas diantaranya berisikan kristal bening yang disembunyikan,” ujarnya.

Sabu yang disembunyikan dalam pompa air memiliki total jumlah 2.542 gram, sementara dari tas wanita 1.326 gram.

“Kalau dirupiahkan totalnya bisa mencapai Rp 5,4 miliar,” ujarnya.

Polisi terbilang kesulitan mencari jejak kedua pelaku importir barang haram itu, H dan LJ.

“Ini masih kami dalami dan masih memburu kedua pelaki itu. Karena berdasarkan melalui pengembangan yang ada, alamat dan nama-nama pengirimnya ini sering kali fiktif. Selain itu, ada kemungkinan, pengiriman importasi 3,8 kilogram methampethamine yang modus operandinya menyimpan di Water Pump, serta lady hand bag ini, ada kaitannya kasus-kasus yang sudah diungka oleh kami dan pihak Bea dan Cukai Tanjung Priok,” kata Wakapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Komisaris Polisi Mohammad Dafi Bastomi.

Diketahui, tersangka importir berinisial H, kata Dafi, beralamatkan di Pasar Gembrong Kios 5, Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur. Diakui Dafi, alamat tersebut fiktif.

Tujuan alamat itu agar barang haram yakni 10 gasoline engine water pump yang dikirim dari pelabuhan GuangZhou. Di dalam water pump itu berisi 2.542 gram sabu. Sementara pelaku berinisial LJ, beralamat di Jalan Baru, RT 001/002 Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Alamat ini juga fiktif. Barang yang akan dikirim itu berupa lady hand bag dari wilayah Pelabuhan di Hongkong. Di dalam tas itu juga berisi methampethamine seberat 1.326 gram, kata Dafi.

Dijelaskan Dafi, apabila kedua pelaku tersebut tertangkap, akan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) Subsider Pasal 111 ayat (2) Jo Pasal 132 (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Ia menyebut, kurungan penjara itu selama seumur hidup atau hukuman mati, atau selama 20 tahun.

Sumber: tribunnews.com

 

tmp_10804-04042016_bea-cukai_20160404_1715581317179933

Menhub usul PPN & PNBP dihapus dari angkutan KA

Kementerian Perhubungan sedang mengevaluasi kemungkinan untuk menghilangkan Pajak Pertambahan Nilai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang membuat biaya angkutan barang dengan KA tidak setara dengan truk.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan Kemenhub sedang mengevaluasi kemungkinan menghilangkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada kereta api (KA) barang dengan instansi-instansi pemerintah terkait.

Sembari menunggu evaluasi tersebut, dia berharap para pengusaha mengambil kesempatan menggunakan KA dalam mengangkut barang-barang miliknya mengingat harga yang ditawarkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) tidak jauh berbeda.

“Kalau dia perhitungkan secara detail, maka menggunakan trucking akan lebih mahal. Jadi, ambil dulu,” kata Budi, Jakarta, Selasa (17/1/2017).

Dia menambahkan, pihaknya akan sulit mendorong penghapusan beban-beban tersebut jika para pengusaha tidak menggunakan KA angkutan barang tersebut.

“Bagaimana kita punya dorongan untuk me-wave itu. Nanti, sudah di-wave, [yang menggunakan KA angkutan barang] enggak ada lagi,” katanya.

Dia menuturkan, pemerintah mengapresiasi langkah KAI yang telah memberikan biaya angkutan barang dengan menggunakan KA dari Tanjung Priok, Jakarta menuju Gedebage, Bandung atau sebaliknya dengan harga murah.

Sumber: bisnis.com

 

130703_pelabuhan-tanjung-priok-1

 

 

Mendag: KA peti kemas perlu dioptimalkan

Jabar anggap Kalibaru solusi jangka pendek, siapkan cetak biru Patimban
Jabar anggap Kalibaru solusi jangka pendek, siapkan cetak biru Patimban

Distribusi barang dengan logistik yang efisien menjadi perhatian serius Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, terutama dalam mendorong peningkatan ekspor nonmigas.

Kini moda transportasi Kereta Api (KA) Peti Kemas Gedebage (Bandung)-Tanjung Priok, bisa menjadi alternatif baru agar kegiatan ekspor impor lebih efisien, tepat waktu, dan aman.

Imbauan pemanfaatan KA Peti Kemas ini disampaikan pada acara “Sosialisasi Kereta Api Angkutan Peti Kemas Jalur Tj. Priok-Gedebage” yang berlangsung pada Jumat (13/1/2017), di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Penggunaan kereta peti kemas jalur Tanjung Priok-Gedebage harus dioptimalkan untuk membawa berbagai komoditas ekspor agar terjadi peningkatan efisiensi logistik, mengurangi waktu bongkar muat (dwelling time), serta meningkatkan kelancaran arus barang dan daya saing ekspor,” tegas Mendag.

Mendag menyatakan bahwa pemanfaatan kereta peti kemas ini menjadi salah satu pilihan solusi yang tepat.

“Tarif kereta api lebih murah, lebih tepat waktu, keamanan barang lebih terjaga, serta relatif aman dari dampak kemacetan arus lalu lintas di jalan raya,” jelas Mendag.

Kereta peti kemas jalur Tanjung Priok-Gedebage sudah dapat dimanfaatkan sejak Juni 2016 pada saat kereta Pelabuhan Tanjung Priok resmi beroperasi.

Sebelumnya, jalur kereta peti kemas Gedebage hanya sampai stasiun Pasoso. Jalur peti kemas ini dibangun atas kerja sama PT. Kereta Api Indonesia dengan PT. Mitra Adira Utama, PT. KA Logistik, dan PT. Multi Terminal Indonesia.

Sekilas Pelabuhan Darat Gedebage Pelabuhan darat (dry port) Gedebage berada pada ketinggian +672 m di ujung timur Kota Bandung.

Pelabuhan darat ini merupakan salah satu pelabuhan darat pertama yang dibangun di Indonesia dengan menggunakan moda transportasi kereta api sebagai sarana pengangkut peti kemas untuk keperluan ekspor maupun impor dari daerah penyuplai kebutuhan masyarakat kota (hinterland area).

Stasiun kereta peti kemas di Pelabuhan Darat Gedebage memiliki dua jalur khusus untuk bongkar muat kontainer yang memiliki depo guna merawat puluhan gerbong.

Di kawasan stasiun ini juga terdapat Terminal Peti Kemas Bandung (TPKB). Sarana angkutan yang digunakan adalah gerbong berjenis GD/Gerbong Datar dengan macam-macam kapasitas angkut mulai dari 30 ton-45 ton. Barang yang diangkut antara lain barang elektronik hingga mobil.

TPK Gedebage memiliki daerah operasional terutama di sekitar kota Bandung, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya.

Secara administratif TPKB terletak di Kecamatan Gedebage Kota Bandung dan menempati daerah seluas 15.000 m2 dengan fasilitas Container Yard seluas 9.800 m2, penimbangan truk dan kontainer, custom clearance untuk produk ekspor, container handling (loading on dan loading off), jalur rel KA, karantina kontainer, dan pengurusan dokumen perjalanan (ekspor-impor).

Sumber: suara.com

 

BM Mesir naik 6x lipat, ekspor RI terkendala

Priok jajal sistem online, Karantina luncurkan PriokQ
Priok jajal sistem online, Karantina luncurkan PriokQ

Liputan6.com, Jakarta Ekspor Indonesia akan lebih terkendala masuk ke Mesir. Sebabnya, Pemerintah Mesir menaikkan bea masuk barang impor hingga 6 kali lipat mulai 1 Desember 2016.

Ketentuan ini diberlakukan setelah keluar Peraturan Presiden No. 538 Tahun 2016 yang ditandatangani Presiden Mesir pada 30 November 2016.

Peraturan ini dapat menghadang ekspor nasional ke negeri piramida itu karena harga produk akan semakin tinggi.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward menjelaskan peraturan tersebut berdampak langsung, baik terhadap importir/konsumen di Mesir maupun terhadap eksportir Indonesia yang akan sudah atau akan melakukan ekspor ke Mesir.

“Para eksportir diharapkan dapat mengambil langkah-langkah antisipatif, terutama terkait dengan harga sehingga dapat mempertahankan pangsa pasar yang sudah ada, mengingat selama ini neraca perdagangan Indonesia dengan Mesir masih menunjukkan nilai yang positif,” ujar dia di Jakarta, Jumat (13/1/2017).

Peraturan ini menaikkan tarif bea masuk impor dari semula 10 persen-40 persen menjadi 20 persen-60 persen atau naik 2-6 kali lipat dari tarif sebelumnya yang diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2016.

Namun, penetapan bea masuk baru tersebut tidak berlaku bagi negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Mesir seperti Uni Eropa, negara-negara Arab, Turki, dan negara anggota The Common Market for Eastern and Southern Africa (COMESA).

Pemerintah Mesir beralasan bahwa kenaikan tarif bea masuk impor ini bertujuan mendorong industri dalam negeri, meningkatkan pendapatan negara, dan menekan angka impor sehingga dapat mengurangi defisit neraca perdagangan Mesir.

Walaupun masih terdapat pro dan kontra di dalam negeri, kata Dody, Pemerintah Mesir akan tetap menerapkan peraturan ini. Hal ini dilatarbelakangi pelemahan mata uang Mesir terhadap Dolar Amerika Serikat, penurunan pendapatan di sektor wisata, penurunan minat investasi asing, dan penurunan pendapatan Terusan Suez.

Dody menegaskan Pemerintah Indonesia akan lebih memperhatikan kebijakan-kebijakan terkait ekspor-impor yang dikeluarkan Mesir, terutama karena pada 2016 Pemerintah Mesir cukup banyak mengeluarkan kebijakan pengetatan impor.

“Sebelumnya Mesir menetapkan kewajiban pendaftaran eksportir tujuan Mesir ke General Organization for Export and Impor Control (GOEIC) dan penerapan kebijakan value added tax (VAT) sebesar 13 persen yang akan naik menjadi 14 persen pada Juli 2017,” imbuhnya.

Sebab itu, Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) Kemendag memastikan akan terus memantau perkembangan terbaru peraturan ini dengan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir dan Atase Perdagangan Mesir.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak eksportir, apakah terdapat pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku importir/konsumen di Mesir sebagai akibat kenaikan bea masuk ini. Apabila ke depan peraturan ini berpeluang menjadi hambatan, kami bersama pihak yang menangani hambatan tarif akan melakukan pembelaan dalam kerangka WTO,” pungkas Direktur DPP Pradnyawati.

Selama lima tahun terakhir (2011-2015), tren ekspor nonmigas Indonesia ke Mesir menurun sebesar 0,72 persen. Sedangkan pada 2016 (Januari-Oktober), ekspor nonmigas tercatat US$ 895,4 ribu atau menurun 8,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 978,9 ribu.

Sumber: liputan6.com

 

KKP: dwelling time nasional 3,7 hari

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) bekerja sama dengan PT Pelindo II dan Ditjen Bea Cukai untuk terus mendorong perbaikan waktu bongkar muat di pelabuhan atau dwelling time.

Kepala BKIPM KKP, Rina mengatakan waktu tunggu layanan atau dwelling time secara nasional adalah 3,7 hari. BKIPM berkontribusi dari jumlah tersebut sebanyak 0,03 hari.

Rina menjelaskan BKIPM Medan II melalui pelabuhan Belawan memberikan kontribusi selama 8,42 menit dari waktu tunggu layanan nasional selama 3,9 hari dan BKIPM Jakarta II memberikan kontribusi selama 37,8 menit dari waktu tunggu nasional selama 2,07 hari.

“Sementara itu BKIPM Surabaya II melalui pelabuhan Tanjung Perak memberikan kontribusi selama 26,2 menit dari waktu tunggu Iayanan nasional selama 3,4 hari,” ujar Rina di Gedung KKP, Jakarta, Rabu (11/1).

Untuk BKIPM Semarang melalui pelabuhan Tanjung Emas memberikan kontribusi selama 76 menit dari waktu tunggu nasional selama 5,19 hari.

“Dwelling time beda di beberapa tempat, untuk di Semarang lama karena beberapa tahapan yang belum bisa diringkas. Untuk Kesiapan setiap pelabuhan yang paling siap itu Priok karena pelayanan ekspor impor paling banyak di sana,” jelasnya.

Sementara itu, dalam bidang Pelayanan Publik, BKIPM berkomitmen untuk memberikan pelayanan prima dengan menerapkan ISO 9001 yang merupakan standar internasional untuk pelayanan publikdan ISO 17025 yang merupakan standar internsional Iaboratorium penguji di 47 Unit Pelayanan Terpadu (UPT).

“Kita juga terapkan pula ISO 17020, standar internasional pada lembaga inspeksi di 23 UPT dan implementasi e-payment dengan penggunaan electronic data capture(EDC) di 47 UPT BKIPM,” pungkasnya.

Sumber: merdeka.com

 

kkp-sebut-dwelling-time-nasional-sudah-capai-37-hari

 

Truk kontainer bisa gunakan akses tol priok Maret tahun ini

Setelah pengerjaan konstruksi fisik sejak tahun 2013 lalu, pembangunan Akses jalan Tol Tanjung Priok (ATP) sepanjang 16,67 Kilometer (km) di wilayah kota administrasi Jakarta Utara akan segera rampung pada awal 2017 ini.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) menargetkan akses jalan yang dikhususkan untuk memperlancar akses keluar masuk truk kontainer dapat mulai dioperasionalkan pada Maret 2017 mendatang.

Kepala Bidang Pelaksanaan II Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IV Ditjen Bina Marga Kempupera, Bambang Nurhadi, mengatakan, progres pengerjaan infrastruktur ATP saat ini sudah mencapai 98 persen.

“Sekarang ini sisa pengerjaan hanya di bagian seksi E2 yang jika semua dikerjakan sesuai target dapat diresmikan pada Maret mendatang,” ujar Bambang, Selasa (10/1).

Untuk proses konstruksi, lanjutnya, sudah rampung sepenuhnya, termasuk rekonstruksi sejumlah pilar yang sempat di bangun ulang karena ada sejumlah struktur sesuai dengan standar kontraktor proyek asal Jepang itu.

“Sekarang hanya tinggal pemasangan railing dan pelapisan aspal jalan saja, apalagi sejumlah paket lainnya seperti NS Link, NS Direct yang bermuara di Jalan Jampea itu sudah rampung sejak tahun lalu,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bambang mengungkapkan, untuk ATP memiliki 4 akses keluar (ramp off) yakni depan Kantor Walikota Jakarta Utara, Pasar Waru, Makam Mbah Priok, dan Semper.

Sedangkan pintu masuk akses tol (ramp on) ada enam, yakni KBN, Bogasari, Jalan Dobo, RSUD Koja, Kebon Bawang, Semper.

Sebagai informasi, pengerjaan pembangunan Tol Akses Tanjung Priok dengan panjang 16,67 kilometer (km) secara keseluruhan terbagi dalam 5 paket.

1. Seksi East 1 (E1) dengan rute Rorotan-Cilincing sepanjang 3,4 kilometer.

2. Seksi East 2 (E2) dengan rute Cilincing-Jampea sepanjang 2,74 kilometer.

3. Seksi East 2-A (E2A) dengan rute Cilincing-Simpang Jampea sepanjang 1,92 kilometer.

4. Seksi North-South Link (NS Link) dengan rute Yos Sudarso-Simpang Jampea sepanjang 2,24 kilometer.

5. Seksi North-South Direct Ramp (NS Direct) sepanjang 1,1 kilometer.

Sumber: beritasatu.com

 

1484028975

 

Superhub & Rumah Kita sesuaikan format

Guna mendukung pengembangan tol laut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengembangkan jumlah trayek, dari semula 6 trayek menjadi 13 trayek.

Di antara trayek yang dikembangkan itu, termasuk 3 trayek baru dan 4 trayek, di mana satu lintasan itu dibagi dengan dengan angkutan kapal dan angkutan Roro, sehingga waktu point-to-point menjadi lebih pendek.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya juga melakukan identifikasi angkutan balik dari tempat-tempat yang tidak begitu bagus, seperti di Natuna.

“Untuk itu kita bekerja sama dengan beberapa BUMN untuk membangun pusat logistik yang dinamakan “Rumah Kita”, dimana pusat logistik ini, di satu sisi membantu untuk mendistribusikan barang secara bertahap, karena selama ini apabila barang itu dibiarkan datang sendiri, maka kondisinya harga akan tidak terkondisi setelah 3 hari,” kata Budi kepada wartawan usai Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta.

Di sisi lain, Rumah Kita ini juga berfungsi untuk mengumpulkan barang-barang untuk balik.

“Sebagai contoh, di Dompu, kita akan mengumpulkan jagung untuk muatan balik, di Kupang juga kita akan mengumpulkan muatan-muatan hasil laut yang lain,” ujarnya.

Menhub mencontohkan, barang-barang yang ada atau dikirimkan ke Timika Papua, hanya sampai di situ, tidak bisa disampaikan ke pegunungan di Papua.

Oleh karenanya, mulai tahun ini pihaknya membuat jembatan udara atau tol udara yang mendistribusikan langsung ke kota-kota kecil yang ada di sana.

“Tercatat lebih dari 12 titik yang kita lakukan, sehingga kita harapkan bahan pokok di pusat Jayawijaya itu akan menurun,” terang Menhub.

Menhub juga menyoroti lalulintas barang di Jawa, Sumatera, dan Bali, yang saat ini mengandalkan jalur darat.

Ia mengingatkan, lalu lintas darat ini relatif mahal, merusak jalan, banyak kecelakaan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Menhub berharap bisa mengambil 30%-50% dari sekitar 5.000 truk yang tiap hari bergerak dari barat.

“Kita akan gunakan dengan (kapal) roro dan roro ini juga mengkonsolidasikan barang agar (Pelabuhan Tanjung) Priok bisa kita jadikan menjadi hall,” jelasnya.

Menurut Menhub, Pelabuhan Tanjung Priok punya potensi, karena saat ini kapasitas hanya 6 juta (TEUs).

Dharapkan apabila barang-barang yang ada di pelabuhan-pelabuhan besar dikonsolidasikan di Priok, maka diharapkan dalam waktu 2 tahun akan meningkat dari 6 juta menjadi 11 juta.

“Sehingga, pada saat nanti ada Patimban, ada pelabuhan-pelabuhan yang lain, volume atau daya tampung dari Priok ini menjadi lebih baik,” ujar Budi.

Sesuai Sislognas

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia mengimbau wacana super hub di Pelabuhan Tanjung Priok oleh PT Pelabuhan Indonesia I-IV (Persero) menyesuaikan dengan Sistem Logistik Nasional.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengaku tidak setuju dengan istilah super hub. Menurutnya, istilah tersebut tidak ada di ranah logistik kepelabuhanan nasional maupun internasional.

“Yang ada adalah hub and spoke. Kami DPP ALFI hanya mengingatkan saja adanya Sislognas [Sistem Logistik Nasional],” tutur Yukki kepada Bisnis melalui sambungan telepon, Minggu (8/1/2017).

Dia mengatakan pembangunan yang dilakukan jangan kemudian menjadi mubazir dengan situasi dan kondisi ekonomi saat ini. Seharusnya pemerintah memiliki prioritas dalam merencanakan pembangunan.Â

“Kalau pun mau diubah, itu sepenuhnya hak pemerintah, tetapi jangan sampai ada peraturan yang berbeda, karena logistik harus direncanakan dan terintegrasi,” sambungnya.

Dia mengingatkan prinsip ship follow the trade bukan dengan cara menguntungkan pihak-pihak tertentu tetapi semua pihak diuntungkan dengan efisiensi biaya tempuh.

 

gudang-di-pelabuhan-1-620x330

Sumber: bisnis.com/kliksangatta.com

 

 

Lewat darat mahal, jalur logistik RI digeser ke laut

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk mendukung pengembangan tol laut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengembangkan jumlah trayek. Semula ada 6 trayek akan dikembangkan menjadi 13 trayek.

Di antara trayek yang dikembangkan itu, termasuk 3 trayek baru dan 4 trayek di mana tiap satu lintasan dibagi dengan angkutan kapal dan angkutan Roro, sehingga waktu point-to-point menjadi lebih pendek.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya juga melakukan identifikasi angkutan balik dari tempat-tempat yang tidak begitu bagus, contohnya seperti di Natuna.

“Untuk itu kita bekerja sama dengan beberapa BUMN untuk membangun pusat logistik yang dinamakan ‘Rumah Kita’, dimana pusat logistik ini, di satu sisi membantu untuk mendistribusikan barang secara bertahap, karena selama ini apabila barang itu dibiarkan datang sendiri, maka kondisinya harga akan tidak terkondisi setelah 3 hari,” jelas Menhub kepada wartawan usai Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (5/1) sore.

Dengan adanya Rumah Kita, lanjut Menhub, diharapkan dalam kurun waktu sampai kapal datang kembali, barang tetap bisa terkontrol. Di sisi lain, Rumah Kita ini juga berfungsi untuk mengumpulkan barang-barang untuk diangkut balik.

“Sebagai contoh, di Dompu, kita akan mengumpulkan jagung untuk muatan balik, di Kupang juga kita akan mengumpulkan muatan-muatan hasil laut yang lain,” ujarnya.

Untuk lokasi yang lebih sulit seperti di Timika Papua, dimana distribusi barang tidak bisa sampai ke lokasi pegunungan, mulai tahun ini Kemenhub membuat jembatan udara atau tol udara yang akan mendistribusikan langsung ke kota-kota kecil yang ada di Papua.

Sedangkan untuk lalulintas barang di Jawa, Sumatera, dan Bali, yang saat ini mengandalkan jalur darat, Menhub mengingatkan penggunaan lalu lintas darat ini relatif mahal, merusak jalan, dan rawan kecelakaan.

Oleh karena itu, Menhub berharap bisa memindahkan sekitar 30%-50% dari sekitar 5.000 truk yang tiap hari bergerak, ke angkutan kapal. Untuk hal ini perlu konsolidasi dengan pihak Pelabuhan Tanjung Priok.

Pelabuhan Tanjung Priok saat ini hanya mampu serap 6 juta TEUs, diharapkan apabila barang-barang yang ada di pelabuhan-pelabuhan besar ini dikonsolidasikan di Tanjung Priok, maka dalam waktu 2 tahun daya serap akan meningkat menjadi 11 juta TEUs.

Sumber: beritadaerah.co.id

gudang-di-pelabuhan-1-620x330

 

Kementrian & swasta bertikai soal superhub

Rencana kebijakan BUMN kepelabuhanan terkait dengan penetapan konsolidasi kargo ekspor untuk alih muat atau transshipment di Pelabuhan Tanjung Priok harus dikaji kembali agar tak menyalahi Sistem Logistik Nasional (Sislognas).

Asisten Deputi Pengembangan Logistik Nasional Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Erwin Raza, mengatakan selama ini banyak kementerian teknis ataupun pelaku usaha mulai melupakan cetak biru Sislognas yang terakomodasi dalam Perpres No. 26/2012.

Dokumentasi suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. – Antara

“Sislognas masih berlaku, karena Perpresnya belum dihapus. Kehadiran superhub tidak mengikuti cetak biru Sislognas,” ungkap Erwin kepada Bisnis, Kamis (5/1/2017).

Dia menegaskan Sislognas adalah cetak biru pengembangan logistik yang sudah direncanakan sejak 2009.

Blueprint Sislognas secara resmi mengakomodasi pembangunan dari mulai 2009 sampai 2025.

Dalam blueprint itulah ditetapkan superhub berada di Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara sebagai pintu gerbang arus logistik di Indonesia bagian Barat.

Superhub kedua di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, sebagai pintu gerbang terbesar logistik di Indonesia bagian Timur. Sementara PT Pelabuhan Indonesia I-IV (Persero) menetapkan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai superhub.

“Jadi kalau mau dibuat superhub di Tanjung Priok lagi itu buat apa? Itu hanya omongan pebisnis saat menjabat, karena memang banyak dari pelaku usaha juga belum paham Sislognas,” tegasnya.

Dia mengingatkan Sislognas mengakomodasi rencana pembangunan infrastruktur berbasis maritim di seluruh Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia memiliki wilayah perairan yang jauh lebih luas ketimbang wilayah daratan.

“Kita bikin perencanaan di Kuala Tanjung dan Bitung itu untuk 10 tahun sampai 15 tahun mendatang supaya setiap daerah di Indonesia berkembang bukan hanya di Pulau Jawa saja. Tujuannya supaya disparitas harga bisa turun,” tambahnya.

Erwin menegaskan Pelindo I-IV operator, bukan regulator. Oleh sebab itu, perlu ada satu suara dalam memutuskan pembangunan infrastruktur.

Dia juga berharap pembangunan pelabuhan bisa terbuka kepada siapa npun. Dia tidak ingin sebuah proyek ditentukan atas dasar berpikir korporasi, bukan dasar berpikir pemerintah.

“Jadi biar tidak terjadi klaim persaingan usaha yang tidak sehat. BUMN kalau perlu bersaing saja keluar negeri, ikut tender pembangunan di negara lain.

Sebelumnya, Yukki N. Hanafi, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), juga menginginkan kejelasan terkait dengan konsep superhub yang akan diterapkan BUMN, mengingat berdasarkan cetak biru Sislognas, hub internasional sudah ditetapkan di Kuala Tanjung dan Bitung.

Dengan demikian, jika dari pemerintah mendukung hal ini, tentu harus ada revisi dari cetak biru tersebut.

Pendapat senada juga dicetuskan Aulia Febrial Fatwa, Ketua Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI), yang menilai kebijakan ini akan mengancam keamanan dan pertahanan nasional karena kapal asing masuk langsung ke perairan tengah Indonesia.

Selain itu, dia menilai kebijakan ini jika diterapkan untuk kargo ekspor saja akan berpotensi meningkatkan biaya logistik karena adanya double handling. Biaya logistik tinggi menekan daya saing eksportir.

Sumber: bisnis.com

tmp_2613-screen-shot-2016-10-16-at-11-51-32-pm-1225648016

 

Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia – DKI Jakarta Raya