UNESCAP – ALFI Institute, Tingkatkan Kompetensi SDM Logistik

ALFIJAK – United Nations Economic and Social Commission for Asia and tha Pacific (Uneccap) bekerjasama dengan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) serta ALFI Institute untuk meningkatkan kompetensi pelaku usaha logistik di Indonesia dan Asean.

Kerjasama tersebut diwujudkan dengan menggelar seminar secara virtual selama dua hari, yakni pada 12 s/d 13 April 2021.

Kegiatan secara virtual itu juga didukung para anggota Asean Federation of Forwarders Association (AFFA), anggota ALFI maupun alumni ALFI Institute di seluruh Indonesia serta para pemangku kepentingan di bidang logistik /stkeholders.

Acara tersebut dibuka oleh Ketua Umum DPP ALFI/AFFA Chairman Yukki Nugrahawan Hanafi, dengan menampilkan Pembicara dari UNECSAP/Chairman AFFA Logistics Institute Mr. Somsak Wisetruangrot.

Pada kesempatan itu, Yukki Nugrahawan Hanafi menyampaikan bahwa dalam skala pembangunan ekonomi secara utuh khususnya terhadap pergerakan barang antar negara di Asean perlu dukungan antar negara dikawasan itu yang lebih efektif dan efisien.

Menurutnya, Asean mengembangkan dan mendorong Perusahaan Logistik Services Providers agar terus tumbusuh dan berkembang walupun dalam situasi sulit imbas Covid-19 yang masih melanda didunia global saat ini.

“Harus kita akui, bahwa dampak Covid-19 mengakibatkan berbagai perubahan ekonomi yang signifikan di hampir semua negara di dunia. Begitupun imbasnya terhadap kegiatan logistik yang mengalami perubahan hampir disemua moda transportasi (darat, laut dan udara) serta shortage container maupun perilaku konsumen,” ujar Yukki.

Untuk itulah, imbuh Yukki, UNESCAP, ASEAN Secretariat, AFFA dan ALFI memiliki tanggung jawab yang besar dan berupaya berjuang semaksimal mungkin mendukung upaya pengembangan kapasitas & kapabilitas pelaku logistik melalui peningkatan kualitas SDM.

Dia menegaskan, pengembangan kompetensi SDM sebagai salah satu kunci keberhasilan pelaku Logistik yakni salah satunya melalui training dan seminar ataupun webinar.

Yukki berharap dengan diselenggarakan kegiatan ino oleh UNESCAP dan ALFI, maka pelaku logistik dapat lebih beradaptasi dan mengambil langkah dalam perubahan dan dinamika yang cukup signifikan dalam kegiatan Logistik.

Peserta seminar juga diharapkan dapat mengupdate perkembangan di AFFA melalui working group yang telah dilaksanakan bulan Desember 2020 lalu yang melakukan inisiatif dan agreement dalam percepatan pergerakan barang di Asean serta mengadopsi adanya AFFA STC (Standard Trading Condition) bagi Penyedia jasa logistik anggota Asean.

Direktur ALFI Institute, M Supriyanto mengatakan, sebagai penyelenggara acara tersebut pihaknya sangat memperhatikan upaya pemerataan dan informasi yang up-date terhadap perkembangan logistik khususnya di Asean.

Dia berharap melalui program ini dapat memberikan nilai tambah dalam peningkatan pelayanan dan pengetahuan sehingga memberikan optimalisasi dalam perkembangan pelaku Logistics Services  Provider di Indonesia melalui perkuatan SDM dalam bidang Logistik dan supply chain.

Acara ini diikuti oleh lebih dari 120 peserta dari AFFA member state, AFFA TOT, Anggota ALFI sebagai pelaku logistik di seluruh Indonesia dan Pengajar dan Alumni ALFI Institute di seluruh Indonesia.

“Usai webinar ini para peserta akan mendapatkan e-certificate dari UNESCAP,” ujar M. Supriyanto.(*)

Sektor Logistik Bakal Tumbuh 7% Tahun ini

ALFIJAK – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia mengestimasi aktivitas bisnis logistik pada tahun 2021, diharapkan bisa tumbuh mencapai 7 persen.

Kendati begitu, estimasi pertumbuhan tersebut tentunya masih belum sesuai yang diharapkan jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan tahun-tahun sebelum adanya Pandemi Covid-19 yang rerata bisa diatas 10 persen.

Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi, mengungkapkan kondisi bisnis logistik pada triwulan pertama tahun 2021 ini mengalami pertumbuhan terutama ditopang oleh Konsumsi. Kitapun melihat Investasi sudah masuk kembali karena ada rasa optimistis dimana vaksinasi Covid 19 sudah berjalan.

“Sebagai pelaku bisnis logistik, kita berharap hal ini dapat terus ketingkat yang lebih baik.Tentunya belum sesuai yang kita harapkan tapi pertumbuhan di Logistik kita harapkan di akhir tahun 2021 bisa sekitar 7℅,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, pada hakekatnya bahwa pertumbuhan industri logistik ditopang oleh konsumsi dan investasi. Oleh karenanya, meskipun kondisi Pandemi belum juga usai sampai sekarang ini, namun sektor logistik masih bisa bergerak tumbuh lantaran masuk dalam 11 sektor yang diijinkan tetap berjalan.

“Kecenderungan tumbuhnya bidang Logistik telah terlihat di semester akhir tahun 2020 lalu. Kendati pastinya belum kembali kepada titik sebelum Pandemi terjadi. Disisi lain kitapun masih menghadapi  permasalahan sulitnya mendapatkan kontainer 20 feet khususnya untuk eksport yang bukan saja Indonesia tapi terjadi hampir di seluruh dunia,” ucap Yukki yang juga menjabat Chairman Asean Federation of Freigt Forwarders Association (AFFA).

Dia mengemukakan, optimismtis pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini, juga menjadi angin segar bagi pelaku usaha logistik.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah mengeluarkan proyeksi optimistis untuk perekonomian nasional di Triwulan I tahun 2021 meskipun pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV 2020 terkontraksi sebesar (minus) 2,19% (y-on-y) dan membaik dari pertumbuhan Triwulan III 2020 sebesar (minus) 3,49% (y-on-y).

Seperti dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah menargetkan perekonomian RI akan tumbuh 4,5 – 5,5% tahun ini. Dengan proyeksi Triwulan I tahun 2021 diperkirakan tumbuh 1,6% sampai 2,1%.

Reboundnya ekonomi Indonesia setelah mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen (c-to-c) dibandingkan tahun 2019 karena didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

Proyeksi ini sejalan dengan outlook beberapa lembaga internasional, seperti World Bank, OECD, ADB dan IMF. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa laju pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan atau logistik pada Triwulan IV 2020 (y-on-y) mengalami kontraksi sebesar (minus) 13,42 persen.

Yukki mengatakan, berbagai capaian program dalam sistem logistik nasional (Sislognas) juga perlu diapresiasi, meskipun masih perlu dilakukan evaluasi terhadap implementasi Sislognas tersebut dilapangan.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan adanya usulan untuk menaikkan payung hukum Sislognas menjadi Undang-Undang dan pembentukan Kelembagaan Logistik Nasional. Alasannya, Sistem National Logistic Ecosystem (NLE) juga diharapkan dapat memicu perbaikan sektor logistik nasional kedepan.

Namun, kata dia, berdasarkan hasil evaluasi Kemenko Perekonomian baru-baru ini, tidak bisa dipungkiri bahwa sudah terdapat sejumlah capaian Sislognas antara lain; terbitnya Perpres No 71 tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting yang sudah diubah dengan Perpres No:59 tahun 2020.

Selain itu, sampai dengan akhir tahun 2019, terdapat 46 proyek strategis nasional (PSN) telah dibangun meliputi jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, pembangkit listrik dan rel Kereta Api dengan investasi mencapai Rp.159 Triliun.

Capaian lainnya, sampai dengan 1 Februari 2021,telah ada 187 Pusat Logistik Berikat di 187 lokasi. Selain itu, indikator kinerja logistik yang membaik juga bisa dilihat dari dwelling time di pelabuhan yang semakin baik yakni pada Februari 2021 hanya 2,68 hari.

Namun, imbuh Yukki, kunci sukses dalam Sislognas masih perlu dikelola secara akurat, cepat serta terintegrasi melalui Badan Independen (Adhoc) yang berperan secara aktif dan terkoordinir dibawah kepemimpinan dan kewenangan khusus sehingga mampu melakukan koordinasi lintas kementerian/lembaga (K/L) dalam menentukan kebijakan tehnis yang komprehensif.

“Karena itu, ALFI menilai sudah saatnya Indonesia memerlukan leading sector yang ngurusin soal logistik nasional,” ucap Yukki.(*)

Dengan NLE, Biaya Logistik Ditargetkan Turun Sebelum 2024

ALFIJAK – Masih tingginya persentase biaya logistik nasional terhadap angka produk domestik bruto (PDB) menjadi perhatian serius Pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan menargetkan biaya logistik nasional dapat ditekan ke angka 17 persen sebelum 2024 melalui sejumlah upaya.

Dia menginginkan penurunan biaya logistik nasional yang ditargetkan turun dari 23,5 persen menjadi sekitar 17 persen pada 2024 sebagaimana tercantum dalam Perpres No.18/2020 yang sesuai dengan RPJMN 2020-2024.

“Saya ingin hal itu dapat kita percepat capaiannya. Demikian juga dengan Inpres No. 5/2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional dapat kita selesaikan sebelum 2024,” ujar Menko Luhut.

Dia mencontohkan, peluncuran Batam Logistic Ecosystem (BLE) pada pekan lau merupakan sebuah awal untuk melakukan penyederhanaan proses logistik di pelabuhan Indonesia khususnya di Batam. Hal ini guna mempersingkat waktu layanan, dan berlaku 24/7 atau 24 jam per minggu.

Menko Luhut berharap BLE mampu mendorong lebih banyak investasi masuk, sehingga akan memberikan dampak yang baik untuk pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan di Batam, secara khusus dan Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya.

Luhut tak memungkiri saat ini terdapat banyak pelabuhan, bandara, stasiun, pergudangan, tetapi belum dikelola secara terintegrasi, efektif, dan efisien.

“Kemudian masalah kapasitas infrastruktur di Jawa dan kekurangan infrastruktur di luar Jawa. Hingga belum efektifnya intermodal transportasi dan interkoneksi antara infrastruktur pelabuhan dan transportasi,” ucapnya.

Oleh karena itu, kata Menko Luhut, fokus area BLE ini dari skema Business to Government to Government (B2G2G) adalah integrasi izin usaha dan izin konsumsi, Layanan terpadu STS/FSU, penerapan autogate system.

Sementara untuk skema Government to Business to Business (G2B2B) adalah layanan pemesanan trucking, layanan pemesanan kapal, layanan pemesanan warehouse (gudang) hingga layanan pembayaran.

Luhut mengungkapkan, Pemerintah akan mengupayakan delapan pelabuhan di Indonesia juga kita masukkan sistem National Logistic Ekosystem (NLE).

Ke delapan pelabuhan itu di antaranya Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Patimban (Jawa Barat), Tanjung Emas (Jawa Tengah), Tanjung Perak (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), dan Belawan Medan, Sumatera Utara.(*)