Arsip Tag: Rima Novianti

Hari ini batas akhir ultimatum atas Pelindo II

Hari ini batas akhir ultimatum atas Pelindo II
Hari ini batas akhir ultimatum atas Pelindo II

Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta memberikan tengat waktu hingga hari ini, Kamis (4/8/2016) kepada manajemen Pelindo II terkait langkah penyelesaian dalam mengatasi kepadatan delivery barang dan peti kemas setiap akhir pekan di Terminal 3 pelabuhan tersebut.

Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok I Nyoman Gde Saputra mengatakan instansinya tetap mengacu pada Surat Kepala OP sebelumnya yang disampaikan pada Juli 2016 kepada Direksi Pelindo II untuk segera mengambil langkah komprehensif dalam mengurai kepadatan di Terminal 3 Pelabuhan Priok.

“Surat itu memberi waktu dua pekan, dan besok (Kamis 4 Agustus 2016) merupakan batas akhir Pelindo II harus menyampaikan apa yang akan dilakukan terhadap persoalan kepadatan peti kemas di Terminal 3 Priok itu. Kita tunggu sampai besoklah, tetapi koordinasi tetap kita lakukan dengan Pelindo II dalam hal ini,” ujarnya kepada Bisnis seusai menggelar rapat koordinasi dengan stakeholders di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (3/8/2016).

Dia mengatakan langkah rekayasa traffic untuk menghidari kepadatan arus barang dan peti kemas di pelabuhan merupakan tanggung jawab manajemen pelabuhan melalui koordinasi dengan seluruh pihak yang berkepentingan.

“Harus ada amdalnya (analisa dampak lingkungan) dan tentunya koordinasi terhadap aktivitas di Terminal 3 pelabuhan Priok itu,” paparnya.

Direktur Komersial PT Pelabuhan Tanjung Priok-anak usah Pelindo II-yang mengoperasikan Terminal 3 Pelabuhan Priok, Rima Novianti mengatakan untuk mengurangi tingkat kepadatan yang meyebabkan antrean truk peti kemas di Terminal 3 Priok akan dilakukan pengaturan lebih baik supaya kegiatan di terminal tersebut bisa berjalan lancar.

“Kita terus lakukan kordinasi dengan stakeholders dan intansi di Priok supaya kepadatan tidak terulang lagi pada pekan ini,” ujarnya.

Rima menyatakan kepadatan delivery peti kemas di Terminal 3 Priok tidak sampai menimbulkan kongesti pada kegiatan layanan kapal dan bongkar muat. “Jangan dibilang kongesti dong, itu kan terjadi hanya di saat tertentu saja dan komitmen kita akan memperbaikinya,” paparnya.

Sekretaris Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim mengatakan kepadatan delivery barang di sisi darat pelabuhan berpotensi mengganggu layanan kapal di dermaga jika berlangsung terus menerus sehingga pelabuhan berpotensi kongesti.

Adil mengatakan ALFI merespons positif pernyataan Dirut Pelindo II Elvyn G.Masassya yang akan menyeragamkan tarif layanan bongkar muat peti kemas atau container handling charges di seluruh terminal peti kemas ekspor impor pelabuhan Priok.

Perang Tarif

Menurut Adil, kepadatan arus peti kemas di Terminal 3 Priok terjadi karena adanya persaingan tarif layanan bongkar muat dengan terminal peti kemas lainnya di pelabuhan tersebut, sehingga pelayaran asing lebih memilih masuk ke Terminal 3 yang saat ini CHC-nya lebih rendah U$10/peti kemas 20 feet ketimbang di terminal peti kemas MAL, JICT dan TPK Koja.

“Pak Elvyn kan sudah bilang akan menyeragamkan tarif-nya dan membuat manajemen traffic yang lebih baik di pelabuhan Priok. Kita tunggu saat realisasinya, sebab kondisi ini hanya menguntungkan kapal asing,” ujar Adil.

Saat ini di pelabuhan Priok terdapat empat fasilitas terminal peti kemas ekspor impor yang dikelola Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja,Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 Tanjung Priok.

Di seluruh terminal tersebut pelayaran mengutip biaya terminal handling charges (THC) kepada pemilik barang sebesar US$95 untuk peti kemas 20 feet.

Adapun komponen THC yakni CHC yang diterima operator terminal di tambah surcharges yang diperoleh perusahaan pelayaran asing. Namun, jika di Terminal 3 pelabuhan Priok, perusahaan pelayaran hanya membayar CHC ke terminal peti kemas sebesar US$73 per peti kemas 20 feet sedangkan di JICT,TPK Koja dan MAL, CHC sebesar US$ 83/peti kemas 20 feet.

“Pemilik barang bayar tetap US$95 per peti kemas 20 feet sehingga surchages yang dinikmati oleh pemilik kapal asing di Terminal 3 Priok mencapai US$22 per boks,sedangkan jika di JICT, Koja dan MAL surcharges yang dinikmati pelayaran asing hanya US$12 per bok. Ketidakseragaman tarif inilah yang jadi pemicu” ujar Adil.

Dilirik Ahok

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melalui Jakarta Propertindo (BUMD Pemprov DKI Jakarta) mengajak PT Pelindo II (Persero) bersinergi mengembangkan pelabuhan dan kawasan industri terintegrasi di pulau reklamasi O, P, dan Q di Jakarta Utara.

“Kita ingin menjadikan BUMN sebagai mitra untuk mengembangkan Tanjung Priok. Pulau reklamasi O, P, Q bisa dijadikan sebagai kawasan industri untuk petrokimia dan termasuk otomotif,” kata Basuki usai menemui Menteri BUMN Rini Soemarno di Kantor Kementerian BUMN di Jakarta, Kamis.

Menuru Ahok, sinergi Pemprov DKI Jakarta akan dilakukan antara PT Jakarta Propertindo (BUMN DKI Jakarta) dengan PT Pelindo II (Persero).

Ia menjelaskan pengembangan Tanjung Priok menjadi pelabuhan terintegrasi dengan pelabuhan lainnya di kawasan itu karena sudah terlalu padat.

“Pelindo II saat ini sudah mengembangkan Tanjung Priok. Dengan sinergi bersama Jakarta Propertindo bisa dikembangkan lagi kawasan pelabuhan dan industri yang lebih luas lagi,” kata Direktur Utama Jakarta Propertindo Satya Heragandhi.

Ia menjelaskan pulau reklamasi disiapkan untuk pelabuhan namun bisa dikembangkan untuk keperluan yang lebih besar, termasuk kawasan industri.

Meski begitu, Satya mengatakan pengembangan kerja sama itu masih dalam tahap perencanaan dan studi kelayakan sehingga belum bisa diungkapkan lebih jauh kepada publik.

“Intinya, pengembangan pelabuhan, kawasan industri di Tanjung Priok dan pulau reklamasi O, P, Q itu bisa memangkas biaya logistik dan mempermudah arus distribusi barang,” ujarnya.

Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya mengatakan sinergi Pelindo II dengan Jakarta Propertindo dimungkinkan terlebih pelabuhan dan kawasan industri yang bisa dikembangkan mulai dari Pelabuhan Tanjung Priok hingga Marunda.

“Pengembangan pelabuhan di kawasan industri, pergudangan dapat memangkas biaya logistik dan mempermudah arus barang. Secara konseptual disepakati untuk bersinergi dalam mengimplementasikan akan dibentuk tim, akan dibentuk feasibilty study, peruntukan yang paling relevan dari lokasi tersebut,” ujar Evlyn.

Dia mengatakan pertemuan itu akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim bersama antara Jakarta Propertindo dan Pelindo II untuk menyelesaikan kajian mendalam pengembangan kawasan industri dan pergudangan.

sumber: bisnis.com/Antara

Kongesti di Priok tambah parah, Kemenhub perlu cepat turun tangan

Kongesti di Priok tambah parah, Kemenhub perlu cepat turun tangan
Kongesti di Priok tambah parah, Kemenhub perlu cepat turun tangan

Tak banyak yang tahu, aktivitas Terminal III Tanjung Priok, Jakarta, sempat lumpuh pada Sabtu (30/7/2016). Pengusaha pengguna jasa pelabuhan tersebut pun sempat gundah dan kalang kabut. Sebab, gangguan yang terjadi di Terminal III Tanjung Priok ini bisa merugikan pengusaha.

Jakarta (Persbiro): Carmelita Hartoto, Ketua Umum Indonesian National Shipowner’s Association (INSA) menyatakan, kepadatan arus peti kemas yang terjadi Terminal 3 Tanjung Priok tersebut terjadi karena adanya persaingan usaha.

Adanya perbedaan tarif penanganan peti kemas yang lebih murah di Terminal 3 Tanjung Priok yang menjadi pemicunya.

Karena tarif lebih murah, alhasil Terminal III Tanjung Priok diserbu oleh perusahaan yang ingin menaruh peti kemasnya.

“Untuk itu, kami berharap pengelola peti kemas meningkatkan pelayanan, bukan hanya memberikan tarif yang lebih murah saja, tapi juga memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan memuaskan,” kata Carmelita Hartoto saat dihubungi KONTAN, Minggu (31/7/2016).

Menurut Carmelita, tarif Terminal Handling Charges (THC) di JICT, TPK Koja, dan Mustika Alam dipatok 95 dolar AS per peti kemas dengan ukuran 20 feet.

Dalam tarif tersebut, pemilik kapal menikmati surcharges 12 dolar per boks, sementara, pengelola terminal peti kemas memperoleh 83 dolar AS per peti kemas sebagai biaya Container Handling Charges (CHC).

Berbeda dengan perincian tarif THC di Terminal 3 Tanjung Priok. Dari tarif 95 dolar AS per kontainer, pengelola terminal mengenakan CHC sebesar 73 dolar AS per peti kemas dan sebesar 22 dolar AS per peti kemas merupakan surcharges kepada pemilik pelayaran. C

armelita menilai, perbedaan tarif tersebut menandakan tarif THC sejatinya bisa diturunkan oleh pengelola peti kemas di pelabuhan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI).

Achmad Ridwan Tento, Sekretaris Jenderal GINSI menyatakan, kepadatan arus barang di Terminal III yang terjadi beberapa waktu lalu telah merugikan mereka.

Menurut Achmad, penyebab kepadatan yang terjadi di Terminal III tersebut karena banyaknya arus peti kemas yang menuju Terminal 3 ketimbang terminal JICT atau TPK Koja. Tingginya arus peti kemas yang menuju Terminal III tersebut berujung pada penumpukan.

“Alhasil kami merasa kesulitan, karena pengiriman satu hari menjadi dua hari,” kata Achmad kepada KONTAN, Minggu (31/7).

Seharusnya, kata Achmad, ada pengaturan trafik sehingga Terminal III milik PT Pelabuhan Tanjung Priok tidak mengalami kepadatan seperti yang terjadi Sabtu (30/7).

Ia bilang, kepadatan yang terjadi di pelabuhan tersebut menimbulkan efek domino bagi masyarakat, pengguna jasa logistik serta pengusaha pemilik barang. Contoh, biaya pengiriman yang semula diprediksi satu hari, akhirnya membengkak menjadi dua hari.

Sementara itu, manajemen PT Pelabuhan Tanjung Priok menyatakan, masalah yang terjadi Terminal III merupakan siklus yang biasa terjadi di jam-jam padat.

Rima Novianti, Direktur Komersial PT Pelabuhan Tanjung Priok menjelaskan, antrean truk memang terjadi di jam-jam tertentu. Namun begitu, Rima berjanji akan melakukan pengaturan agar arus peti kemas bisa berjalan dengan lancar.

“Kami akan mengatur antrean truk yang masuk ke Terminal III,” tandas Rima kepada KONTAN, Minggu (31/7).

Namun demikian, Rima tak setuju jika ada yang menyebut kepadatan tersebut sebagai kongesti atau banyaknya penumpukan barang tertimbun di suatu tempat. Alasannya adalah, kejadian tersebut hanya terjadi di hari-hari tertentu, bukan sepanjang hari.

Rima menambahkan, saat ini kendala yang dialami Terminal III adalah, kebutuhan buffer area untuk mengurangi kepadatan truk. Namun buffer area sulit terealisasi karena lahan terbatas.

Maka itu, Rima berharap, pengembangan terminal New Priok bisa terlaksana. Adanya New Priok akan menambah lahan penumpukan peti kemas.

 Pelindo janjikan keseragaman tarif

PT Pelabuhan Indonesia II/IPC akan menyesuaikan tarif pelayanan bongkar muat peti kemas atau container handling charges (CHC) ekspor impor di terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok menjadi seragam dengan yang berlaku di terminal peti kemas lainnya di pelabuhan tersebut.

Dirut Pelindo II, Elvyn G.Masassya mengatakan, BUMN itu juga akan menata ulang operasional fasilitas terminal di pelabuhan Priok menjadi spesialisasi terminal, membedakan terminal peti kemas domestik dengan internasional.

“Dalam waktu dekat tarif layanan bongkar muat di terminal 3 Priok akan disesuaikan dengan terminal peti kemas lainnya di Priok seperti di JICT dan TPK Koja,”ujarnya kepada Bisnis, Senin (1/8/2016).

Elvyn mengatakan hal itu merespons terus terulangnya ancaman kongesti di terminal 3 Pelabuhan Priok setiap akhir pekan yang menyebabkan banyak delivery barang impor terlambat sampai di pabrik.

Saat ini, di pelabuhan Tanjung Priok terdapat empat fasilitas terminal yang melayani peti kemas ekspor impor yakni Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, terminal Mustika Alam Lestari (MAL) dan termil 3 Pelabuhan Priok.

Namun, tarif CHC diterminal 3 Priok berbeda dengan di JICT,MAL dan TPK Koja. Adapun besaran tarif terminal handling charges (THC) di Terminal 3 sebesar US$ 95 dollar per kontainer. Dari jumlah itu, sebesar US$ 73 adalah biaya container handling charges (CHC) yang dibebankan oleh pengelola terminal dan sisanya atau US$ 22 merupakan surcharges pelayaran.

Sedangkan, jika di JICT,TPK Koja dan MAL dengan THC US$ 95/peti kemas ukuran 20 feet, pelayaran hanya menikmati surcharges US$ 12/bok dan selebihnya atau US$ 83 merupakan CHC yang diperoleh pengelola terminal peti kemas.‎‎

“Selain akan menyeragamkan tarif CHC di semua terminal peti kemas Priok, kami juga menyiapkan trucking manajement ,dan dalam jangka menengah akan menata ulang terminal menjadi spesialisasi (peti kemas internasional dan domestik). Sehingga persaingan lebih bersifat kualitas service, bukan tarif,” paparnya.

Kesalahan Manajemen

Sekjen DPP Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Oggy Hargianto mengatakan, ancaman kongesti yang terus terulang di terminal 3 Priok pada setiap akhir pekan, karena kesalahan manajemen Pelindo II sebelumnya dalam mengambil kebijakan bisnis terminal.

“Ini karena kebijakan sebelumnya hanya memikirkan bagaimana mengambil bisnis bukan menciptakan  persaingan dalam pelayanan yang profesional. Terkesan cuma bagaimana mengambil bisnis pihak lain dan ini juga terjadi bagaimana BUMN itu mau memonopoli bongkar muat di Priok,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (1/8/2016).

Oggy mengatakan, sudah saatnya Pelindo II berfikir fokus bagaiman menyediakan fasilitas serta management traffic yg baik di pelabuhan Tanjung Priok.

“Jadi jangan hanya berpikir bagaimana merebut bisnis pihak lain demi meraup keuntungan tapi berdampak ekonomi biaya tinggi bagi masyarakat,”tuturnya.

Kemenhub agar turun tangan

Kemacetan parah kembali terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sejak Sabtu (30/7) hingga Senin (31/7), ratusan truk pengangkut peti kemas ekspor impor terlihat mengular sehingga menyebabkan kemacetan.

Kondisi semakin parah karena gate in dan gate out di Terminal 3 Priok hanya disiapkan masing-masing satu gate. Terkait kondisi tersebut pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diminta segera mengatasi hal tersebut.

Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto berharap kepadatan arus barang peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok mendapat perhatian Kemenhub selaku regulator yang bertanggung jawab di bidang transportasi, khususnya laut.

“Kami melihat dibawah kepemimpinan Pak Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan, Red), Kemenhub dapat membantu menyelesaikan masalah ini. Kami melihat beliau mau mendengarkan masukan dunia usaha dan berkomitmen memperbaiki kebijakan yang menyulitkan dunia usaha,” ujarnya, kemarin.

Pihaknya juga telah menyampaikan lebih dari 27 masukan di bidang regulasi pelayaran dan maritim kepada Kemenhub. Ini agar bisa menjadi pertimbangan dan dijadikan keputusan sehingga dalam mempermudah iklim usaha di tanah air.

Lebih lanjut Carmelita mengatakan, kepadatan arus peti kemas terjadi dikarenakan persaingan usaha dan hal ini biasa terjadi. Mungkin ada satu pengelola terminal peti kemas memberikan tarif dan layanan yang bagus, sehingga pemiliki peti kemas senang menggunakan jasa mereka.

“Untuk ini kami mengharapkan para pengelola peti kemas meningkatkan pelayanan, bukan hanya memberikan tarif yang lebih murah, namun juga memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan memuaskan,” jelas Carmelita.

Saat ini di Pelabuhan Priok terdapat empat fasilitas terminal peti kemas ekspor impor yang dikelola Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 Tanjung Priok. Namun, terdapat perbedaan tarif penanganan petikemas di Terminal 3 Tanjung Priok dan tiga terminal lainnya yaitu, JICT, TPK Koja dan MAL.

Operator pelabuhan agar tingkatkan pelayanan

Carmelita Hartoto mengatakan bahwa kepadatan arus peti kemas ini terjadi dikarenakan persaingan usaha dan hal ini biasa terjadi.

Mungkin ada satu pengelola terminal peti kemas memberikan tarif dan layanan yang bagus sehingga pemiliki peti kemas senang menggunakan jasa mereka.

“Untuk ini kami mengharapkan para pengelola peti kemas meningkatkan pelayanan, bukan hanya memberikan tarif yang lebih murah namun juga memberikan pelayanan yang cepat, tepat‎ dan memuaskan,” kata Carmelita dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/8).

Saat ini ‎di Pelabuhan Priok terdapat empat fasilitas terminal peti kemas ekspor impor yang dikelola Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 Tanjung Priok.

Namun, terdapat perbedaan tarif penanganan petikemas di Terminal 3 Tanjung Priok dan tiga terminal lainnya yaitu JICT, TPK Koja dan MAL.

Adapun besaran tarif terminal handling charges (THC) di Terminal 3 sebesar 95 dolar AS per kontainer. Dari jumlah itu, sebesar 73 dolar AS adalah biaya container handling charges (CHC) yang dibebankan oleh pengelola terminal dan sisanya atau 22 dolar AS merupakan surcharges pelayaran.

Sedangkan jika di JICT,TPK Koja dan MAL dengan THC 95 dolar AS per peti kemas ukuran 20 feet, pelayaran hanya menikmati surcharges 12 dolar AS per boks dan selebihnya atau 83 dolar AS merupakan CHC yang diperoleh pengelola terminal peti kemas.

“Dan dengan terjadi perbedaan tarif antara satu pengelola peti kemas kami melihat masih ada peluang agar THC untuk diturunkan. Hal ini agar bisa menekan biaya logistik sekaligus menarik minat pelanggan,” katanya.

Seperti yang diketahui, sejak Sabtu (30/7)‎ pagi hingga Ahad (31/7) ratusan truk pengangkut peti kemas ekspor impor terlihat mengular sehingga menyebabkan kemacetan di dalam pelabuhan tersibuk di Indonesia itu yang berpotensi kongesti.

Kondisi semakin diparah karena gate in dan gate out di Terminal 3 Priok hanya disiapkan  masing-masing satu gate.

sumber: tribunnews.com/bisnis.com/jawapos.com/republika.co.id