Arsip Tag: Arif Suhartono

Tarif baru BM kontainer eksim berlaku di Priok, Pelindo II didorong masuk Patimban

Tarif baru BM kontainer eksim berlaku di Priok, Pelindo II didorong masuk Patimban
Tarif baru BM kontainer eksim berlaku di Priok, Pelindo II didorong masuk Patimban

PT Pelabuhan Tanjung Priok memberlakukan tarif baru untuk layanan bongkar muat kontainer ekspor impor atau container handling charges (CHC) di fasilitas Terminal Operasi 3 Pelabuhan Priok, terhadap kapal yang sandar pada pukul 00.00 WIB mulai Kamis, 8 September 2016.

Dirut PT Pelabuhan Tanjung Priok Arif Suhartono mengatakan pihaknya sudah mengumumkan pemberlakuan tarif baru tersebut kepada para pengguna jasa Pelabuhan Tanjung Priok melalui surat 7 September 2016.

“Sudah diberlakukan tarif baru di Terminal 3 Priok itu. Sebelumnya, juga sudah dilakukan sosialisasi kepada pelaku usaha melalui asosiasi terkait di Priok,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8 September 2016).

Dia mengatakan saat ini tidak ada lagi perbedaan tarif CHC di terminal peti kemas yang ada di pelabuhan Tanjung Priok. “Sudah seragam tarif di lingkungan pelabuhan Tanjung Priok,” tuturnya.

Pemberlakuan penyeragaman tarif CHC di Terminal Operasi 3 Pelabuhan Priok dituangkan melalui surat yang ditandatanganu Arif Suhartono selaku Dirut PT Pelabuhan Tanjung Priok No. KU.30/7/9/1/PTP-16 tanggal 7 September 2016 yang ditujukan kepada para pengguna jasa di Pelabuhan Priok.

Dalam surat itu disebutkan tarif paket bongkar muat berstatus full container load/ FCL (termasuk uang dermaga) jika menggunakan crane dermaga untuk peti kemas ukuran 20 feet dikenakan US$83/boks sedangkan ukuran 40 feet dikenakan US$124,50/boks.

Adapun untuk peti kemas kosong berukuran 20 feet berstatus FCL dikenakan US$62,25/boks sedangkan ukuran 40 feet US$93,38/boks.

Adapun jika menggunakan crane kapal, tarif paket bongkar muat peti kemas bestatus FCL di terminal 3 Priok untuk ukuran 20 feet dikenakan US$74,70/boks dan ukuran 40 feet US$ 112,05/boks. Adapun untuk peti kemas kosong ukuran 20 feet dikenakan US$56,03/boks dan ukuran 40 feet US$84,04/boks.

Selain itu, juga ditetapkan tarif paket bongkar muat peti kemas isi dengan status less than container load (LCL). Tarif paket peti kemas LCL jika menggunakan crane dermaga untuk peti kemas ukuran 20 feet US$156,46/boks dan ukuran 40 feet US$234,68/boks.

Adapun jika menggunakan crane kapal, tarif paket bongkar muat peti kemas berstatus LCL untuk ukuran 20 feet dikenakan US$140,81/boks dan ukuran 40 feet US$211,21/boks.

Surat pemberitahuan tarif baru layanan bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Priok itu juga disampaikan kepada DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Jakarta Raya, DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta.

Selain itu, Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) DKI, Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) DKI dan DPW Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) DKI Jakarta.

Ketua DPW ALFI DKI Jakarta, Widijanto mengatakan dengan adanya penyeragaman tarif di seluruh terminal peti kemas ekspor impor di lingkungan pelabuhan Tanjung Priok, hendaknya manajemen Pelindo II dan pengelola pelabuhan Priok harus juga meningkatkan produktivitas pelayanan bongkar muatnya di Terminal 3 Priok sesuai standar yang ada di JICT dan TPK Koja dan Mustika Alam Lestari.

“Kalau tarifnya sudah sama harusnya produktivitas di Terminal 3 juga bisa sama dengan di JICT dan TPK Koja yang saat ini rata-rata mencapai 26-28 boks/crane/hour (BCH). Selain itu fasilitas dan peralatan di terminal 3 juga mestinya di upgrade dari yang ada sekarang,” ujarnya.

Praktisi Kepalabuhanan yang juga General Manager PT Mustika Alam Lestari (MAL) Paul Krisnadi mengatakan saat ini pengelola pelabuhan masih merasakan sulit melakukan investasi baru untuk pengembangan karena tingginya biaya operasional.

Adapun biaya CHC di Priok sebesar US$83 per peti kemas 20 feet belum pernah ada perubahan sejak 2008. “Padahal elemen lain seperti biaya tenaga kerja, maintenance serta energy terus mengalami kenaikan setiap tahun,” ujarnya.

Saat ini di pelabuhan Priok terdapat lima fasilitas terminal peti kemas ekspor impor yakni JICT, TPK Koja, Mustika Alam Lestari (MAL), Terminal 3 Tanjung Priok, dan NPCT-1.

Namun, selama ini terdapat perbedaan tarif penanganan petikemas di Terminal 3 Tanjung Priok meskipun pemilik barang tetap membayar tarif terminal handling charges (THC) di Terminal 3 sebesar US$ 95 dollar per container 20 feet.

Dari jumlah itu, sebesar US$73 adalah biaya CHC yang dibebankan oleh pengelola terminal dan sisanya atau US$22 merupakan surcharges pelayaran.

Sedangkan jika di JICT, TPK Koja dan MAL dengan THC US$95/peti kemas ukuran 20 feet, pelayaran hanya menikmati surcharges US$12/bok dan selebihnya atau US$83 merupakan CHC yang diperoleh pengelola terminal peti kemas.

Masuk Patimban

Pemerintah mendorong PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) masuk sebagai operator untuk pelabuhan baru yang akan segera dibangun di Patimban, Subang, Jawa Barat.

Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan A. Tonny Budiono mengatakan pihaknya melihat jika satu kendali otomatis manajemennya antara Pelabuhan Tanjung Priok dan pelabuhan di Patimban lebih baik.

“Makanya Pelindo II didorong untuk berpartisipasi di Patimban. Tapi dia cari partner dari Jepang dan dia ikut tender,” ujarnya, Kamis (8 September 2016).

Dia menambahkan Kementerian Perhubungan juga menilai pengaturan bongkar muat kargo akan lebih mudah jika pelabuhan baru ini dikelola satu manajemen yakni PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. “Wilayahnya berdekatan, otomatis mereka bisa mengatur. Itu pertimbangannya.”

Menurutnya, jika operator pelabuhan Patimban berbeda, pemerintah tidak ingin persaingan antara kedua pelabuhan internasional tersebut.

Selain itu, Tonny mengatakan Pelindo II sudah memiliki pengalaman kerjasama dengan pihak asing dalam operasional pelabuhan.

Sayangnya, dia mengungkapkan pihaknya belum tahu partner perusahaan Jepang yang akan digandeng Pelindo II untuk tender operator pelabuhan di Patimban ini.

Sebelum memutuskan hal ini, dia menegaskan kementerian sudah mengadakan pertemuan dengan Pelindo I-IV untuk menawarkan operasional pelabuhan-pelabuhan UPT dan pelabuhan baru tersebut.

Namun dari pertemuan tersebut, hanya Pelindo II yang mengutarakan komitmennya terhadap pelabuhan Patimban. Sementara itu, dia mengungkapkan Pelindo lain memilih untuk mengambilalih pengelolaan pelabuhan UPT di sekitar wilayah kerjanya.

Menyerahkan pengelolaan pelabuhan yang dibangun dengan dana APBN kepada BUMN atau swasta, lanjutnya, merupakan arahan dari Menhub. “Arahan Pak Menteri agar Kementerian Perhubungan menjadi regulator saja,” katanya.

Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya sudah menegaskan komitmen perusahaan untuk ikut tender sebagai operator pelabuhan Patimban.

“Pelindo II berminat ikut serta sebagai terminal operator agar ada sinergi dengan Kalibaru sehingga bersifat komplementer, bukan substitusi,” ujarnya, Selasa (7 September 2016).

sumber: tempo.co

 

 

Tarif terminal 3 seragam, asing bertambah ramai

Jabar anggap Kalibaru solusi jangka pendek, siapkan cetak biru Patimban

PT Pelabuhan Indonesia II/IPC akan menyosialisasikan penyeragaman tariff container handling charge di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok dari sebelumnya US$73/boks menjadi US$83 per boks untuk peti kemas ukuran 20 feet.

Tarif tersebut juga diberlakukan sama seperti di Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, dan New Priok Container Terminal One (NPCT-1).

Dirut Pelindo II, Elvyn G.Masassya mengatakan Direksi Pelindo II sudah menginstruksikan secara tertulis penyeragaman atau penyesuaian tarif di Terminal 3 Priok dengan terminal peti kemas ekspor impor lainnya di pelabuhan tersebut. “Tetapi harus dilakukan sosialisasi terlebih dahulu terkait penyeragaman dan penyesuaian tarif tersebut,” ujarnya, Kamis (1/9/2016).

Dia mengatakan setelah dilakukan sosialiasi kepada seluruh pelaku usaha dan asosiasi pengguna jasa terkait di pelabuhan Priok, tarif baru di Terminal 3 bisa diimplementasikan.

Dirut PT Pelabuhan Tanjung Priok Arif Suhartono mengatakan pihaknya akan mulai menyosialisasikan penyesuaian tarif CHC di Terminal 3 Priok itu pada pekan depan kepada pengguna jasa pelabuhan. “Pekan depan (satu minggu dari sekarang) akan kami lakukan sosialisasi tersebut,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Bisnis.

Penyeragaman tarif di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok dilakukan untuk menghindari persaingan tarif antarterminal ekspor impor sekaligus menghindari kemacetan atau kepadatan peti kemas di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Saat ini di pelabuhan Priok terdapat lima fasilitas terminal peti kemas ekspor impor yakni JICT, TPK Koja, Mustika Alam Lestari (MAL), Terminal 3 Tanjung Priok, dan NPCT-1.

Namun, selama ini terdapat perbedaan tarif penanganan peti kemas di Terminal 3 Tanjung Priok meskipun pemilik barang tetap membayar tarif terminal handling charges (THC) di Terminal 3 sebesar US$95 dolar per kontainer 20 kaki.

Dari jumlah itu, sebesar US$73 adalah biaya container handling charges (CHC) yang dibebankan oleh pengelola terminal dan sisanya atau US$22 merupakan surcharges pelayaran.

Sedangkan jika di JICT, TPK Koja dan MAL dengan THC US$95/peti kemas ukuran 20 feet, pelayaran hanya menikmati surcharges US$12/boks dan selebihnya atau US$83 merupakan CHC yang diperoleh pengelola terminal peti kemas.

General Manager TPK Koja Agus Hendrianto mengatakan tidak masalah dengan adanya kebijakan Pelindo II untuk penyeragaman tarif seluruh terminal peti kemas.

“Sekarang kita bersaing berdasarkan service kepada pengguna jasa. TPK Koja saja yang spek alat bongkar muatnya masih di bawah JICT dan NPCT-1 bisa memberikan layanan terbaik bagi pengguna jasa dengan CHC US$ 83/boks,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan asosiasinya belum menerima pemberitahuan rencana sosialisasi tarif CHC untuk di Terminal 3 Pelabuhan Priok itu.

Kendati begitu, dia mengatakan sudah sewajarnya pengelola Terminal 3 Priok mematuhi instruksi Direksi Pelindo II untuk penyeragaman/penyesuaian tarif CHC tersebut. “Tentunya hal itu sudah di pertimbangkan dengan matang supaya tidak terjadi persaingan tarif yang kurang sehat di pelabuhan Priok untuk layanan peti kemas ekspor impor,” ujar dia.

Pelayaran asing bertambah

Minat perusahaan pelayaran untuk menyandarkan kapalnya di terminal kontainer internasional, New Priok Container Terminal 1 (NPCT1) kian tumbuh seiring dengan pertumbuhan kargo ke terminal ini.

Suparjo, Direktur NPCT1, mengatakan sejak terminal baru ini beroperasi secara penuh volume kargo yang masuk terus tumbuh dan rata-rata bongkar muat sudah diatas 1.000 TEUs dengan produktivitas 26-27 boks per jam.

“Volume makin bagus, dan produktivitas juga semakin bagus. Tinggal tunggu peresmian dengan Presiden saja. Tapi secara menyeluruh sudah oke semua,” ujarnya, Kamis (01/09).

Dia mengaku beberapa perusahaan pelayaran internasional banyak yang berminat untuk masuk, namun mereka masih melakukan negosiasi dengan perusahaan. Selain Evergreen yang sudah mulai mengunakan fasilitas ini, dia menuturkan NYK Lines juga siap menyandarkan kapalnya di NPCT1.

“Banyak yang mau masuk cuma masih negosiasi dulu,” paparnya.

Hambar Wiyadi, Corporate Secretary & General Affairs PT Pengembang Pelabuhan Indonesia yang menjadi kontraktor NPCT1, mengatakan Evergreen memiliki tiga rute utama yang terkoneksi dengan NPCT1. Rute tersebut a.l. TFI East (Thailand-Filipina-Indonesia), TMI (Thailan-Malaysia-Indonesia) dan TFI West (Kaohsiung-Sheko-Hong Kong-Jakarta-Semarang-Surabaya-Taipei).

Pada 31 Agustus 2016, Evergreen dengan kapal Uru Bhum berbendera Thailand dan nomor voyage 068107E berhasil sandar di NPCT-1. Dari kapal ini, NPCT1 berhasil melakukan bongkar muat sebanyak 1.109 boks atau 1.705 TEUs.

Ke depannya, dia mengatakan Evergreen sudah berkomitmen untuk melayani rute-rute yang terkoneksi dengan NPCT1 menggunakan kapal 4.000 TEUs.

“Jadi NPCT1 ini sudah mulai diminati oleh shipping lines asing,” ujar Hambar. Bahkan, dia mengaku NPCT1 sudah menjadi transhipment untuk kargo dari Balikpapan, Banjarmasin dan sekitarnya.

Tidak hanya itu, NPCT1 juga mampu menangani barang berbahaya (dangerous goods) dan overweight/overhead cargo, seperti alat berat.

Pada komersial perdana terminal ini (18/08), Evergreen dengan kapal MV. Uni Perfect berbobot 17,887 GT berbendera Panama berhasil melakukan kegiatan bongkar muat sebanyak 1.120 bok petikemas yang terdiri dari impor 408 boks dan ekspor 712 boks.

Direktur Komersial Saptono R. Irianto mengatakan perusahaan sudah memiliki agenda untuk melakukan roadshow kepada calon pelanggan NPCT1.

Namun, dia menegaskan Pelindo II sebagai pemegang saham ingin mendetailkan kembali program tersebut agar NPCT1 semakin dikenal di kancah internasional.

“Secara korporasi kita mau mendetailkan lagi,” tegasnya.

Sumber: bisnis.com

 

INSA & APBMI agar siapkan uang tunai cukup

INSA & APBMI agar siapkan uang tunai cukup
INSA & APBMI agar siapkan uang tunai cukup

PT Pelabuhan Tanjung Priok mengimbau  semua pengguna jasa di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok agar memastikan kecukupan dana untuk keperluan jasa kepelabuhanan seperti auto collection, EDC, Net OFF, CMS dll pada waktu Cuti Bersama dan Libur Nasional  yang jatuh mulai awal-awal  bulan ini.

JAKARTA (alfijakarta): Direktur Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok, Arif Suhartono dalam Surat Edaran yang diterima ALFI pekan ini menyebutkan pengguna jasa di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok wajib memastikan status rekening untuk bertransaksi dalam status aktif (tidak dormant).

“Pengguna jasa wajib memastikan tidak ada piutang jatuh tempo pada PT Pelabuhan Tanjung Priok,” katanya dalam SE tersebut.

Ia menambahkan pengguna jasa juga wajib menyesuaikan jam dan hari operasional Bank-bank sehingga transaksi perbankan dapat berjalan lancar dan tidak terpengaruh terhadap pelayanan Jasa Kepelabuhanan di Priok.

Selain itu, pengguna jasa juga wajib memastikan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap pelayanan Jasa Kepelabuhanan.

“Terhadap hal-hal yang terjadi karena kelalaian sebagaimana poin di atas, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing perusahaan,” terang Arif.