Dewata Freightinternational Garap Logistik Pertambangan

JAKARTA- Emiten jasa logistik PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) menargetkan pendapatannya tahun ini bisa tumbuh 47% secara tahunan menjadi Rp 347 miliar.

Per 2018, Dewata Freightinternational mencatatkan pendapatan sebesar Rp 235,18 miliar atau naik 61,58% dibanding tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan Dewata Freightinternational Nur Hasanah mengatakan, untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, pihaknya akan mengejar kontrak-kontrak baru. Perusahaan ini akan mengekspansi bisnisnya ke ranah logistik pertambangan, seperti pengangkutan mineral dan batubara.

Dari situ, kami berharap ada recurring income(pendapatan berulang) karena kontraknya jangka panjang,” kata dia Jakarta,dikutip dari Kontan.

Ia mengatakan, nilai kontrak ini mencapai Rp 70 miliar untuk tiga tahun ke depan. Kebanyakan kontrak ini adalah untuk pengangkutan hasil tambang di Kalimantan. “Kami masih inisiasi target dapat kontrak untuk jasa logistik energi di darat ini pada kuartal III-2019,” ucap dia.

Dewata Freightinternational  juga berencana menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issuepada semester 2-2019. Perusahaan yang baru listing pada 9 November 2018 ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 280 juta saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Dari aksi korporasi ini, Dewata Freightinternational  berharap dapat memperoleh dana segar sebesar Rp 107,8 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk menambah modal ke anak usahanya, yakni PT Atas Dayana Kapital (ADK) sebesar Rp 97 miliar.

Sementara sisanya yang sebesar Rp 10,86 miliar akan digunakan untuk mengakuisisi 51% saham ADK. Akuisisi ini akan menambah jumlah pendapatan Dewata Freightinternational  karena pendapatan ADK turut dikonsolidasikan ke DEAL.

Per Maret 2019, pendapatan Dewata Freightinternational mencapai Rp 62,45 miliar atau setara dengan 17,87% dari target tahun ini. Jumlah tersebut meningkat 43,4% secara year on year (yoy). Sebesar 97,45% pendapatan DEAL berasal dari pengiriman barang dan sisanya dari manajemen distribusi.

Kemudian, per Mei 2019, serapan belanja modal atau capital expenditure (capex) perusahaan ini sudah mencapai 25% untuk membeli 16 dump truck. Perusahaan ini menganggarkan capex hingga Rp 100 miliar untuk tahun ini.

Dengan dana tersebut, Dewata Freightinternational  berencana membeli 40 unit dump truck. Dana capex ini berasal dari kas internal perusahaan serta pinjaman multifinance dan bank.(ri)

Lippo Group Gandeng Sumitomo Perkuat Bisnis Logistik

JAKARTA- Lippo Group menggandeng Sumitomo Corporation untuk memperkuat bisnis logistik. Melalui anak usahanya PT Reka Cakrabuana Logistik, keduanya melakukan penetrasi lebih dalam ke sektor logistik end to end logistic solution.

Langkah pertama, PT Reka Cakrabuana Logistik melakukan rebranding dari Red Carpet Logistic menjadi Qrim Express. Selain itu, perusahaan yang sebelumnya menyasar segmen Business to Customer (B2C) mulai mengembangkan Customer to Customer (C2C).

Tetsushi Kuroda, Chief Strategy Officer Qrim Express di Jakarta, menjelaskan, Sumitomo investasi 40 persen saham di Reka Cakrabuana Logistik. “Nantinya, dana yang diinvestasikan itu untuk mengembangkan bisnis C2C di Indonesi,” ujarnya dikutip dari liputan6.com..

Saat ini, untuk pasar logistik sebanyak 80 persen didominasi konsumen ritel. Oleh karena itu, langkah masuk ke sektor C2C ini untuk memperluas pangsa pasar. Qrim Express juga akan memanfaatkan jejaring kekuatan dua koorporasi besar itu sebagai jejaring layanan.

Antara lain memanfaatkan jejaring BTPN yang sudah merger dengan Bank Sumitomo Mitsui pada awal tahun ini. Dengan modal agen BTPN Wow yang mencapai 400.000 outlet di seluruh Indonesia, nantinya Qrim Express bisa memanfaatkan sebagai ritel outlet untuk pengiriman logistiknya.

Kata Tetsushi, Sumitomo sudah lakukan beragam bisnis secara global, di Jepang sendiri layanan mereka sudah memakai pendekatan hi-tech logistic service. Ia optimis, bisnis Qrim Express akan berkembang. “Kami akan kenalkan layanan hi tech logistic service seperti di Jepang di Indonesia,” kata Tetsushi.

Chief Executive Oficer Qrim Express, Abdul Rahim Tahir, menambahkan, langkah bisnis strategis yang dilakukan perusahaan di tengah suasana optimisme industri logistik nasional. Tahun 2019, sektor logistik diprediksi tumbuh 11,56% menjadi Rp 889,4 triliun dan berkontribusi sebesar 5,55% pada GDP nasional.

Untuk pengembangan C2C, Qrim Express manargetkan 700 outlet atau service center yang akan selesai tahun ini dan 1.500 outlet hingga tahun depan. Sementara, saat ini perusahaan sudah memiliki 200 outlet. Selain itu, Qrim Express juga akan berkolaborasi dengan BTPN Wow yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai ritel outlet untuk pengiriman.

Ekpansi juga terus dilakukan dengan memperluas gudang yang ada di Pancoran dari 1.500 meter persegi menjadi 4.500 meter persegi. Menurut Tahir, nantinya gudang tersebut akan memiliki mesin sortir otomatis yang dapat menghandle 6.000 paket per jam.

Untuk mendatangkan mesin tersebut, perusahaan menginvestasikan dana sebesar USD 500 ribu hingga USD 1 juta. “Oktober kita datangkan mesin itu,” ujar Tahir.

Saat ini, Qrim Express telah hadir di 156 kota di seluruh Indonesia yang diperkuat oleh 423 kurir dengan jumlah armada sebanyak 515 unit kendaraan.

Pada September 2019 mendatang, pihaknya akan melakukan grand launching dan mengeluarkan aplikasi untuk konsumen.(ri)

BPTJ Rekomendasi Soal Kemacetan Priok ke Menhub, Ini Respon ALFI

Adil Karim, Sekum DPW ALFI DKI JAKARTA

JAKARTA – Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengeluarkan tujuh rekomendasi sebagai tindak lanjut rencana aksi mengatasi kemacetan di kawasan pelabuhan Tanjung Priok.

Rekomendasi rencana aksi itu disampaikan Kepala BPTJ Bambang Prihartono, melalui surat BPTJ tanggal 31 Mei 2019 yang ditujukan kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Ketujuh rekomendasi itu yakni ; pemanfaatan buffer area, otomatisasi gate, optimalisasi depo peti kemas dan kontainer empty, penerapan terminal booking and trucking system (TBRC), batas akhir waktu pengapalan atau clossing time, manajemen rekayasa lalu lintas, dan skema antrian dalam area terminal peti kemas.

Surat Kepala BPTJ itu juga ditembuskan antara lain ke Dirjen Hubla, Direktur Lalu Lintas BPTJ, Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Dishub DKI Jakarta, PT Pelindo II/IPC, PT Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja.

Selain itu, PT ILCS, PT.Mustika Alam Lestari, PBM Adipurusa, Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) dan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).

Target Rencana Aksi

Menyangkut buffer area dan autogate system di pelabuhan Priok, rekomendasi BPTJ itu menargetkan rencana aksi pada minggu kedua bulan Juni 2019 agar fasilitas buffer area di pelabuhan Priok dapat dimanfaatkan optimal lewat sistem digitalisasi sehingga truk tidak lagi parkir sembarangan di dalam pelabuhan yang berpotensi bikin kemacetan.

Sedangkan automatic gate bisa berjalan sesuai rencana sehingga dapat menghindari antrian truk yang masuk ke terminal lini satu pelabuhan Priok.

Adapun optimaliasi fasilitas depo empty,dijadwalkan implementasi pada minggu ketiga Juni 2019, agar terminal peti kemas tidak menjadi tempat menungu truk menuju ke depo.

Untuk implementasi TBRC dijadwalkan rencana aksi pada minggu keempat Juli 2019,agar ada kepastian pengangkut maupun memonitor barang dan trucking di pelabuhan Priok.

Rencana aksi menyangkut clossing time dijadwalkan pada minggu kedua Juni 2019, untuk mengurangi jumlah antrian truk menuju Priok demi kelancaran lalu lintas di jalan raya.

Sedangkan manajemen rekayasa lalu lintas dan skema antrian dalam terminal pelabuhan dijadwalkan rencana aksi pada minggu keempat Juni 2019, yang bertujuan mengubah jadwal pelayaran dan volume kepadatan kendaraan dipelabuhan dari akhir minggu menjadi awal minggu.

Respon Pebisnis

Menanggapi adanya rekomendasi rencana aksi BPTJ itu, Sekretaris Umum DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan, untuk yang berkaitan dengan TBRC dan Clossing Time semestiya dilakukan kajian mendalam dan pelibatan stakeholder dalam hal ini pemilik barang/pengguna jasa.

“Sebelum rekomendasi dikeluarkan mestinya ada kajian suatu kebijakannya terlebih dahulu soal TBRC dan clossing time,” ujarnya, di Jakarta, pada Rabu (12/6/2019),dikutip dari beritakapal.com.

Adil mengatakan pelibatan stakeholders untuk implementasi terminal booking and trucking system (TBRC) sudah semestinya melibatkan pemilik barang yang diwakili Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI), maupun ALFI dan seluruh pengelola terminal peti kemas di pelabuhan Priok.

“Ini supaya pada saat implementasi dapat dilaksanakan dengan baik, dan rekomendasi yang disodorkan ke Menhub tidak salah sasaran,”paparnya.

Menurut Adil, jika berbicara terminal booking terminal system dari jaman Dirut Pelindo II masih di jabat RJ Lino, sudah mulai dibicarakan bahkan ALFI telah melakukan study banding ke Port Botani Sydney Auustralia, prihal implementasi TBRC itu.

“Sejak awal kami katakan jika akan dilakukan penerapan booking terminal system maka Pelindo II harus mempersiapkan buffer area disisi barat dan timur pelabuhan dan terminal juga harus melaksanakan service level agrement (SLA) dan service level guarante (SLG) secara transparan supaya tidak ada yang dirugikan karena menyangkut ekspor impor,”ucap Adil.

Sedangkan yang berhubungan dengan clossing time atau batas akhir waktu pengapalan di pelabuhan, pada perinsipnya mengikuti jadwal pelayaran karena pelabuhan kita adalah port of destination.

Oleh karennya, ALFI menilai alangkah bijaksananya jika yang mengusulkan rekomendasi kepada Menhub menyangkut kemacetan Priok adalah Kantor Otoritas Pelabuhan karena sebagai wakil pemerintah.

Rekomendasi itu, imbuhnya, hendaknya bukan dikeluarkan oleh BPTJ karena kalau dikaitkan dengan kemacetan Jakarta, kurang tepat lantaran arus barang ekspor impor lebih kurang 70% arahnya ke area timur pelabuhan mulai Bekasi hingga Cikampek dansekitarnya.

Adil mengatakan, dari sisi pebisnis, justru mengingingkan dilakukan kembali kajian ganjil genap agar dapat dilaksanakan 24 jam bagi mobil pribadi di Jakarta, namun khusus trucking angkutan barang ekspor impor tidak diwajibkan ikutin ganjil genap supaya ekonomi terus berjalan dengan baik serta ada aturan yang tegas pada jalur tol.(ri)

Sidang IMO Tetapkan Pemisahan Alur Laut Selat Sunda & Selat Lombok Berlaku Juni 2020

LONDON – Bagan pemisahan alur laut atau Traffic Seperation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok resmi diberlakukan secara penuh di bulan Juni 2020 menyusul hasil sidang International Maritime Organization (IMO) Maritime Safety Committee (MSC) ke 101 yang berlangsung di Markas Besar IMO, London Inggris, Senin (10/6/2019).

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo selaku Head of Delegation (HoD) Indonesia dalam sidang IMO MSC ke 101 tersebut mengungkapkan rasa bersyukurnya atas diadopsinya proposal TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok oleh IMO setelah sebelumnya selama dua tahun lebih Indonesia memperjuangkan proposal tersebut.

“Alhamdulillah, pada agenda 11 sidang IMO MSC ke 101 ini, secara resmi IMO mengadopsi proposal TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok yang akan diberlakukan 1 tahun kedepan, tepatnya di bulan Juni 2020,” ujar Dirjen Agus di London, Inggris (10/6).

Dengan demikian, Indonesia menjadi negara kepulauan (archipelagic state) pertama di dunia yang memiliki bagan pemisahan alur laut atau Traffic Separation Scheme (TSS) di alur laut kepulauan Indonesia.

Dirjen Agus mengatakan bahwa perjuangan Indonesia dari sejak persiapan, pengusulan proposal TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok hingga akhirnya diadopsi dalam Sidang IMO MSC ke 101 tentunya bukan hal yang mudah dicapai karena perjalanan Indonesia dalam mengawal dari mengusulkan proposal TSS kepada IMO hingga diimplementasikan sangat panjang.

Perjalanan panjang selama lebih dua tahun untuk melakukan persiapan melalui tahapan-tahapan yang tidak mudah dan menyita perhatian serta waktu yang lama untuk pengajuan proposal TSS Selat Sunda dan Selat Lombok ke IMO merupakan bukti keseriusan Indonesia untuk berperan aktif di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran dunia serta perlindungan lingkungan maritim khususnya di wilayah perairan Indonesia.

Dirjen Agus menjelaskan bahwa sebelumnya Indonesia bersama Malaysia dan Singapura telah memiliki TSS di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Namun TSS di Selat Malaka dan Selat Singapura tersebut berbeda pengaturannya mengingat dimiliki oleh tiga negara sedangkan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok hanya Indonesia yang memiliki wewenang untuk pengaturannya.

Negara Kepulauan

Hal ini yang menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan pertama di dunia yang memiliki TSS melalui pengesahan oleh IMO dan berada di dalam ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) I dan ALKI II.

“Indonesia bersama Fiji, Papua Nugini, Bahama, dan Filipina merupakan lima negara berdaulat yang tertuang dalam UNCLOS 1982 sebagai negara yang memenuhi syarat sebagai negara kepulauan,” jelas Dirjen Agus.

Terkait dengan ALKI, Dirjen Agus mengatakan bahwa ALKI merupakan alur laut di wilayah perairan Indonesia yang bebas dilayari oleh kapal – kapal internasional (freedom to passage) sebagaimana yang tertuang dalam UNCLOS 1982.

“Sehingga dengan dipercayainya Indonesia oleh IMO untuk mengatur TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok yang juga merupakan ALKI tersebut menunjukan peran aktif Indonesia dalam bidang keselamatan dan keamanan pelayaran internasional serta memperkuat jati diri Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” ujarnya.

Dirjen Agus mengatakan bahwa dengan hasil Sidang IMO MSC ke-101 memutuskan untuk mengadopsi TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok tentunya akan menjadi bekal dan prestasi Indonesia dalam upaya pencalonan kembali Indonesia sebagai negara anggota Dewan Council IMO kategori C untuk periode 2019 s/d 2020 melalui sidang Majelis / Assembly IMO Assembly pada bulan November-Desember 2019.

Dia juga mengingatkan agar setelah nanti TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok tersebut resmi diadopsi dalam sidang IMO MSC ke-101, tugas berat telah menanti untuk diselesaikan Indonesia mengingat IMO terus memonitor pelaksanaan dan implementasi TSS di kedua selat tersebut.

“Pemerintah Indonesia masih memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan, antara lain melakukan pemenuhan sarana dan prasarana penunjang keselamatan pelayaran di area TSS yang telah ditetapkan, meliputi Vessel Traffic Services (VTS), Stasiun Radio Pantai (SROP),dan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP).

Selain itu, SDM Pengelola Stasiun VTS, serta peta elektronik yang terkini dan menjamin operasional dari perangkat-perangkat penunjang keselamatan pelayaran tersebut selama 24 jam 7 hari.

Dirjen Agus menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia juga wajib mempersiapkan regulasi, baik lokal maupun nasional terkait dengan operasional maupun urusan teknis dalam rangka menunjang keselamatan pelayaran di TSS yang telah ditetapkan, serta melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan para instansi dan stakeholder terkait dengan penetapan TSS tersebut.

Pada kesempatan ini, Dirjen Agus menyampaikan terima kasih atas dukungan instansi dan stakeholder terkait sehingga proposal TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok diadopsi dalam sidang IMO MSC ke-101.

“Perjuangan Indonesia belum berakhir. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik agar pelaksanaan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok berjalan dengan baik,” ucapnya.

Hadir sebagai anggota delegasi Indonesia pada sidang IMO MSC ke 101 adalah perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Maritim, Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Komunikasi dan Informatika, TNI AL, Badan Keamanan Laut, PT. Pelindo II, PT. Pelni, PT.BKI, INSA dan KBRI di London serta Atase Perhubungan di London.(ri)

ALFI Dorong Kerjasama Global Digitalisasi Logistik

Ketua Umum DPP ALFI Yukki N.Hanafi

JAKARTA – Perkembangan industri yang memasuki era 4.0, digitalisasi dan logistik menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan, dengan perkembangan itu, cepat atau lambat digitalisasi telah merambah ke semua lini dan salah satunya adalah logistik.

Saat ini kesiapan ALFI untuk menyongsong era industry 4.0, dengan dua hal. Pertama, menyiapkan sumber daya manusianya dengan berbagai pelatihan melalui ALFI institute.

Kedua, ALFI telah melakukan pengembangan digitalisasi Smart Logistics yang dibangun dalam Website ALFI (ilfa.or.id) dan pengembangan tersebut telah dilakukan secara bertahap.

Saat ini,imbuhnya, modul yang siap adalah modul impor, ekspor, track and trace, yang telah mencakup lebih dari 150 negara, selanjutnya pengembangan rantai pasok sampai dengan ke last mile delivery.

Yukki mengatakan, pada tahap awal Track and Trace yang saat ini dikembangkan tentunya meliputi transport laut, darat dan udara, karena pergerakan arus barang tidak hanya melalui jalur laut saja.

“Selanjutnya kita kembangkan di IoT, pergudangan, depo dan data exchange (pertukaran data), tak lupa sektor Perbankan untuk menunjang Trade Financing,” papar Yukki juga Chairman Asean Freight Forwarder Association.

Yukki juga menambahkan bahwa, ALFI saat ini sedang dalam proses menjalin kerjasama global baik kerjasama platform teknologi, maupun communities network, dimulai dari tingkat ASEAN, beberapa Negara Timur Tengah, USA, Jepang, Canada, China dan Amerika Latin.

Tren Otomatisasi

Kerjasama tersebut meliputi teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber dan merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data, termasuk cyber-fisik, Internet of Things (IoT), komputasi awan (cloud-based) dan komputasi kognitif (cognitive computing, self-learning system) dan tentunya community-based, di mana outputnya akan tercipta kolaborasi global dan kemudahan bisnis proses logistik bagi para anggota ALFI.

Tahap awal sosialisasi tersebut di atas akan dilaksanakan setidaknya di lima wilayah DPW ALFI meliputi, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar dan Belawan. Yukki optimis bahwa target integrasi global platform ini bisa terlaksana di quarter ketiga 2019.

Yukki mengatakan, dalam konteks platfrom digital ini, bisnis yang tumbuh harus mencari sesuatu yang berbeda bukan sekedar menjadi lebih baik dan bicara digitalisasi, yang perlu di antisipiasi baik dalam dunia pelayaran dan logistik adalah kecepatan untuk beradaptasi dan agilitas serta transparansi dalam proses internal dan eksternal.

Menurutnya, ALFI yang saat ini mengembangkan Rantai Pasok Berbasis Digital guna meningkatkan Daya Saing agar dapat menuju Indonesia yang kompetitif, dinamis dan inovatif, tentunya tidak bisa bergerak sendiri, dibutuhkan kolaborasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Menurutnya, pembangunan kolaborasi digital platform ini juga meliputi fitur-fitur seperti global manifest, cross border trade connectivity, dan supply chain service orchestration sehingga ALFI ditargetkan menjadi Trade Facilitator, community network di ASEAN, beberapa Negara Timur Tengah, USA, Jepang, Canada, China dan Amerika Latin.(ri)

Penyiapan Infrastruktur Efektif Tekan Biaya Logistik

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa untuk tahun 2020 mendatang pemerintah sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp200 triliun untuk belanja modal dan termasuk didalamnya infrastruktur.

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus mengatakan sejatinya kebijakan infrastruktur harus tetap dilanjutkan.

Pasalnya infrastruktur dinilai terbukti efektif dalam menurunkan angka ketimpangan diberbagai daerah.

Namun disisi lain,Ahmad Heri menjelaskan kebijakan dibidang infrastruktur  pemerintah bisa lebih selektif dalam membangun infrastruktur diberbagai daerah berdasarkan potensi daerahnya masing-masing.

Menurutnya infrastruktur terbukti mampu meningkatkan produktivitas di sektor riil, disamping mengurangi biaya logistik transportasi dan mengurangi pemerataan.

“Kebijakan infrastruktur perlu tetap berjalan dengan lebih selektif dan berorientasi terhadap peningkatan produktivitas sektor riil. Misalnya infrastruktur yang benar-benar bisa mengurangi biaya logistik, transportasi, infrastruktur industri untuk menambah daya tarik investor,” katanya, baru-baru ini.

Selain dibidang infrastruktur, Heri menilai kebijakan untuk meningkatkan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi janji Presiden Jokowi harus menjadi program prioritas pemerintah di periode kedua ini.

“Selain kebijakan infrastruktur, perlu dibarengi dengan kebijakan yang all out dan menyeluruh untuk pembangunan SDM dan tenaga kerja,” tuturnya.

Konektivitas

Chairman Asean Federation of Forwarders Associations (AFFA), Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan RI sudah membuka konektivitas logistik global dimana aliansi tersebut akan menjadi platform untuk kerjasama bisnis dan investasi, dimana anggota AFFA dapat menjalin kontak dan mengeksplorasi peluang bisnis yang tersedia.

“Juga dapat menikmati skema insentif  yang disediakan oleh Pemerintah Tiongkok, dalam hal ini Guangxi Daerah Otonomi Zhuang dan Pemerintah Kota Nanning,”ujar Yukki,

Menurutnya, AFFA telah sepakat untuk membuka kantor perwakilan di Guangxi sebagai dukungan layanan administratif dan konsultasi untuk aplikasi bisnis dan pendaftaran perusahaan bagi para anggotanya. Hal ini sekaligus sebuah momen yang  strategis dan historis antara kedua wilayah.(ri)

ALFI Minta Pembayaran Tarif Progresif Selama Libur Lebaran, Dilayani Manual

Widijanto Ketua DPW ALFI DKI Jakarta

JAKARTA – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mendesak pembayaran sewa tarif penumpukan peti kemas di terminal peti kemas dilakukan secara manual selama masa libur Lebaran.

Ketua DPW ALFI DKI Jakarta, Widijanto mengatakan, pembayaran manual dapat dilakukan melalui loket pembayaran selama musim libur Lebaran untuk menghindari adanya restitusi yang disebabkan biaya penumpukan progresif.

“Karena dengan adanya restitusi itu pengursannya sulit, memakan waktu berbulan-bulan bahkan kalaupun dibayarkan (restitusinya) besarannya tidak sesuai dengan nominal yang sebenarnya,”ujar Widijanto.

ALFI berharap, kesepakatan penyedia dan pengguna jasa mengenai pembebasan tarif progresif peti kemas selama masa Libur Lebaran dapat ditaati oleh semua pengelola terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok.

Intinya, kata Widijanto selama masa libur Lebaran, terhadap peti kemas impor yang menumpuk di terminal peti kemas pelabuhan Priok tidak dikenakan tarif progresif, tetapi hanya berlaku tarif reguler/tarif dasar yang berlaku satu hari.

Saat ini, di pelabuhan Priok terdapat lima fasilitas terminal peti kemas ekspor impor yakni: Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, New Priok Container One (NPCT-1), Terminal Mustika Alam Lestari (MAL), dan Terminal 3 Tanjung Priok.

Widijanto menghrapkan, Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dapat mengawasi kesepakatan tidak berlakunya tarif progresif terhadap kegiatan penumpukan peti kemas selama masa Libur Lebaran.(ri)

RPX Tawarkan Layanan One Stop Logistic

JAKARTA – Perusahan jasa logistik RPX menawarkan pelayanan one
stop logistic guna menjawab kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan pengiriman barang yang aman dan cepat.

Bahkan seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan tehnologi RPX pun kini mencoba untuk melayani e-commerce.

RPX yang telah hadir di Indonesia selama 30 tahun telah berpengalaman dalam memanfaatkan penggunaan tehnologi modern untuk mentransformasi pengiriman, baik di dalam negeri maupun luar negeri sehingga menjadi efisien dan fleksibel.

“Selama ini 30 tahun kami memang kebanyakan melayani internasional. Tapi secara tak langsung kita sebenarnya sudah lakukan domestik dulu sebelum keluar negeri,” ujar Eko Marhendro Nugroho Vice President Expres, RPX Group dalam bincang-bincang dengan wartawan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Melalui konsep one stop logistics, RPX memberika terobosan baru yang merupakan wujud dari kesiapan dalam melayani bisnis dan konsumen.

Sembilan unit usaha terintegrasi milik RPX meliputi e-commerce, logistic warehouse (pergudangan), international express (pengiriman luar negeri), domestic express (pengiriman dalam negeri), freight fowarding (pengiriman dengan kapal laut).

Kemudian, custom clearance (penyelesaian dan pengurusan berbagai dokumen administrasi, biaya pajak dan hal terkait lainnya atas suatu barang ekspor ataupun barang impor), warehouse transit (gudang untuk penyimpanan sementara), distribution (dengan armada Truk dari berbagai ukuran), enabler, last mile delivery (pengiriman pada hari yang sama).

Menurut Eko, kebutuhan logistik bisnis e-commerce saat ini semakin kompleks sehingga tidak hanya membutuhkan layanan logistik terintergrasi.

“Bahkan saat ini RPX juga menyediakan layanan customer service selama 24 jam melalui chat,”ucapnya.(ri)

RI Buka Jalur Alternatif Konektivitas Logistik Global

SINGAPURA – Chairman Asean Federation of Forwarders Associations (AFFA), Yukki Nugrahawan Hanafi, meyakini aliansi tersebut akan menjadi platform untuk kerjasama bisnis dan investasi, dimana anggota AFFA dapat menjalin kontak dan mengeksplorasi peluang bisnis yang tersedia.

“Juga dapat menikmati skema insentif  yang disediakan oleh Pemerintah Tiongkok, dalam hal ini Guangxi Daerah Otonomi Zhuang dan Pemerintah Kota Nanning,”ujar Yukki, pada Senin (13/5/2019).

Menurutnya, AFFA telah sepakat untuk membuka kantor perwakilan di Guangxi sebagai dukungan layanan administratif dan konsultasi untuk aplikasi bisnis dan pendaftaran perusahaan bagi para anggotanya. Hal ini sekaligus sebuah momen yang  strategis dan historis antara kedua wilayah.

Yukki juga telah menyampaikan pernyataannya tersebut melalui wawancara singkat selama Forum Bisnis China-Asean yang digelar di Mandarin Orchard Hotel di Singapore pada hari ini, Senin 13-Mei 2019.

Dikatakan Yukki, pada September 2018, Asean Federation of Forwarders Associations (AFFA), Federasi Logistik & Pembelian Cina (CFLP) dan Kamar Dagang Internasional Cina (CCOIC Guangxi), Nanning Internasional Logistics Park China-Singapura (CSILP) menandatangani MOU untuk Pembentukan Aliansi Transportasi Multimodal China – Asean, bertepatan dengan KTT Investasi Bisnis Asean (CABIS) ke 15 Tiongkok.

Guangxi, sebagai pintu gerbang utama belt and road initiative (BRI) dan koridor darat-laut baru di China barat yang menghubungkan negara-negara Asean, dan mempromosikan pembangunan ekonomi regional melalui sistem transportasi multimoda.

Yukki mengungkapkan, aliansi itu akan memperkuat perdagangan multilateral dalam bidang logistik dan rantai pasokan, yang membuka babak baru kerja sama transportasi multimoda China-Asean sebagai bentuk kontribusi  signifikan pada BRI dan koridor darat-laut baru.

“Aliansi akan memainkan peran penting sebagai platform untuk memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan antara China dan negara-negara Asean dan memungkinkan pembagian sumber daya di kawasan,” papar Yukki.

Pada pertemua itu, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) turut diundang sekaligus mewakili sektor logistik di Indonesia.

ALFI termasuk di antara undangan dari sepuluh negara Asean mewakili sektor logistik yang diakui sebagai operator transportasi multimoda di kawasan.

Wakil Ketua Umum DPP ALFI, Iman Gandi, juga telah menandatangani kesepakatan bersama (MoU) dengan CSILP dan Otoritas Provinsi Guangxi terkait aliansi transportasi multimodal.

Partisipasi ALFI dalam BRI,  terutama Nanning, merupakan langkah penting bagi pemain logistik dan produk unggulan nasional untuk memiliki koneksi alternatif transportasi multimoda melalui hub di wilayah barat China.

“Kami percaya ada banyak peluang bisnis yang luar biasa antara China dan Indonesia, oleh karena itu ALFI akan terus mengikuti perkembangan dan mengambil bagian dalam BRI ini,” ucap Iman Gandi.(ri)

Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia – DKI Jakarta Raya